Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Harus Kuat


__ADS_3

Tidak peduli seberapa banyak Tiffany meminta maaf. Wanita itu dengan Arogan masih terus menghina Tiffany. Bahkan Tiffany permalukan di depan umum dan di depan banyak orang.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sana?" Luca yang baru saja datang tertarik karena kerumunan orang-orang.


Laki-laki itu berjalan cepat supaya sampai di lokasi orang-orang berkumpul. Para karyawan Luca yang mengenalinya sebagai seorang presiden utama di perusahaan itu memberi jalan. Sontak saja kedua mata membulat saat ia melihat Tiffany membersihkan lantai yang terdapat bekas minuman dengan menggunakan jaketnya.


"Apa yang kau lakukan?" Luca segera menarik tangan Tiffany untuk bangun dari duduknya yang bersimpuh di lantai.


Tiffany menundukkan kepalanya lantaran malu. Wanita itu tidak berani mengangkat wajahnya dan menatap Luca.


"Katakan padaku apa yang terjadi!" Luca membentak semua orang. Termasuk pada wanita yang sudah mempermalukan Tiffany.


"Dia menabrak saya tuan. Jadi saya memintanya untuk membersihkan lantai." Wanita itu menjelaskan dengan nada yang dibuat-buat. Membuat Luca semakin marah ketika ia sudah mendengarkan penjelasan itu.


"Apakah itu benar?" Luca membenarkan rambut Tiffany.


Ia bahkan menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Tiffany. Pemandangan itu cukup mengejutkan bagi semua orang. Mereka tidak menyangka kalau orang baru yang berstatus sebagai office girl ternyata memiliki kedekatan dengan Luca.


"A-aku tidak sengaja, Tuan Luca." Tiffany menjawab dengan gugup. Wanita itu takut sekali.


"Aku tidak akan tinggal diam jika ada karyawan yang bersikap arogan! Jangan dipikir ini hutan! Karena ini perusahaan yang sudah aku bngun dengan susah payah! Mengapa kalian tidak bisa saling menghargai ha?" Suara Luca terdengar menggelegar.


Semua karyawan menundukkan kepalanya. Mereka tidak ada yang berani untuk hanya sekedar mengangkat wajahnya. Sebelumnya, mereka tidak pernah melihat presdir mereka memperhatikan karyawan. Apalagi hanya office girl.


"Kalian jangan sampai berbuat onar di perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh orang lain! Apakah karena dia hanya seorang petugas kebersihan kalian memiliki hak untuk memperlakukannya seperti ini? Aku tanya, sekali lagi apa kau boss di perusahaan ini, Nona?" Pandangan mata Luca beralih pada wanita yang sudah menyuruh Tiffany membersihkan lantai dengan jaketnya. Semua orang menunggu jawaban si wanita itu dengan hati berdebar.

__ADS_1


"Hei! Kenapa kau malah diam saja? Cepat jawab!" bentak Luca.


"Sa-saya …" Wanita itu terus menundukkan kepalanya. Keringat dingin membasahi tubuhnya.


"Ada apa?" Joni yang baru saja tiba sambil menenteng tas kerja Luca itu bertanya pada salah satu karyawan laki-laki.


"Anu, itu Tuan Luca marah. Karena si Sisil memarahi anak baru. Kan hari ini ada pegawai office girl yang baru. Bos Joni, itu mah sudah jadi karma. Sisil memang selama ini selalu membuat ulah. Mentang-mentang di resepsionis yang paling kece di perusahaan ini." Karyawan itu membeberkan tingkah wanita yang bernama Sisil itu.


Mendengar penjelasan tersebut, Joni menganggukkan kepala. Ia tahu mengapa Luca bisa semarah itu. Sebab yang menjadi korban pembulian hari ini adalah Tiffany.


"Tidak heran kalau itu Nyonya Tiffany. Wanita yang sebentar lagi akan diumumkan sebagai wanita Tuan Luca. Aku tidak heran. Tapi, melihat juga tidak apa-apa kan? Aku juga tidak ikut campur," kata Joni dalam hati.


"Joni!" Tiba-tiba saja Luca memanggil Joni.


"Eh? Kok aku?" Joni pun buru-buru pergi menuju Luca berada.


"Tuan Luca tolong saya. Tolong jangan pecat saya! Tuan! Tuan Luca!" Wanita itu terus berteriak. Tapi Luca terus berjalan menarik tangan Tiffany untuk segera pergi dari tempat itu. Kerumunan itu perlahan bubar.


"Tuan Joni, tolong jangan pecat saya! Ampuni saya, Tuan Joni. Saya yakin anda memiliki hati yang baik." Sisil terus memohon pads Joni. Sedangkan Joni berekspresi datar.


"Kau terlalu bodoh untuk mengusik kemarahan orang. Kemasi barangmu dan angkat kaki dari perusahaan ini. Jangan pernah berharap pesangon. Kau sangat arogan!" Joni melangkahkan kakinya pergi meninggalkan wanita yang sudah menghina Tiffany.


Luca terus membawa Tiffany masuk ke dalam ruangannya. Laki-laki itu pun mendudukkan Tiffany di sofa yang panjang yang ada di sana. Kemudian Luca membawakan Tiffany segelas air putih supaya Tiffany merasa tenang.


"Jika kau bersedih Aku akan diomelin Quinn. Jadi kau Jangan berpikir aneh-aneh." Luca memberikan segelas air putih untuk Tiffany.

__ADS_1


Sambil dia mengatakan bahwa Tiffany tidak boleh berpikiran buruk kepadanya. dengan tangan yang gemetar di Tiffany mengambil gelas tersebut dari tangan Luca.


"Apakah dia sangat ketakutan setelah dipermalukan di depan umum seperti itu?" Luca membanting dalam hati.


Ia merasa sedih melihat wanita yang sudah mengandung putrinya itu harus dipermalukan di depan umum. Namun, Luca tidak pandai menghibur wanita.


"Terima kasih Tuan Luca. Anda sudah menyelamatkan saya." Tiffany mengukir senyuman terpaksa.


Wanita itu sangat kaku di tempatnya. Karena seumur hidupnya ia tidak pernah berada di seorang pemimpin perusahaan. Tiffany tidak mampu bergerak satu senti pun. Wanita itu takut merusak sofa yang didudukinya.


"Apa setelah ini kau akan keluar dari perusahaanku?" Tiba-tiba saja Luca terpikir tentang hal itu.


Ia takut Tiffany akan pergi dari perusahaannya. Kalau sampai itu terjadi maka hubungannya dengan Tiffany sedikit berjarak.


Namun alih-alih Tiffany akan pergi dari perusahaannya ternyata Tiffany malah menggelengkan kepalanya. Akhirnya membuat Luca sedikit lega. Padahal Luca baru saja bermimpi bisa mendapatkan hati Tiffany.


"Saya akan bertahan di tempat ini. Jadi Tuan Luca Jangan berpikir kalau saya akan pergi dari sini. Anda sudah memberikan saya jalan rezeki anda. Saya tidak mungkin menyia-nyiakan semua yang sudah anda lakukan untuk saya dan Queen. Demi Queen saya harus lebih kuat lagi. ini merupakan pengalaman pertama saya bekerja di perusahaan besar walaupun hanya sebagai pegawai kebersihan. Tapi setidaknya saya bisa mendapatkan uang secara teratur setiap bulan." Tiffany menjelaskan kepada Luca apa yang menjadi kebanggaannya.


"Benar. Kau harus kuat. Setidaknya kau harus kuat demi putrimu. Juga, aku ingin terus mendekat padamu. Tiffany, aku ingin kita menjadi keluarga kecil yang akan saling menguatkan satu sama lain. Sampai saat itu tiba, tolong berproseslah supaya kau mampu memantaskan dirimu sebagai pendampingku." Luca bermonolog dalam hati.


"Saya sudah memecat wanita itu Tuan luka." Joni masuk ke dalam ruangan Luca.Kemudian Joni memberikan tas kepada Luca.


"Anda memecat wanita itu Tuan Luca?" Tiffany terkejut bukan main. Rupanya Luca tidak main-main dengan perkataannya.


"Aku tidak suka apabila karyawanku terlalu bossy. Kau tahu apa maksudku? Itu merupakan kebiasaan yang buruk. Jangan memaklumi semua tindakan buruk walaupun itu sepele," terang Luca.

__ADS_1


"Sekarang pergilah bekerja, Tiffany. Jangan terlalu mencemaskan orang lain. Ingat, kau harus memikirkan Quinn dibandingkan orang lain!" Luca memberikan nasehat kepada Tiffany.


"Ya, anda benar. Terima kasih Tuan Luca."


__ADS_2