
"Brox! Bagaimana keadaan Quinn? Mengapa bisa terjadi kecelakaan? Apa yang sebenarnya kau lakukan ha? Aku menempatkanmu di posisi itu karena kau yang paling bisa kuandalkan! Tapi, apa ini? Apa ha?" Luca langsung menarik kerah leher Brox. Membuat Brox sedikit susah bernapas.
Meski begitu Brox tidak protes. Laki-laki itu tetap diam. Rasa bersalahnya membumbung tinggi. Brox tahu bila Luca tidak akan melepaskannya.
"Jawab, Brox!" Luca membentak Brox yang masih diam.
"Seorang wanita menculik Nona Quinn dan langsung membawanya masuk ke dalam mobil. Saya sudah mencoba untuk mengejarnya, Tuan. Tapi…" Brox tak melanjutkan kata-katanya. Lidahnya terlalu kelu untuk menjawab.
"Katakan, Brox!" bentak Luca sekali lagi.
Bersamaan dengan itu pula, Tiffany berlari setelah ia mendengar kabar tentang Quinn. Wanita itu berlari dengan sekuat tenaga setelah ia melihat Luca dan Brox bertengkar.
"Tuan Luca! Tuan Luca!" Tiffany memanggil Luca berulang kali. Sampai wanita itu kini berada tepat di depan dua orang laki-laki yang tegang itu.
"Apa yang terjadi dengan Quinn? Bagaimana keadaannya? Mengapa Quinn bisa kecelakaan?" berondong Tiffany.
__ADS_1
Saat Tiffany bertanya, Luca maupun Brox tidak ada yang menjawab. Keduanya masih saja berada di tempatnya semula.
"Tuan Luca, lepaskan dia! Sekarang jawab pertanyaanku! Kenapa Quinn bisa mengalami kecelakaan?" Tiffany tak mampu menyembunyikan rasa panik dan khawatirnya.
"Seorang wanita tiba-tiba saja membawa Nona Quinn. Tepat saat Nona Quinn baru saja keluar dari kelas. Keadaannya sangat cepat, Nyonya Tiffany. Maafkan saya. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengejar mobil itu. Tapi, wanita itu seperti kesetanan. Saya pikir kalaupun itu saingan bisnis Tuan Luca tidak mungkin. Sebab mereka tidak mungkin melakukannya secara terang-terangan. Maksud saya setidaknya memberikan obat bius yang akan membuat Nona Quinn tidak sadar diri. Jika tidak salah, mungkin saja orang itu memiliki dendam terhadap Nyonya Tiffany," jelas Brox panjang.
Tubuh Tiffany membeku. Aliran darah seolah berhenti seketika. Tubuh Tiffany melorot jatuh ke lantai tak berdaya. Dalam otaknya ia tidak pernah memiliki dendam kepada siapapun.
"Apa mungkin itu sahabatmu?" tanya Luca.
Kini Luca sudah melepaskan kerah leher Brox. Membuat Brox terbatuk beberapa kali karena sebelumnya tidak leluasa bernapas. Walaupun seperti itu, Brox kembali berdiri tegap. Laki-laki itu sesekali meringis kesakitan.
"Brox mengatakan wanita itu seperti kesetanan," imbuh Luca.
"Ya, Nyonya. Wanita itu terburu-buru sekali membawa mobil. Kecepatannya pun tidak main-main. Tapi, wajahnya sedikit pucat. Tubuhnya proporsional. Dari sorot mata saya bisa merasakan dia membenci Nona Quinn," pungkas Brox.
__ADS_1
Tiffany tiba-tiba berdiri. Ia mulai mengingat sesuatu. "Sera? Tuan Luca, jangan-jangan wanita itu Sera! Istri Dante!"
"Maksudmu wanita yang pernah melabrakmu di sekolahan Quinn?" tanya Luca.
"Ya! Itu dia, Tuan Luca! Aku yakin dia yang ingin mencelakai Quinn! Dia memang memiliki rasa benci padaku!" Tiffany menjawab dengan tangisan. Ia baru sadar bahwa Sera sangat membencinya.
Ceklek.
"Nyonya Tiffany, mohon maaf kebetulan darah yang sesuai dengan Nona Quinn sedang kosong. Ini semua akan semakin sulit untuk dilalui Nona Quinn karena membutuhkan secepatnya," jelas Dokter Arini.
"Golongan darah Quinn apa, Dok? Anda bisa mengambilnya dari darah saya!" Tiffany menawarkan diri.
"Kebetulan golongan darah Nona Quinn ini terhitung golongan darah yang langka. Apakah golongan darah Anda AB negatif, Nyonya?" tanya Dokter Arini.
Tiffany tercenung. Ia tak lagi bersemangat. Itu bukan golongan darahnya. Mungkinkah golongan darah Quinn setipe dengan golongan darah ayah kandung Quinn? Tiffany semakin pusing.
__ADS_1
"Ambil darah saya, Dok. Kebetulan golongan darah saya AB negatif!" Luca menggeser tubuh Tiffany. Lalu ia menyodorkan tangannya di depan Dokter Arini.
"Apa?" Tiffany terkejut bukan main ketika Luca menawarkan diri.