
Setelah selesai mengganti pakaian, kemudian Luca pun segera kembali pada Tiffany yang saat ini sedang menunggui Quinn yang sedang bermain bom-bom car di salah satu wahana di sana.
“Bagaimana?“ tanya Luca sembari menunjukkan tampilan barunya pada Tiffany.
Seketika Tiffany pun menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Iya mencoba menahan rasa menggelitik di perutnya ketika melihat Luca memasukkan kaos tersebut ke dalam celananya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penampilan itu, ia merasa geli karena melihat bagaimana tidak terbiasanya Luca dengan semua hal itu.
“Kenapa, apa ada yang salah?“ tanya Luca.
“Tidak ada,” sahut Tiffany dengan cepat.
“Lalu kenapa kamu tertawa?“
“Tidak tidak, hanya saja sekarang aku tahu apa bedanya orang kelas atas dan orang biasa seperti kami,” jawab Tiffany sembari terkekeh.
Melihat ekspresi lepas Tiffany tersebut Luca pun dengan pelan menyentuh wajah Tiffany, hingga membuat Tiffany terdiam. Mereka berdua saling menatap cukup lama. Bahkan Suara bising yang tadi mengelilingi mereka terasa berangsur-angsur menghilang dan seolah menyisakan keheningan di antara mereka. Hingga ….
“Tif,” panggil Viana dari kejauhan.
Seketika Tiffany pun menoleh dan membuat Luca menarik tangannya. “Vi bagaimana kamu bisa sampai di sini?“ tanyanya ketika sahabatnya itu sudah sampai di depan mereka.
“Tentu saja aku sampai di sini, itu semua berkat tumpangan dari Tuan Joni,” jawab Viana sambil melirik ke arah asisten Luca yang saat ini tengah berdesakan dengan beberapa orang agar sampai ke arah mereka.
Langsung saja Tiffany ikut menatap ke arah Joni. “Jadi kalian bersama datang ke sini?“ tanyanya.
“Jangan tanyakan itu,” sahut Viana sembari menghela napas panjang.
“Sepertinya berat sekali ya,” bisik Tiffany.
Langsung saja Viana menatap tajam ke arah sahabatnya itu. “Ini semua gara-gara kamu. Kamu harus minta maaf padaku dengan tulus,” tuntutnya.
Langsung saja Tiffany terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu. “Baiklah jadi kamu ingin apa? Bakso, soto atau gula-gula?“
Sementara Tiffany dan Viana tengah mengobrol santai sembari sesekali bercanda, kini Luca tengah menatap tajam Joni yang baru saja sampai di depannya.
“Tuan maafkan saya yang terlambat datang,” ucap Joni sembari menundukkan kepalanya.
“Kenapa dia bisa datang kemari,” gerutu Luca di dalam hati.
“Apa yang membuat kamu terlambat?“ tanya Luca seolah melupakan semuanya.
__ADS_1
Seketika Joni mengangkat wajahnya. “Apa Tuan marah karena hal lain? Tidak mungkin dia marah dengan keterlambatanku ini,” batinnya.
Namun tentu saja sebagai bawahan Joni hanya bisa mengalah. “Maafkan saya, Tuan.“
“Bonusmu bulan ini akan kupotong,” ucap Luca sembari mengalihkan pandangannya pada Tiffany yang saat ini sedang tertawa riang ketika bercanda tawa dengan Viana.
Sedangkan Joni saat ini hanya bisa menghala napas panjang dan meratapi nasibnya di dalam hati. “Ah, sebenarnya apa yang membuat Tuan marah,” batinnya.
Setelah lebih dari setengah jam, akhirnya Quinn pun selesai bermain di wahana tersebut. Tiffany pun segera mengusap keringat di kening Putri kecilnya tersebut.
“Apa kamu sudah capek? Bagaimana kalau ki—”
“Apa kamu mau pergi ke rumah hantu?“ sela Luca.
Seketika mata Quinn berbinar mendengar nama wahana yang sudah sejak dulu ingin ia masuki. “Benar Paman, aku boleh masuk ke sana?“
“Tentu saja benar, kenapa tidak?“ sahut Luca dengan santai.
Lalu Quinn pun berganti menoleh ke arah Tiffany. “Tapi Mama itu penakut. Dia selalu tidak memperbolehkanku masuk ke dalam wahana itu,” keluhnya.
“Quinn …,” geram Tiffany.
Tiffany pun langsung melirik tajam ke arah sahabatnya itu.
“Ya maaf, bukankah manusia itu harus selalu berkata jujur? Benarkan Quinn?“ Viana melempar pertanyaan pada Quinn.
“Benar. Manusia itu harus selalu jujur, tidak boleh berbohong karena berbohong itu dosa,” jawab Quinn dengan polosnya.
“Baiklah, tenang saja. Kali ini Paman yang akan melindungi Mama kamu,” ucap Luca sembari mengusap kepala Quinn dengan lembut. “Kamu harus bersenang-senang, mengerti?“
“Mengerti, Paman!“ sahut Quinn dengan penuh semangat.
Sedangkan Viana dan Joni yang mendengar ucapan Luca pun langsung saling memandang. Kini mereka mengerti apa tujuan Luca dan Tiffany datang ke tempat ini. Dan seolah bisa bertelepati tiba-tiba saja mereka berdua saling mengangguk, saling menyetujui sesuatu yang tidak mereka bicarakan.
“Kalau begitu ayo kita segera pergi ke rumah hantu!“ ajak Viana sembari menggenggam tangan Quinn.
“Ayo!“ Teriak Quinn penuh semangat.
Setelah itu Viana pun segera membawa Quinn menuju ke wahana rumah hantu, dengan Joni yang langsung mengikuti Viana dan Quinn. Sedangkan Tiffany kini sedang berjalan beriringan dengan Luca.
__ADS_1
“Eh, kalian mau ke mana?“ teriak Tiffany sembari ingin mempercepat langkahnya, tetapi langsung saja dihentikan dengan cekalan tangan Luca.
“Biarkan saja mereka. Quinn pasti aman dengan Viana dan Joni,” ucap Luca sembari menggenggam erat telapak tangan Tiffany.
Seketika Tiffany pun mengalihkan pandangannya pada Luca. “Apa maksudnya semua ini? Apa dia sedang mengajakku berkencan?“ batinnya.
Setelah beberapa saat melangkah akhirnya Tiffany dan Luca pun masuk ke dalam rumah hantu tersebut. Benar saja, sejak pertama mereka masuk ke dalam area rumah hantu tersebut Tiffany langsung saja memeluk tangan Luca dengan kuat.
“Apa masih banyak hantunya?“ tanya Tiffany yang saat ini terus memejamkan matanya, sembari melangkahkan kaki dengan tangan yang masih memeluk erat tangan Luca.
“Aku pikir Quinn hanya bercanda, ternyata kamu benar-benar ketakutan ya?“ goda Luca.
Langsung saja Tiffany melepas pelukannya dan kemudian membuka matanya. Tepat saat itu terlihat sosok putih terbang di atas mereka.
“Huaa!“ teriak Tiffany ketakutan yang kemudian langsung saja memeluk tubuh Luca dengan erat.
“Hei, itu semua hanya bohongan!“ ucap Luca sembari mengusap-ngusap punggung Tiffany, agar wanita di dalam pelukannya itu menjadi lebih tenang.
“Ah, aku sudah tidak mau di sini. Ayo kita keluar,” rengek Tiffany.
“Tenanglah, kita saat ini sudah berada di tengah-tengah kita tidak mungkin kembali,” ucap Luca sembari terus mencoba menenangkan Tiffany.
“Tapi aku sudah tidak mau di sini. Tolong, bawa aku cepat keluar dari tempat ini,” ucap Tiffany dari terus memeluk erat Luca.
“Baik, kamu tutup mata saja dan terus memelukku. Pelan-pelan kita keluar dari sini, oke?“ Luca sembari mengusap punggung Tiffany dengan pelan.
“Iya,” jawab Tiffany sembari menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Dan begitulah, akhirnya Tiffany lanjut melangkah menuju ke pintu akhir wahana tersebut dengan terus memejamkan matanya dan memeluk Luca sembari mengucap doa-doa tanpa henti. Hingga ….
“Sudah, kita sudah sampai di luar,” ujar Luca.
Seketika Tiffany pun langsung membuka matanya, ia mengarahkan pandangannya ke sekitar dan melihat suasana ramai di sekitar mereka. “Terima kasih ya,” ucap Tiffany sembari sekali lagi memeluk Luca dengan erat.
“Sama-sama,” sahut Luca.
“Eh!“ Tiba-tiba Tiffany sadar dengan apa yang dilakukannya. Ia pun dengan cepat melepaskan pelukannya.
“Ma-ma-maaf,” cicitnya.
__ADS_1
“Tidak ada yang salah, jangan minta maaf,” sahut Luca.