
"Daddy, kita mau cari apa? Quinn mau tidur aja di rumah," ucap Quinn sembari memeluk leher Luca. Anak kecil itu kini ada di gendongan ayah kandungnya. Mereka berada di sebuah mall untuk membeli sesuatu.
"Daddy juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Mommy mengajak kita ke sini." Luca menahan langkah kakinya. "Quinn, dimana Mommy? Bukankah tadi Mommy ada di belakang kita?"
Mereka tidak hanya berduaan saja. Juga ada Tiffany di sana. Hanya saja wanita itu menghilang entah kemana. Kini Luca dan Quinn sedang mencari keberadaannya.
"Mommy?" Quinn memandang ke belakang. Dia mencari ke segala arah. Tatapannya terhenti pada wanita bergaun putih yang kini mengobrol dengan seorang pria. "Dad, itu mommy!" teriak Quinn syok. Dia tidak menyangka kalau Mommynya berani bertemu dengan seorang pria meskipun di sana ada dirinya dan juga Luca.
Luca mengikuti arah yang di tunjuk oleh Quinn. Pria itu menyipitkan kedua matanya. Sejak menikah Luca selalu berpikir dua kali setiap mau ambil tindakan. Dia tidak mau sampai salah paham untuk yang ke sekian kalinya. Seperti yang terjadi hari ini. Luca berusaha untuk berpikir positif dan tidak menuduh Tiffany yang aneh-aneh.
"Quinn, kau tahu apa tugasmu." Luca menurunkan Quinn dari gendongannya. Quinn hanya mengangguk saja sembari mengacungkan jempolnya. Anak kecil itu berlari menghampiri Tiffany. Wajahnya tersenyum ceria.
"MOMMY!" teriak Quinn dengan sengaja agar semua orang yang ada di sana tahu kalau sebenarnya Tiffany sudah memiliki anak dan sudah menikah.
Luca memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Dia merasa telah berhasil mendidik Quinn. Anak kecil itu terlihat sangat keren. "Dia memang putriku. Cepat Quinn, katakan di depan pria itu kalau Daddy menunggu di sini."
Seperti memiliki telepati. Meskipun jelas-jelas Quinn tidak akan mungkin bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Luca. Tetapi bisa-bisanya dia tahu kalimat apa yang seharusnya dia katakan lagi.
"Quinn." Tiffany mengernyitkan dahi melihat putrinya berdiri di sana.
"Mommy, Aku dan Daddy sudah menunggu. Kenapa mommy lama sekali." Quinn memandang ke arah pria yang kini berdiri di depan Quinn. "Paman siapa?" ketus Quinn tidak suka.
"Paman ini teman sekolah Mommy dulu. Kamu tidak sengaja bertemu Quinn," jelas Tiffany apa adanya.
"Paman, senang bertemu dengan anda. Tapi saya harus membawa mommy. Kami akan berbelanja bersama. Tentunya bersama Daddy juga!" tekan Quinn lagi.
__ADS_1
"Anak manis, kau sangat mirip dengan putri Paman. Lain kali kalian harus bertemu. Pasti kalian bisa menjadi teman yang akrab," ujar pria itu sambil tersenyum.
Quinn menyipitkan kedua matanya. "Dia sudah memiliki anak? Dia ini masih memiliki istri atau duda ya?" batin Quinn.
"Rey, aku permisi dulu. Senang bertemu denganmu. Kirim salam sama Isabella," ucap Tiffany.
"Oke. Hati-hati Tiffany."
Tiffany segera menarik Quinn. Dia tahu putrinya akan berulah lagi. Sambil memegang tangan Quinn, Tiffany memandang ke arah Luca yang kini sedang menunggu mereka. Tiffany mengukir senyum manis hingga membuat Luca luluh dan ikut tersenyum.
"Sayang, aku merindukanmu." Luca menarik pinggang Tiffany dan langsung mencium pipi wanita itu. Meskipun Pernikahan mereka sudah berjalan hampir tiga bulan, tetapi setiap harinya mereka terlihat seperti pengantin baru.
Quinn cepat-cepat menutup matanya sendiri. Anak kecil itu tidak mau mengganggu mommy dan Daddynya.
"Quinn, ayo kita pergi." Luca lagi-lagi menggendong Quinn. Pria itu juga menciumnya karena gemas. Sedangkan Tiffany ada di samping Luca. Dia merangkul lengan suaminya sambil tersenyum bahagia.
"Aku tahu," jawab Luca cepat. "Kau pasti setia padaku Tiffany."
Tiffany hanya tersenyum saja. Hingga saat dia memandang ke depan, tanpa sengaja Tiffany menabrak seorang wanita. Belanjaan wanita itu sampai terjatuh ke lantai.
"Maaf maaf," ucap Tiffany merasa bersalah.
Wanita itu juga segera berjongkok memungut belanjaannya. Luca dan Quinn saling memandang tanpa tahu harus bagaimana sekarang.
"Tidak apa-apa," sahut wanita itu. Dia mengangkat kepalanya hingga akhirnya Tiffany dan wanita itu saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
"Sera?" celetuk Tiffany kaget.
Sera mematung melihat Tiffany. Dia segera berdiri sembari memegang barang belanjaannya. "Tiffany?" Sera memandang ke arah Luca. Wanita itu memalingkan wajahnya sejenak. Dia terlihat malu. "Maafkan aku. Tidak seharusnya aku mencelakai putri kalian. Dan ... terima kasih atas pertolongan Tuan Luca. Jika anda tidak menolong saya, mungkin saat ini saya tidak bisa berjalan lagi."
Tiffany menatap tajam ke arah Luca. Dia marah karena ada yang dirahasiakan Luca darinya.
"Aku tidak melakukan apapun. Waktu itu Dokter yang merawatmu adalah orang yang sudah sejak lama mencintaimu. Dia datang dan menawarkan diri untuk merawatmu. Karena dia tidak mau kau curiga, dia menggunakan namaku," jelas Luca agar Tiffany tidak sampai salah paham.
Sera terdiam dengan tatapan haru. Dia tidak menyangka kalau di dunia ini masih ada yang dengan tulus mencintainya. "Benarkah?"
"Kau bisa menemui dia dan menanyakan semuanya secara langsung," ketus Luca dengan wajah jutek.
Sera memandang ke arah Tiffany. Wanita itu memegang tangan Tiffany sambil berusaha tersenyum. "Dante mandul. Itulah yang membuat kau dan aku tidak pernah bisa mengandung anaknya. Setelah bercerai, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Tiffany, aku doakan agar kau dan Tuan Luca hidup bahagia. Aku menyesal karena sudah pernah memusuhimu. Waktu itu aku sangat cemburu." Sera menunduk karena malu.
Tiffany yang memang sangat baik hati segera memeluk Sera sambil tersenyum. "Semua sudah berlalu. Lupakan saja. Aku juga sudah memaafkanmu."
Ponsel Luca tiba-tiba saja berdering. Pria itu mengambil ponselnya di saku. Dia mengernyitkan dahi melihat Brox memanggilnya.
"Ada apa?"
"Bos, kamu berhasil membunuh Diego. Apa anda mau melihat mayatnya?"
Luca tersenyum tipis mendengarnya. Kali ini dia benar-benar puas karena setelah 3 bulan lamanya memburu Diego akhirnya pria itu tertangkap dan berhasil mereka habisi. "Buang saja ke laut," ucap Luca dengan santai sebelum memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.
Tiffany mengernyitkan dahi mendengarnya. Kebetulan memang Sera sudah pergi dari sana. "Ada apa? Apa yang mau di buang ke laut?"
__ADS_1
"Kenangan buruk," sahut Luca asal saja. Dia mengajak istrinya dan putrinya segera pergi dari sana. Sedangkan Tiffany tidak terlalu mempermasalahkannya. Wanita itu sekarang bisa bernapas lega karena pada akhirnya dia dan Sera bisa berteman.
"Padahal waktu itu Sera sempat dikatakan tewas karena kecelakaan. Tetapi Tuhan masih menyayanginya. Dia selamat berkat pertolongan seorang dokter yang mencintainya. Aku harap dia berjodoh dengan Dokter itu," gumam Tiffany di dalam hati.