Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Dimana


__ADS_3

Boom!


Asap pekat membumbung tinggi. Suara ledakan itu menggema memekakkan telinga. Seseorang terburu-buru keluar dari mobilnya. Laki-laki itu panik luar biasa. Disusul oleh beberapa orang yang mengikuti langkah kakinya. Mereka semua membawa racun api untuk memadamkan api yang terlanjur sudah membesar.


"Tuan Luca! Tuan Luca! Saya mohon jawab saya, Tuan Luca! Ini Brox! Saya datang untuk menjemput Anda! Tuan Luca!" Brox tiada henti berteriak mengelukan nama Luca.


Sampai terdengar suara batuk dari seseorang. Brox menyipitkan kedua matanya. Laki-laki itu sontak melebarkan kedua mata ketika melihat siluet tubuh orang dari dalam asap yang tebal.


"Tuan Luca!" seru Brox.


Sontak saja Brox berlari mendekati Luca. Anak buahnya pun menyemprotkan racun api supaya Luca dapat segera terlihat jelas. Begitu Luca terlihat, Brox menjatuhkan tubuhnya supaya mereka berdua sejajar.


"Astaga, Tuan Luca! Syukurlah Anda selamat! Walaupun gosong sedikit setidaknya nyawa Anda masih menempel. Ini, saya kebetulan menyimpan tisu basah. Lumayan untuk menghapus gosong di wajah Anda." Brox memberikan tisu basah pada Luca.


Luca pun menerimanya tanpa banyak bicara. Syukurlah, Luca melompat tepat waktu ketika musuh mengarahkan senjata laras panjangnya ke arah mobil Luca. Jika saja Luca terlambat sedikit, mungkin saat ini Luca sudah menjadi Luca bakar.


"Anda sudah merasa lebih baik, Tuan Luca? Katakan kepada saya jika Anda terluka. Kami akan segera membawa Anda ke rumah sakit terdekat supaya Anda mendapatkan pertolongan," kata Brox.


Luca menggelengkan kepalanya dengan cepat. Laki-laki itu masih belum menjawab Brox. Sebab Luca masih mengatur napasnya yang terengah-engah. Brox pun sabar menanti Luca menjawab semua kalimatnya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil lecet-lecet tidak perlulah ke rumah sakit. Haih, berapa anak buah yang kau bawa?" Luca mendapatkan sebotol air mineral dari salah satu anak buahnya. Dengan cepat, Luca segera menghabiskannya dalam sekali minum.


"Anda bilang saya harus membawa beberapa anak buah. Jadi, saya hanya membawa 50 orang. Apakah masih kurang, Tuan? Saya bisa meminta ke markas. Saya sudah memberikan pesan agar mereka semua waspada bila kapan saja Anda membutuhkan bantuan," jawab Brox.


Luca menarik napas dalam-dalam. Laki- laki itu mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku celananya. Beruntung sekali Luca selalu menyimpan ponselnya di sana. Luca pun memberikan ponselnya pada Brox.


Tentu saja Brox bingung. Namun, Brox tidak ingin membuat Luca marah. Jadi, Brox pun mengamati apa yang sedang ditunjukkan oleh Luca.


"Ya, aku membutuhkan bantuan tambahan. Lacak mobil plat ini **** dan setelah menemukannya katakan padaku. Itu tugas pasukan yang ada di markas. Kemudian kau amati wajah dua orang ini." Setelah Luca menunjukkan foto plat nomor yang ada di ponsel Luca, kini Luca menunjukkan foto Quinn dan Tiffany.


Dahi Brox mengernyit bingung. Tidak biasanya Luca menyimpan foto orang lain selain selca fotonya sendiri. Brox pun memandang tajam ke arah Luca.


Brox yang canggung itu menggaruk lehernya yang tidak gatal. Sebenarnya ia hanya tidak percaya jika Luca bisa memiliki simpati terhadap wanita. Namun, Brox tak berani mengungkapkannya.


"Baiklah. Saya akan mengikuti perintah Anda, Tuan." Brox tidak memiliki pilihan lain. Laki-laki itu menyetujui perintah Luca.


"Brox, siapkan amunisi. Musuh sudah bergerak sampai sejauh ini. Mereka berani bergerak menyentuh orang yang awam terhadap mafia. Jadi, pastikan kita memiliki senjata yang cukup. Aku bersumpah tidak akan membiarkannya lolos!" Luca pun melanjutkan kalimatnya setelah melihat Brox menyelesaikan sambungan telepon.


Luca tampak mengepalkan kedua tangannya. Bahkan tangan Luca memerah lantaran kuatnya kepalan tangan Luca. Brox sadar akan hal itu. Itu artinya dua orang tersebut merupakan orang yang penting bagi Luca.

__ADS_1


"Musuh mana yang sudah bergerak sampai sejauh ini, Tuan?" tanya Brox.


"Diego. Ayo, kita bergerak setelah kau mendapatkan jawaban ke arah mana musuh pergi." Luca bangkit. Tubuh laki-laki itu sedikit sempoyongan. Untungnya dengan cepat Brox menangkap tubuh Luca.


"Hati-hati, Tuan. Anda baru saja mengalami musibah," ucap Brox.


"Jangan khawatirkan aku, Brox. Sekarang bukan ini yang terpenting. Boleh aku membawa mobilmu untuk mengejar mobil musuh?" pinta Luca.


"Tapi, Tuan. Tidakkah Anda istirahat dulu? Anda baru saja lompat dari mobil yang terbakar hebat. Sebaiknya, Anda istirahat sebenar," pesan Brox.


"Jangan memerintahku, Brox! Cepat, mana kuncinya! Berikan padaku! Aku ingin sekali menghancurkan orang-orang biadab itu!" Luca membentak Brox.


"Tapi, Tuan. Kita tidak tahu di mana mereka sekarang," kata Brox.


"Tuan Brox, kita sudah dapat menemukan lokasi musuh! Saat ini mereka berada di pinggiran kota. Saya cek, mereka seperti sedang berada di sebuah mansion yang kosong!" Anak buah Brox datang tergopoh-gopoh untuk menyampaikan informasi Yang baru saja didapatnya.


"Nah! Tunggu apalagi? Ayo kita berangkat ke sana!" Luca dengan lantang memberikan perintah. Hal itu membuat Brox mematung sejenak di tempatnya. Laki-laki itu heran dengan sikap Luca yang berubah. Kini Brox hanya memandangi punggung Luca dan belum bergerak untuk menyusul Luca.


"Sejak kapan dia bisa berubah secepat itu?"

__ADS_1


__ADS_2