
"Kenapa Mommy diam saja? Apa Mommy menganggap sepele hatiku yang sakit? Apa Mommy juga tidak tahu berulang kali aku ingin bertanya tentang keberadaan ayahku, tapi aku selalu sakit melihat Mommy? Sekarang, masihkah Mommy egois?" Kedua mata Quinn berkaca-kaca.
Gadis kecil itu bahkan tidak mau menatap mata Tiffany. Di sisi lain, Luca pun tak berani mendekat. Ia masih belum memiliki keberanian untuk berbicara dengan Quinn. Luca sadar. Saat ini Quinn sedang meluapkan emosinya.
"Quinn, semua tidak seperti itu. Mommy akan menjelaskan dengan pelan-pelan. Jadi…"
"Keluar!" Quinn menunjuk pintu keluar dari ruang rawatnya.
Tubuh Tiffany membeku. Wanita itu hanya mengerjapkan kedua matanya bingung. Bahkan ia belum menyelesaikan kata-katanya tapi Quinn langsung memotong penjelasannya.
"Quinn…"
"Keluar! Aku mau Mommy keluar dari kamarku!" Quinn meneteskan air mata. Meski begitu matanya menatap tegas pada Tiffany yang sedang menatap Quinn.
"Ka-kau ingin mommy keluar, Nak?" Tiffany bertanya dengan suara yang gemetar.
__ADS_1
"Iya. Biarkan Paman Luca yang menemaniku di sini. Dia ayah kandungku. Dia berhak bersamaku," ucap Quinn.
Tiffany tersentak. Namun, wanita itu menghapus air matanya dan berlari dengan cepat meninggalkan ruangan Quinn. Wanita itu terus pergi ke taman. Yang mana ia akan menangis sepuasnya di sana.
"Apa Paman Luca tidak rindu padaku?" tanya Quinn.
Luca kini menjadi bingung. Akan tetapi Luca mencoba menenangkan hatinya. Laki-laki itu mengumpulkan keberanian dan akhirnya berjalan mendekat pada Quinn.
"Apa kau juga marah padaku?" balas Luca.
"Aku sudah mendengarkan semuanya. Aku tidak tuli," kata Quinn.
"Jadi, kau akan marah padaku?" tanya Luca.
Quinn menggelengkan kepalanya. Matanya pun terpejam seolah ingin merasai pelukan sang ayah tercinta.
__ADS_1
"Selama ini aku tidak pernah bertanya kepadanya tentang ayah kandungku. Sama sekali tidak sekalipun aku sangat ingin tahu. Aku hanya tidak ingin mommy terluka ketika aku bertanya perihal ayah kandungku." Quinn mulai terisak. Kedua bahu kecilnya mulai bergerak naik turun lantaran ia menangis.
"Aku memendamnya. Aku iri pada teman-teman yang terkadang dijemput ayah kandung mereka. Atau ketika berada di restoran. Aku selalu berpikir. Mungkin ayahku tidak tahu aku sedang kelaparan atau tidak. Yang paling menakutkan adalah, aku takut ayah kandungku tidak menginginkan aku. Sehingga aku selama bertahun-tahun hidup bersama mommy," ungkap Quinn.
Luca mengusap pucuk kepala Quinn dengan lembut. Hatinya bagai dihantam batu besar. Mungkin selama ini Quinn sudah hidup menderita. Luca tahu itu. Ketika Quinn yang tiba-tiba datang ke perusahaan dan meminta uang dengan konyolnya.
"Quinn, dengar. Apapun yang terjadi mommy sudah berjuang keras untuk mempertahankanmu dan membesarkanmu. Jadi, Sayang. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Bukankah sekarang hanya ada masa kini dan masa yang akan datang? Mengapa kita hanya fokus pada masa lalu yang sudah terlewat?" Luca melepaskan pelukan Quinn. Kemudian Luca menghapus air mata putrinya itu.
"Jangan menangis. Kau terlihat jelek. Putri ayah masa jelek? Bukankah sekarang lebih baik kita bermimpi hidup bersama? Ngomong-ngomong, aku harus mencari mommy-mu. Dia pasti sedih karena kau mengusirnya dari kamar. Biarkan aku mencarinya." Luca hendak berdiri. Namun, dengan cepat Quinn menahannya.
"Jangan. Biar mommy berpikir. Mommy harus memikirkan aku. Supaya mommy tidak lagi menolak lamaran Ayah. Aku ingin kalian berdua menikah. Biar saja mommy berpikir. Aku yakin setelah mommy kembali pasti akan bersedia menikah dengan Ayah!" Tiba-tiba Quinn bersorak riang. Suasana hatinya sangat berbeda dengan sebelumnya saat masih ada Tiffany.
"Eh? Jangan-jangan kau menipu mommy-mu?" Luca terkejut begitu Quinn menganggukkan kepalanya dan tertawa.
"Astaga! Dasar anak nakal!"
__ADS_1