Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Kode


__ADS_3

"Paman bukankah kau sudah menghabiskan banyak makanan?" Quinn bertanya dengan bingung.


Lantaran Quinn melihat Luca sudah menghabiskan banyak makanan. Quinn ludahnya sendiri. Tiba-tiba saja dirinya merasa kenyang karena Luca yang terus memakan banyak makanan.


"Apa kau lupa kalau aku baru saja mendapatkan ceramah? Siraman rohani dari ibu selama 1 jam. Kau tidak tahu betapa laparnya perutku." Luca masih belum menghentikan aksinya memasukkan setiap potongan makanan ke dalam mulutnya.


Walaupun makanan tersebut bukan makanan dari kelas menengah ke atas tetapi Luca tetap saja memasukkan ke dalam mulutnya. Quinn ingin sekali tertawa mendengar penuturan dari luca.


Sebab memang selama 1 jam lebih lincah diomeli oleh Tiffany. Gara-gara Luca membeli banyak makanan yang menurut Tiffany Boros. Beruntungnya Quinn memberikan usulan agar makanan-makanan itu sudah dibersihkan. Sehingga tidak ada yang mubazir.


"Jadi apa sekarang kau bisa mengatakan kalau kau baru saja kabur? Kau membiarkan aku tetap berada di sana seorang diri. Aku Merasa dikhianati. Bisa-bisanya kalian berdua memperlakukan aku seperti ini." Tiba-tiba saja Luca merasa dikhianati.


Mendengar kata-kata Luca Quinn tersenyum malu. Memang benar kalau dirinya melarikan diri dari Tiffany. Sebagai Putri Tiffany Tentu saja aku ini sangat paham Bagaimana karakter Tiffany.


"Kalau begitu makanlah yang banyak Paman. Tidak akan ada yang memarahimu lagi paman. Lain kali Paman jangan terlalu boros. Kenapa Paman membeli restoran itu? Padahal Biarkan saja pelayan itu yang menanggung resikonya. Paman Luca tidak perlu mengambil resiko dengan membeli restoran itu." Quinn menyayangkan sikap Luca yang membeli restoran tanpa basa-basi.


Baginya restoran itu juga tidak terlalu menguntungkan. Sebab jika dilihat dari kacamata bisnis tempat itu memiliki saingan yang cukup banyak. Sehingga tidak mungkin memiliki keuntungan besar.


"Mengapa kau bisa mengatakan apabila Aku membeli restoran itu termasuk mengambil resiko? Ini Bisnis Quinn. Kau akan mengerti nanti ketika sudah mampu mengelola keuanganmu. Kau tahu jika harga pasaran tanah dan bangunan di sekitar keramaian dan Jalan Raya itu pasti memiliki harga yang bisa dikatakan dia akan sering bertambah mahal Seiring dengan berjalannya waktu. Jangan melihat berapa nominal yang saat ini aku Keluarkan. Bisa Jadi selang beberapa tahun kemudian restoran itu dapat dijual dengan harga 4 kali lipat dibandingkan harga saat ini. Apa kau mengerti?" Penjelasan panjang dari Luca membuat Quinn berpikir keras.


Garis kecil itu kemudian menganggukkan kepalanya ketika ia Paham apa yang dikatakan oleh. Itu lebih mirip investasi.


"Katakan padaku Quinn, apa Yang disukai oleh ibumu? Mungkin Dia menyukai tas atau perhiasan? Bukankah sebentar lagi pesta ulang tahun Ibumu? Aku mengetahuinya saat mengurus administrasi ibumu." Jelas Luca.


Kedua mata Quinn melotot seketika begitu ia mengingat hari ulang tahun Tiffany. Gadis kecil itu menepuk dahinya. Tanpa sadar Quinn melupakan hari spesial Tiffany.


"Ya ampun paman aku lupa! Bagaimana ini? Hari ulang tahun Mommy sekitar 2 hari lagi. Dan tabunganku belum aku ambil. Bagaimana aku akan membeli hadiah untuk mommy?" Quinn mulai panik. Wajah panik nya membuat Luca tertawa.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan? Maka dari itu cepat katakan apa yang disukai oleh ibumu. Aku Bisa membelikanmu hadiah untuk Ibumu. Tapi kau harus membantuku. Kalau kau bersedia untuk membantuku aku Akan memberikan Uang supaya kau bisa membelikan hadiah untuk Tiffany." Luca merayu Quinn.


Laki-laki itu memainkan kedua alisnya bergerak naik turun. Quinn lalu mengulurkan tangannya. Beberapa detik kemudian barulah Luca tahu apa maksud Quinn. Laki-laki itu tersenyum sambil membalas Jabat tangan dari Quinn.


"Deal?"


Keduanya pun telah sepakat. Kni Quinn berpikir keras. Ia Mencoba untuk mengingat semua ingatannya tentang Tiffany. Namun perlahan dahi Quinn berkerut. Luca Ikut mengernyitkan dahinya.


"Bagaimana Apa kau ingat Apa kesukaan ivani?" Tanya Luca.


"Aku lupa apa yang menjadi kesukaan Mommy. Sebab Mommy tidak pernah mendapatkan hadiah apapun. Karena selama ini aku paling membelikan bunga dan coklat kesukaannya." Jawaban Quinn membuat Luca tidak puas.


"Apa maksudmu dengan buket bunga dan coklat? Ayolah. Pasti Tiffany memiliki kegemaran lain. Rasanya aneh jika setiap ulang tahun malah mendapatkan sebuket bunga dan coklat ada," ucap Luca.


"Tadi Paman ingin aku jujur apa yang menjadi kesukaan mommy. Lalu Kenapa Paman Jadi Mengejek mommy?" Quinn mengerucutkan bibirnya. Gadis kecil itu meninggalkan Luca yang masih menikmati makanannya di kantin.


"Awas aja!"


Di sisi lain, Tiffany menatap Joni yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Semenjak ia dan Luca memilih terus menemani Tiffany di rumah sakit.


"Pekerjaanmu terlihat sangat banyak. Mengapa kau tidak kembali ke kantor? Aku dan Quinn akan baik-baik saja. Ini di rumah sakit. Semua akan baik-baik saja. Apalagi kamarku ini berkelas," jelas Tiffany.


"Jika anda ingin protes, lebih baik anda protes pada Tuan Luca. Saya pun sedang bekerja pada Tuan Luca. Jadi, bisakah Anda tidak berulang kali bertanya dengan pertanyaan yang sama?" Joni kesal sebab Tiffany sudah bertanya tentang hal itu sekitar 7 kali. Detik inilah, Joni baru bisa meluapkan kekesalannya.


"Aku tidak enak karena sering merepotkan kalian berdua," kata Tiffany.


"Sudah saya bilang, katakan pada Tuan Luca saja." Pernyataan Joni itu menegaskan bahwa ia tidak bisa diganggu. Membuat Tiffany mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Mommy!" Quinn membuka pintu. Gadis kecil itu lalu berlari mendekati ranjang pesakitan Tiffany.


"Kau dari mana saja, Quinn? Kau sejak pagi berkeliaran," tegur Tiffany.


"Aku bukan hewan peliharan yang harus dibilang berkeliaran, Mom. Aku ini anak Mommy yang paling cantik. Jadi, katakan kalau aku sejak pagi hanya pergi main saja." Quinn bersedekap di dada. Ia bahkan menggembungkan kedua pipinya menjadi lucu.


"Ya ampun, putriku yang cantik. Kau habis dari mana, Nak?" Tiffany mencubit pipi Quinn. Kemudian tangannya menggelitik tubuh Quinn. Keduanya saling tertawa bahagia.


Berbeda dari dua orang yang tertawa bahagia itu, seorang laki-laki menghembuskan napas berat. Setelahnya Joni berdiri dan mengemasi laptop miliknya.


"Kau mau kemana, Tuan Joni?" tanya Tiffany.


"Mau pergi." Joni menjawab singkat. Ia sama sekali tidak bisa bekerja. Selain pertanyaan-pertanyaan gabut dari Tiffany, ditambah dengan suara tawa yang sangat berisik di telinga Joni. Begitu Joni membuka pintu, terlihat Luca baru saja kembali dari kantin.


"Bos! Tolong, buang saya ke tempat lain! Saya tidak bisa bekerja dengan normal! Tendang saja saya, Bos!"


Di sebuah ruangan bawah tanah, seorang laki-laki terus meluapkan amarahnya. Ia melayangkan cambuk miliknya secara brutal. Sampai pada akhirnya pelayan itu mati bersimbah darah.


"Tuan Diego." Seorang anak buahnya membawakan handuk. Diego dengan cepat melemparkan cambuk yang bercampur darah itu ke lantai.


"Bagaimana mata-mata kita?" tanya Diego.


"Sepertinya Tuan Luca tidak ingin terjadi sesuatu dengan dua orang yang waktu itu kita culik, Bos. Sebab Tuan Luca terus berada di samping wanita itu."


"Kau sudah mengecek kembali data-data si brengs*k itu?" Diego mengusap tubuhnya Yang basah oleh keringat dengan handuk.


"Tentu saja, Tuan Diego. Mereka baru bersama dengan Tuan Luca selama beberapa waktu belakangan ini saja. Sebelumnya mereka tidak menjalin hubungan apapun."

__ADS_1


"Hmm. Luca … Aku akan membalaskan dendamku! Lihat saja aku tidak segan untuk membuatmu benar-benar jatuh terperosok dalam kehancuran!" Diego menyeringai. Ia tidak sabar untuk menunggu waktu itu tiba. Waktu di mana ia akan membalas dendam!


__ADS_2