Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Dia Aneh


__ADS_3

"Kau tidak perlu bertanya apapun. Karena Kau akan tahu ketika waktunya tiba. Yang jelas, rambut yang ada di dompet ini milik Quinn. Dan ini kau tahu sendiri kalau itu rambutku. Segeralah pergi atau Quinn akan menyadari jika kita menyembunyikan sesuatu." Luca mendorong tubuh Joni untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


Mau tak mau Joni pun segera pergi meninggalkan Luca. Laki-laki itu harus segera melaksanakan perintah dari Luca. Walaupun Joni sendiri bingung tapi ia tidak berhak untuk bertanya. Sebab Joni sadar kalau ia sedang mencari makan pada Luca.


"Sudahlah. Yang penting aku melaksanakan tugas dari tuan luca. Yang di dompet ini merupakan rambut milik Quinn. Sedangkan yang ada di tanganku rambut milik Tuan Luca. Sejak kapan Nyonya Tiffany dan Tuan Luca memiliki hubungan?" Joni melakukan apa yang diperintahkan oleh Luca. Ia menemui seorang dokter dan berkonsultasi di sana.


Ketika dokter tersebut bertanya Joni mengatakan bahwa itu merupakan tes DNA dari Tuan Luca. Seseorang yang memiliki saham terbesar di rumah sakit itu. Jadi dokter itu disuruh untuk bungkam atas apa yang diperintahkan oleh Tuan Luca.


"Lalu kapan hasilnya akan keluar Dokter?" tanya Joni.


"Biasanya sekitar 14 hari. Saya akan menghubungi anda atau Tuan Luca untuk mengambil hasil tesnya. Tapi anda jangan khawatir. Tes DNA biasanya memiliki hasil yang akurat. Saya harap Tuan Luca bersedia untuk menunggu selama 2 minggu ke depan," ucap Dokter Arman.


"Baiklah Dokter Arman. Kalau begitu saya akan memberitahu Tuan Luca. Saya permisi dulu." Joni berpamitan kepada dokter Arman.


Joni berjalan Kembali menuju ke ruang perawatan Tiffany. walaupun ia sendiri bingung dengan Apa yang sedang dilakukan oleh Luca, tapi Joni tidak akan banyak bertanya.


"Nah Tuan Luca Bukankah Anda seharusnya istirahat?" Joni yang baru saja datang tiba-tiba langsung menyahut. Pandangan mata Quinn dan luca sama-sama menajam ketika Joni yang baru masuk ke ruangan Tiffany langsung menyahut.


"Kau juga harus istirahat Quinn. Ini sudah malam. Dokter mengatakan bahwa Kemungkinan besok Tiffany akan sadar."Luca mengabaikan kata-kata Joni. Ia memilih yang berbicara dengan Quinn.


Lagi-lagi membuat Joni kental. Sudah berulang kali Luca melakukan hal seperti ini. Seperti biasa Joni memilih untuk pergi meninggalkan Luca. Laki-laki itu mengambil tempat ternyaman di sebuah sofa panjang yang empuk.


"Tapi aku ingin menunggu Mommy bangun. Bagaimana kalau mau bangun tapi aku malah tertidur?" Quinn menolak untuk tidur. Ia bersikeras ingin berada di samping Tiffany yang masih memejamkan mata akibat obat bius.


"Tidak apa-apa. Aku akan mengatakan bahwa kau sudah berjaga semalaman dan tertidur begitu saja. Karena kita bergantian untuk menjaga Tiffany. Aku pikir itu tidak masalah. Kalau kau tidak tidur bagaimana jika sakit? Maka Tiffany akan sedih begitu mendengar bahwa kau sakit karena menunggunya semalaman. Apa kau ingin melihat ibumu sedih?" Luca membelai lembut pucuk kepala Quinn. Quinn menjawab dengan gelengan kepala sebagai tanda bahwa ia tidak ingin melihat Tiffany sedih.


"Kalau kau tidak ingin melihat ibumu sedih maka tidurlah. Kau lihat di ruangan itu. Di sana ada tempat tidur yang bisa kau pakai untuk tidur. Istirahatlah. Biar aku yang menunggunya di sini." Luca meminta agar Quinn segera beristirahat dan membiarkannya untuk menunggu Tiffany di situ.


Quinn melemparkan pandangan ke arah sebuah pintu yang tertutup. Ia tidak menyadari jika di tempat itu ada pintu lain yang terdapat satu ruangan. Kemudian tatapan mata Quinn beralih pada Luca yang masih memandang Quinn.


"Kalau begitu bagaimana dengan Paman Luca? Apa Paman juga tidak lelah jika harus menunggu mommy sampai bangun?" Quinn merasa tidak enak apabila Luca harus berjaga seorang diri. Ingin sekali Quinn menemani Luca menunggu Tiffany sampai Tiffany bangun.


"Kalau aku mengantuk Aku akan tidur, tenang saja. Aku pikir ibumu akan mengerti Kalau kita juga lelah. Sudah, sekarang sana pergi. Aku yakin kau sangat mengantuk Quinn." Luca mengusir Quinn. Supaya Quinn bergerak dan cepat istirahat.


"Baiklah. Kalau Paman Luca memaksa aku akan pergi tidur. Selamat malam." Quinn turun dari kursinya.

__ADS_1


Gadis kecil itu berjalan menuju ke ruangan sebelah. Akan tetapi Tak lama kemudian Quinn berjalan terburu-buru keluar dari ruangan itu.


"Ada apa?" Luca sedikit panik.


Namun di saat kepanikan dan khawatir melanda dirinya tiba-tiba saja Quinn mencium pipi Luca. Hal itu membuat Luca mematung di tempatnya.


"Terima kasih." Setelah mengucapkan terima kasih kepada Luca, Quinn pun kembali berlari ke ruangan sebelah.


Ia akan beristirahat setelah rentetan peristiwa menegangkan terjadi. Di sisi lain Luca yang mendapatkan kecupan dari Quinn yang kemungkinan besar merupakan putrinya itu tertegun. Laki-laki itu merasakan debaran jantung yang cukup cepat.


Seulas senyuman terbit di bibirnya. Bahkan Karena rasa senang yang tidak terbendung itu Luca sampai menyentuh pipinya dan mengusapnya dengan lembut.


"Mungkinkah ini kecupan pertama dari putriku?" Luca membatin dalam hati.


Betapa senangnya dirinya saat ini. Bahkan rasa senangnya melebihi rasa cinta yang pernah ia rasakan dulu. Dari kejauhan gerak-gerik Luca tidak lepas dari pengamatan Joni. Anak buah Luca itu masih belum tidur.


"Sejak kapan Tuan Luca menjadi aneh begitu?" gumam Joni.


Keesokan harinya Tiffany mengerjapkan kedua matanya. Wanita itu merasa nyeri di belakang punggungnya. Begitu ia bisa membuka kedua matanya dengan lebar, segera saja ia teringat dengan Quinn.


"Tuan Luca ada di sini? Jadi aku sekarang ada di mana?" Tiffany mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Rupanya bukan hanya Luca saja yang tengah menunggunya bangun. Akan tetapi ada Joni juga yang sedang tertidur pulas di sofa. Mata Tiffany kembali mengedar. Ia mencari sosok Quinn putri yang Ia cintai.


Namun sejauh mata memandang Tiffany tidak menemukan keberadaan Quinn. Sontak saja Tiffany menjadi panik dan khawatir.


"Quinn! Quinn! Kau ada di mana?" Tiffany berteriak lebih keras lagi.


Teriakan Tiffany akhirnya membangunkan Luca maupun Joni. Dua laki-laki itu melihat Tiffany terbangun. Joni segera bangun dan memencet tombol emergency. Ia berharap dokter segera datang dan memeriksa Tiffany.


Sedangkan Luca yang baru tertidur pukul 04.00 pagi masih menggeliat dan sesekali mengucek matanya. Bahkan Luca masih menguap lebar.


"Kenapa pagi-pagi sekali kau sudah berteriak?" tanya Luca.


"Di mana Quinn, Tuan Luca?" Balas Tiffany.

__ADS_1


"Quinn ada di ruangan sebelah. Aku menyuruhnya untuk beristirahat. Takutnya dia akan masuk angin dan sakit. Tenang saja di sebelah ada tempat tidur. Ruangan ini ruangan yang berkelas sehingga memiliki furniture yang lengkap. Bagaimana keadaanmu Apakah sudah mendingan?" Luca mengalihkan topik pembicaraan.


Laki-laki itu mengamati Tiffany Yang sepertinya lega karena jawabannya. Tampak wajahnya sedikit memerah setelah sebelumnya terlihat pucat.


"Syukurlah. Aku terlalu takut Quinn akan terluka juga." Tiffany bernapas lega sambil mengusap dadanya. Ia sangat takut apabila Quinn mengalami luka yang sama seperti dirinya.


"Tiffany. Aku minta maaf apabila sudah membuatmu berada di situasi yang membahayakan dirimu dan Quinn. Sungguh Aku hanya ingin membawamu ke pantai karena ingin melihat Quinn bersenang-senang. aku juga tidak menyangka kalau saingan bisnisku menguntitku. Aku tidak tahu Sejak kapan mereka mengetahui kedekatanku dengan kalian berdua. Rasanya aku hampir gila saat aku kehilangan jejak. Tiffany, apa setelah ini kau akan membenciku?" Luca memberanikan diri untuk menatap Tiffany yang terdiam.


Sebenarnya Tiffany sendiri juga merasa bersalah pada Luca. Namun di sisi lain Ia juga memiliki rasa marah ketika saingan bisnis Luca menculik dirinya dan Quinn.


Akan tetapi Tiffany tidak ingin salah paham lagi. Ia sebelumnya sudah memiliki kesalahan yang besar pada Luca. Seperti sudah membuat Luca masuk ke rumah sakit hanya karena keisengannya. Tiffany tidak ingin menyesal karena besar kepala.


"Sepertinya dia tulus meminta maaf. Meskipun kejadian kemarin sangat membahayakan bagiku dan juga Quinn. Tapi itu semua bukan rencana laki-laki ini. Kali ini aku dan dia harus sama-sama saling memaafkan. Sehingga kami tidak lagi bertengkar hanya karena masalah yang tidak penting." Tiffany berbicara dalam hati. Ia sudah mengambil keputusan untuk memilih damai dengan hatinya.


"Tidak masalah Tuan luca. Aku tahu kalau aku sebelumnya juga sudah kelewatan. Tapi bagaimana kau bisa selamat dari ledakan itu? Maksudku mobilmu waktu itu terbakar bukan?" Tiffany teringat dengan mobil Luca yang meledak dan terbakar.


"Aku melompat. Kau tahu ketika seseorang sudah dalam keadaan panik maka dia akan Kehilangan kebijaksanaannya. Yang ada di kepalaku hanyalah aku harus segera menyusul kalian berdua. Kalau aku mati terjebak di dalam kobaran api itu lantas bagaimana dengan kalian berdua?" Balasan Luca membuat Tiffany tersinggung.


Bahkan dalam keadaan hidup maupun mati Luca Masih memikirkan Tiffany dan Quinn. Bukankah itu terlalu salah apabila kita ini masih saja menyalahkan Luca Atas kejadian kemarin? Tiffany pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Permisi. Saya harus memeriksa Nyonya Tiffany terlebih dahulu. Bisakah Anda berdua keluar dari sini sebentar?" Dokter yang memiliki name tag Arini itu berbicara dengan lembut kepada Luca.


Bahkan dokter Arini tersenyum malu-malu kepada Luca. Tiffany pun kemudian melirik pada Luca yang beranjak dari ruangan itu. laki-laki itu bahkan sama sekali tidak menoleh pada Dokter Arini yang cantik.


"Pesona Tuan Luca memang sangat luar biasa. Bahkan Dokter Arini yang cantik dan masih muda ini nyatanya langsung dibuat Salah Tingkah oleh Luca," kata Tiffany dalam hati.


"Bagaimana kabar Anda Nyonya Tiffany? Boleh saya memeriksa Anda sebentar?" Dokter Arini meminta izin kepada Tiffany untuk melihat luka dan juga keadaan Tiffany.


"Dua orang tadi bersama dengan satu orang anak kecil mereka bahkan terus menunggu Anda tersadar. Anda harus bersyukur karena bak ada banyak orang yang mencintai Anda nyonya Tiffany." Dokter Arini berbicara sembari memeriksa Tiffany mengajak berbicara.


"Ah iya. Kami memang berteman. Tapi yang kecil itu anakku." Tiffany menyahut dengan bangga. Terlebih menyebut Quinn sebagai putrinya.


"Oh, kalau begitu dengan dua orang itu? Apakah salah satunya suami anda, Nyonya Tiffany? Ah, maksudku laki-laki yang duduk di samping Anda tadi," ucap Dokter Arini.


"Maksudnya Tuan Luca?" tanya Tiffany.

__ADS_1


"Ya benar, Nyonya Tiffany. Apa dia sudah menikah?"


__ADS_2