Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Perhatian


__ADS_3

Tiffany mengomel dalam hati untuk beberapa waktu lamanya. Ia kesal pada Dokter Arini yang memintanya untuk memberikan nomor telepon luca. Padahal Tiffany tidak ingin melewati batas antara dirinya dan Luca.


"Apa-apaan itu? Mengapa dia sampai begitu berani menanyakan nomor handphone laki-laki? Padahal Dia memiliki pekerjaan yang mapan dan juga masih muda. Mengapa dia tidak menanyakan nomor telepon Tuan Luca sendiri?" Begitulah sejak tadi Tiffany mengomel.


Sedangkan Luca dan Quinn sedang mencari makanan. Keduanya entah pergi ke mana sehingga sampai saat ini masih belum terlihat juga.


"Nyonya Tiffany anda ingin menikmati makanan apa?" Tiba-tiba Joni datang sambil membawa ponselnya. Laki-laki itu mendapatkan pesan dari Luca untuk menanyakan apa yang ingin dimakan oleh Tiffany.


"Aku tidak ingin makan apapun. Makananku juga masih utuh. Apakah itu Quinn yang bertanya padamu?" Tiffany was-was Jika saja yang saat ini bertanya tentang keinginannya itu merupakan Quinn. Anak gadisnya itu memang terkadang memberikan perhatian lebih terhadap Tiffany.


"Tuan Luca yang bertanya. Jadi Bisakah Anda mengatakannya kepada saya Nyonya Tiffany? " Joni mendesak Tiffany untuk menjawab.


Sebab bisa saja Ia mendapat amukan dari luca. Benar saja. Belum juga Tiffany menjawab nyatanya Luca sudah menelponnya. Joni memutar bola mata kesal.


"Halo?" Pada akhirnya Joni menjawab sambungan telepon dari Luca.


"Kenapa kau lama sekali? Cepat tanyakan kepada Tiffany dia ingin makan apa?" Terdengar amukan dari Luca di seberang sana.


Mendengar Luca berteriak Joni menjauhkan handphonenya dari telinga. Rasanya telinganya sakit begitu mendengarkan teriakan dari Luca itu.


"Nyonya Tiffany bisakah anda memberitahu saya?" Joni memasang wajah yang iba.


Supaya Tiffany merasa kasihan kepadanya. Melihat Joni memelas, Tiffany pun meraih handphone Joni. Tiffany merasa tidak tega kepada Joni yang terus menjadi sasaran amukan dari Luca.


"Halo?" Tiffany mulai menyapa Luca.


"Ha-halo? Apakah ini Tiffany?" Entah mengapa Luca tiba-tiba menjadi bodoh. Seharusnya dia bisa membedakan suara Joni maupun Tiffany.


"Benar ini aku. Bagaimana? Kau sekarang ada di mana?" Tiffany bertanya dengan lembut. Ia tidak lagi ketus kepada Luca.


"Aku tidak tahu ada di mana. Quinn yang mengajak aku ke sini. Quinn bilang kalau kau sangat menyukai makanan di tempat ini. Emm. Ini di sebuah restoran yang sederhana ya. Apa itu namanya? Ah sudahlah. Pokoknya kau katakan saja apa yang ingin kau makan. Eh? Kau tidak tahu menu di sini. Sebentar. Bagaimana kalau aku membacakannya untukmu?" Luca hendak membacakan semua menu yang ada di restoran itu.


"Jangan! Bawakan saja aku makanan yang kau sukai. Aku tidak akan banyak protes apapun yang kau belikan. Setidaknya makanan yang kau bawa masih memiliki rasa dibandingkan dengan makanan yang ada di rumah sakit." Tiffany melarang Luca untuk membacakan semua menu. Selain itu akan membuang waktu juga Tiffany tidak ingin berlama-lama menelepon Luca.


"Tapi…" Luca tampak berpikir.


"Kau tidak usah banyak berpikir. Segera saja lakukan apa yang aku katakan. Sudah ya. Aku akan mengembalikan handphone ini pada Tuan Joni." Tiffany mematikan sambungan telepon sebelum ia mendapatkan sahutan dari Luca. Ia pun memberikan handphone tersebut kembali pada Joni.


"Hebat sekali Nyonya Tiffany. Dia terlalu berani untuk berhadapan dengan Tuan Luca. Setidaknya dia Tuan Luca tidak akan marah lagi padaku." Joni membatin senang.


Ia tidak lagi mendapatkan omelan dari Luca. Semuanya sudah di atasi oleh Tiffany. Joni tanpa sadar tersenyum lebar.

__ADS_1


"Aku heran. Mengapa kau dan Tuan luca terlihat santai? Apa kalian berdua tidak bekerja? Aku ingat kalau Tuan Luca pernah mengatakan waktu yang kalian jalani merupakan uang. Bukankah itu artinya kalian akan rugi banyak apabila kalian terus berada di sini?" Tiffany mulai curiga lantaran Luca dan Joni sejak kemarin tidak bekerja.


Tiffany ingat dulu Luca bahkan pernah memarahinya hanya lantaran sudah membuat Luca terlambat. Akan tetapi yang terjadi sekarang justru kebalikannya. Luca dan Joni sangat tenang berada di rumah sakit itu. padahal seharusnya mereka berdua bekerja dan di ruangan VIP tersebut hanya tersisa Tiffany dan Quinn.


"Waduh! Nyonya Tiffany menyadari kelakuan Tuan Luca sebelum ini. Lantas aku harus menjawab apa?" Joni membatin sambil tersenyum kaku. Ia bingung harus menjawab apa. Takutnya ia salah menjawab dan juga membuat Luca marah lagi padanya.


"Atau kau tidak ingin mengatakannya kepadaku Tuan Joni? Baiklah, tidak masalah. Lagian kalian berdua yang sudah membayar semua biaya menginap di rumah sakit ini. jadi tenang saja. Aku tidak akan mencari tahu lagi," pungkas Tiffany.


Joni menggaruk Tengkuk lehernya yang tidak gatal. Laki-laki itu memilih untuk bungkam. Sebab Ia rasanya selalu serba salah. Bisa-bisa Luca akan mendepaknya dari kantor.


Tiffany memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang pesakitan. Luka akibat tembakan itu masih menyisakan perih ketika terjadi gesekan antara kulit dan juga benda-benda.


"Apa ada yang anda butuhkan lagi, Nyonya Tiffany?" tanya Joni.


"Tidak ada. Kau bisa santai. Aku ingin tidur sebentar," jawab Tiffany.


"Oke."


"Tunggu, Tuan Joni. Apa Tuan Luca tidak akan kerepotan karena Quinn? Terkadang anak kecil itu sedikit rewel," celetuk Tiffany.


"Ansa tenang saja, Nyonya Tiffany. Semua akan baik-baik saja."


"Paman Luca, cepatlah memesan! Kau membuat cacing di perutku berbunyi. Apa kau tidak malu?" Quinn mengerucutkan bibirnya.


Gadis kecil itu mulai kesal karena Luca masih belum memesan. Sudah ada dua pelayan yang menanyai mereka berdua lantaran mereka berdua belum juga memesan makanan. Quinn merasa malu. Tetapi Luca sama sekali tidak peduli. Laki-laki itu terus memandangi setiap menu yang dilihatnya.


"Paman!" seru Quinn.


"Kau saja yang memilih menu. Ambil menu yang disukai ibumu. Aku akan membayarnya. Tenang saja." Tiba-tiba saja Luca memberikan buku menu itu kepada Quinn.


Tentu saja Quinn mengepalkan tangannya dan juga mengeratkan rahangnya. Luca sudah memilih menu selama 15 menit dan ternyata tidak ada hasilnya.


"Pa-man!" Quinn menahan kekesalannya.


Bocah itu mengambil udara untuk memenuhi rongga dadanya dan kemudian menghembuskannya perlahan. Quinn berusaha keras supaya ia tidak memaki Luca. Quiin kesal bukan main sebab ia sudah menahan malu sejak tadi.


"Cepatlah memesan, Quinn. Ibumu pasti sudah menunggumu. Ayo!" rengek Luca.


Quinn menganggukkan kepalanya. Sekuat tenaga Quinn meredam emosi. Kemudian mata Quinn kini beralih ke buku menu. Sedangkan Luca mengangkat tangannya memanggil pelayan. Pelayan yang sudah ketiga kalinya datang itu memasang wajah masam. Ia kesal karena Luca dan Quinn belum memesan apapun.


"Sudah tahu mau memesan apa?" Pelayan itu bertanya dengan nada yang ketus.

__ADS_1


"Sebentar," cetus Quinn.


"Cara bicara sangat arogan sekali, pelayan. Kami di sini pasti akan membayar makanan yang kami pesan. Mengapa kau sudah memasang wajah jelek seperti itu?" tegur Luca.


"Lalu saya harus bagaimana? Cepatlah, Nak. Sebentar lagi akan rame!"


"Kentang goreng 4, penyet ayam goreng 4, mie dower 1. Paman mau mie dower?" Quinn bertanya pada Luca.


"Mie dower? Kau mau membuatku masuk ke rumah sakit lagi?" Kedua mata Luca melotot. Ia ingat kalau Tiffany pernah membuatnya masuk ke dalam UGD.


"Eh, iya. Hehe. Yang tadi sudah dicatat?" Perhatian Quinn kini tertuju pada pelayan itu.


"Sudah! Cepatlah! Aku masih banyak pekerjaan!" Nada bicara pelayan itu mulai meninggi. Membuat Luca terpancing emosinya.


Brak!


"Hanya Seorang pelayan rendahan sepertimu beraninya membentak Quinn? Kurang ajar! Panggil cepat bosmu kemari! Kau pikir aku miskin?" Luca berdiri dan mengeluarkan semua uang lembaran merah. Kemudian ia melemparkannya pada si pelayan kurang ajar itu.


"Panggil bosmu kemari. Aku akan membeli semua makanan di sini bahkan restoran ini dengan harga 2x lipat! Cepat!"


—-


Tiffany melongo melihat berbagai makanan tertumpuk di meja. Kedua matanya mengerjap bingung. Lalu pandangan matanya beralih pada Quinn dan Luca. Tiffany menajamkan sorotan mata. Hingga Quinn menunjuk Luca yang sedang bersiul sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Baiklah, apa maksud ini semua? Di sini hanya ada 4 perut yang perlu diisi. Bukan puluhan perut. Mengapa kalian menghamburkan uang dengan mudahnya?" protes Tiffany.


"Aku pikir daripada bingung, jadi aku membelinya langsung, Tiffany. Em, aku tidak tahu makanan apa yang kau sukai. Jadinya aku membeli semua menu. Masing-masing 2 porsi," ungkap Luca.


"Karena aku tidak tahu kalau Paman Luca membeli sebanyak itu, bisakah kalian menyelesaikannya sendiri? Aku masih terlalu kecil untuk mendengarkan pertengkaran kalian. Jadi, aku permisi dulu!" Quinn melambaikan selembar tisu. Kemudian gadis kecil itu berlari melangkah keluar dari ruangan Tiffany.


"Oh, benar juga. Bukankah tugas saya menjaga Nona Quinn? Takutnya ada yang berbuat nekat. Permisi, Nyonya Tiffany. Permisi, Tuan Luca." Joni pun tiba-tiba ikut keluar ruangan. Ia menyusul Quinn yang rupanya masih berdiri di tembok dengan posisi membeku. Joni pun tanpa banyak bicara ikut menempelkan punggungnya di tembok. Seolah mereka berdua sedang mendapatkan hukuman disuruh untuk berdiri di depan kelas. "Kenapa kau ikut keluar, Tuan Joni?" tanya Quinn tanpa menoleh.


"Kau sendiri kenapa keluar?" balas Joni.


"Aku sedang menyelamatkan nyawa," sahut Quinn.


"Aku pun sama." Joni menghela napas. Ia tidak bisa berkutik dan memilih menyelamatkan diri. Sebab ia sudah mengamati ekspresi aneh Tiffany sejak melihat banyak makanan yang dibawa oleh Luca dan Quinn.


"Apa kau tidak tahu kalau ada banyak orang di luar sana yang kelaparan? Apa karena kau memiliki banyak uang sehingga bisa membeli makanan sebanyak ini dan kemudian membuangnya tanpa berpikir lagi? Dasar bodoh! Kau bodoh sekali! Seharusnya kau membawakan aku sepantasnya saja. Seporsi! Aku ini habis tertembak dan sakit! Bagaimana bisa kau memberiku makanan sebanyak ini? Apa kau pikir aku wanita rakus?" Suara Tiffany terdengar menggelegar. Bahkan terdengar sampai keluar ruangan VIP.


"Kau dengar itu, Nona Quinn? Tragis bukan?"

__ADS_1


__ADS_2