Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Hasil


__ADS_3

"Cepat!" Tiffany mendesak Quinn supaya segera menelpon dan berbicara dengan Luca. Laki-laki yang malam ini akan mereka undang untuk makan malam.


"Jangan lupa Tuan Joni juga," imbuh Tiffany.


"Kalau begitu kenapa bukan Mommy saja yang menelpon Paman luca? Ini tablet milikku," ucap Quinn sambil memberikan tablet miliknya.


Tiffany segera menepis tablet Quinn. Ia tidak berani berbicara dengan Luca. Tiffany sedikit grogi apabila harus mengundang sendiri Luca ke rumahnya.


"Kau saja!" Tiffany tidak mau jika dirinya yang harus mengundang luca.


"Kalau begitu Mommy diam saja. Kenapa Mommy cerewet sekali?" kesal Quinn.


Meski begitu Quinn tetap menghubungi Luca. Sampai pada akhirnya berkali-kali Quinn mencoba untuk menelpon Luca pun gagal. sebab Luca sama sekali tidak mengangkatnya.


"Mungkin Paman Luca sedang sibuk mommy. Bagaimana kalau kita menghubunginya nanti?" Quinn meletakkan kembali tablet Itu. Ia menatap Tiffany dengan tatapan bingung.


"Apa kau tahu Makanan apa yang disukai oleh Tuan rucha?" Tiffany akhirnya bertanya kepada Quinn tentang Makanan apa yang disukai oleh Luca. Quinn menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu mom. Karena Paman Luca memakan semua makanan. Apa tidak sebaiknya kalau kita memasak sendiri saja?" Quinn mengusulkan kepada Tiffany supaya mereka memasak tanpa harus bertanya terlebih dahulu kepada Luca.


"Jadi maksudmu kita langsung memasak saja tanpa Bertanya kepadanya? Bagaimana kalau dia tidak menyukai masakanku? Mungkin dia akan marah kepada mommy. Ayolah ingat-ingat lagi Makanan apa yang disukai boleh Tuan Luca. Takutnya malah kita mengecewakan Tuan Luca, Quinn. Ingat, Tuan Luca sudah banyak membantu kita. Apa kau tidak ingin membalas budi?" Tiffany menjelaskan kepada Quinn bahwa mereka seharusnya membalas budi.


Terlihat Quinn kembali mengambil tablet miliknya. Sebenarnya ia juga ingin hubungan Tiffany dan Luca membaik. Tidak seperti sebelumnya, mereka berdua saling memaki dan bermusuhan.


"Halo, Paman Luca!" Quinn berseru riang. Gadis kecil itu berbinar senang.


"Kenapa kau menelponku di jam seperti ini, Quinn? Hari ini merupakan hari pertamaku di perusahaan. Jadi sedikit sibuk. Katakan padaku, apa yang membawamu berani menghubungiku di jam 9 pagi? Aku bahkan masih meeting, Quinn." Suara di seberang sana berbicara panjang.


"Eh, apakah aku mengganggumu, Paman. Kalau begitu aku akan mematikan telponnya. Paman Luca fokus saja pada meetingnya. Maafkan aku, Paman. Karena sudah mengganggumu." Quinn merasa tidak enak. Karena ternyata Luca sedang meeting.


"Ssst! Tidak masalah. Katakan padaku ada apa. Aku sudah meminta break. Jadi kau jangan merasa sungkan," ucap Luca.


"Oh, oke. Begini, aku dan Mommy hari ini sudah berbelanja. Niatnya kami ingin mengundang Paman Luca dan Paman Joni untuk datang ke rumah. Mommy ingin mengundang kalian berdua makan malam. Apa Paman Luca sempat datang? Kalau tidak datang juga tidak apa." Quinn yang merasa tidak enak hati itu langsung mengatakan jika tidak mengapa apabila Luca tidak bisa datang.


"Ehem! Kata siapa aku tidak bisa datang? Aku akan datang malam ini. Jam berapa? Aku tentu tidak ingin mengecewakan mommy-mu, Quinn. Jadi katakan saja jam berapa undangan makan malamnya, maka aku akan datang. Tapi, tidak masalah bukan kalau aku datang sedikit terlambat? Pekerjaanku sedikit menumpuk hari ini." Luca sekuat tenaga menyembunyikan kebahagiaannya. Tiffany mengundangnya untuk pergi makan malam di rumahnya.


"Ah tidak apa-apa, Paman Luca! Kami akan menunggu kedatangan Paman! Paman Luca dan Paman Joni datang saja aku sudah senang. Kita bisa menikmati masakan Mommy! Dengar, masakan Mommy paling enak! Kau harus mencobanya, Paman!" Quinn memamerkan keahlian memasak Tiffany pada Luca. Yang mana semakin membuat jantung Luca berdebar tidak karuan.


"Ehem! Baiklah kalau begitu. Aku lanjutkan meeting di sini. Jangan cemas, aku adalah laki-laki yang selalu menepati janji. Selamat pagi, Quinn. Sampai jumpa nanti." Luca cepat-cepat menutup sambungan telepon.

__ADS_1


Laki-laki itu sontak berdiri dan berseru. Tak hanya itu di depan semua staff perusahaannya, Luca tersenyum lebar memamerkan giginya yang putih bersih.


"Joni! Batalkan meeting pagi ini dan ayo ikut aku keluar!" Luca secara mendadak menghentikan meeting pagi itu. Semua orang yang ada di sana tidak mampu menahan Luca.


Sebab, sebagai seorang direktur utama, Luca menempati tahta tertinggi. Sehingga para pemegang saham pun tak dapat berkutik. Hanya saja, tingkah Luca yang kocak membuat semua orang kebingungan dan melongo takjub.


Padahal sebelum ini Luca dikenal sebagai laki-laki yang selalu saja dingin. Bahkan Luca memiliki sifat yang arogan. Namun, semua orang hari ini dikejutkan dengan aksi tidak terduga dari Luca.


Di saat Luca bersiul-siul riang sambil berjalan menuju ke ruangannya, di belakang Luca berdiri Joni yang menghembuskan napas kasar. Joni menatap punggung Luca dengan pandangan yang datar.


"Entah sejak kapan dia semakin aneh," gumam Joni.


Di tempat lain, Tiffany juga berseru senang. Mengetahui bahwa Luca akan datang bersama dengan Joni. Ia dan Quinn saling berpelukan erat.


"Ah, Quinn. Ayo, kita masak. Kita akan membuat menu yang enak! Apa kau siap membantu Mommy?" tanya Tiffany.


"Ya, aku siap, Mom!" jawab Quinn.


Tiffany dan Quinn kini berjalan menuju ke dapur. Dua orang itu mulai memasak. Akan ada banyak menu makanan yang mereka eksekusi. Tiffany memang sangat menyukai memasak. Sehingga hari ini ia bisa meluapkan rasa suka citanya dalam memasak.


Jam terus berdentang. Waktu pun tak terasa sudah mendekati jam 6 malam. Tiffany lantas menyuruh Quinn untuk segera mandi. Setelahnya nanti Tiffany akan menyusul Quinn.


"Viana! Akhirnya kau datang juga!" Tiffany menyambut kedatangan


Viana. Wanita itu memeluk Viana dengan erat. Sudah lama mereka berdua tidak bertemu. Tiffany sangat senang karena Viana rupanya masih menyempatkan untuk datang.


"Aku tidak yakin kau akan datang, Viana. Ternyata kau datang juga," kata Tiffany.


"Ck! Kau pikir siapa yang sudah menemanimu selama ini? Dengar, kau hanya memiliki aku! Ah, Tiffany! Kau sudah hidup lebih baik rupanya! Kau bahkan memiliki rumah yang bagus!" seru Viana.


"Jangan berkata begitu. Ini cuma ngontrak! Karena aku akan bekerja di perusahaannya. Jadi dia bilang aku boleh menyewa rumah ini. Sambil membersihkan dan merawat rumah ini. Aku menganggap itu rejeki aku, Vi. Rumah ini sangat layak untuk membesarkan Quinn," jelas Tiffany.


"Aku ikut bahagia, Tiffany! Ya ampun, baru berapa lama kita tidak bertemu. Kau sedikit berisi. Apa mungkin karena kau sudah memiliki pekerjaan tetap sehingga tidak membutuhkan pekerjaan lain? Aku ikut berbahagia untukmu, Tiffany. Dan juga aku akan sangat bahagia apabila kau bisa menemukan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus," pungkas Viana.


Tiffany tersenyum kaku. Rasanya ia masih belum siap jika harus membuka hatinya untuk laki-laki lain. Bukankah ada Quinn? Bagaimana kalau laki-laki yang mencintai Tiffany tidak bisa mencintai Quinn layaknya anak sendiri? Mendadak Tiffany menjadi miris terhadap dirinya sendiri.


"Aku tidak mungkin sembarangan jatuh cinta, Viana. Sekarang keadaanku sudah berubah setelah aku memiliki Quinn. Aku tidak bisa berkencan dengan sembarangan laki-laki. Bagaimana nantinya kalau dia tidak bisa mencintai Quinn dan hanya mencintaiku saja? Rasanya itu percuma. Kau tahu maksudku. Quinn segalanya untukku." Penjelasan Tiffany membuat Viana merasa terharu.


Viana akhirnya memeluk Tiffany agar Tiffany merasa lebih baik. Hingga Viana tiba-tiba mencium sesuatu.

__ADS_1


"Ada apa, Vi?" tanya Tiffany bingung.


"Apa kau tidak mencium bau busuk?" balas Viana.


Tiffany mengendus-endus. Namun ia tidak menemukan bau busuk apapun. Tiffany menepuk lengan Viana. "Jangan bercanda! Aku tidak sejorok dirimu, Vi!"


"Oh, sepertinya ini bau karena kau belum mandi, Tiffany. Sana mandi! Kau sangat bau sekali!" Viana mendorong tubuh Tiffany agar segera mandi.


"Hei! Darimana kau tahu aku belum mandi?" kesal Tiffany.


"Kelihatan dari wajahmu. Kau terlihat jelek, Tif."


Ting tong! Ting tong!


Seseorang memencet bel rumah Tiffany. Membuat Tiffany dan Viana saling berpandangan.


"Kau bilang undangan makan malamnya pukul 7 malam. Mengapa sudah ada yang datang?" tanya Viana.


"Benar kok. Aku mengundang tamu lain pukul 7 malam. Ini masih pukul 6 malam. Makanya aku memilih menunggu dirimu. Supaya kau bisa mendandaniku sedikit," tukas Tiffany.


"Memangnya berapa orang yang kau undang?" Viana ikut bingung. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Memang tidak salah kalau masih pukul 6 malam.


"Hanya 3 orang. Ayo, ikut aku ke depan." Tiffany menarik tangan Viana agar gadis itu mengikutinya dari belakang.


"Halo, Nyonya Tiffany. Dan em, teman Nyonya Tiffany. Kami datang memenuhi undangan Anda."


Begitu pintu terbuka Joni sudah menyapa terlebih dahulu. Bahkan Joni tersenyum lebar. Sedangkan Luca ada di belakang Joni.


"Ehem. Aku sudah bilang pada Joni kalau waktu masih panjang. Tapi dia ngotot untuk cepat datang. Dia tidak enak karena harus membuat kau dan Quinn menunggu. Jadi, aku bersedia untuk ikut saja," bohong Luca.


"Lempar batu sembunyi tangan. Itu memang sudah biasa, Nyonya Tiffany," celetuk Joni.


"Argh! Hehe, itu hanya sebuah pantun saja, Nyonya Tiffany. Jangan dimasukkan ke dalam hati." Joni tersenyum aneh.


Pandangan mata Tiffany dan Viana tertuju pada kaki Joni yang diinjak oleh Luca. Namun, saat mata dua perempuan itu beralih pada Luca, laki-laki itu tersenyum ramah.


"Boleh aku masuk?" Luca mengalihkan topik pembicaraan. Kata-kata Luca membuat Tiffany maupun Viana tersadar dari lamunan.


"Bo-boleh."

__ADS_1


__ADS_2