Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Bukan Malam Biasa


__ADS_3

Ceklek.


Suara pintu kamar terbuka. Tiffany menaruh dua tangan di dadanya. Entah mengapa malam ini jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Terdengar langkah kaki seseorang yang memasuki kamar pengantin itu. Alhasil membuat Tiffany meneguk ludahnya sendiri.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana menghadapinya? Sebelum ini aku dan dia bagaimana ya ketika berinteraksi. Apakah aku harus bertanya apa kau lelah? Sudah jelas jika kami berdua pasti lelah." Tiffany membatin sambil terus berpikir.


Sungguh, pikirannya melayang pada hubungannya dengan Luca. Semua yang terlihat biasa, entah sejak kapan menjadi berbeda. Saat dirinya diculik? Entahlah. Tiffany hanya menyadari bahwa kehadiran Luca ternyata memiliki dampak pada kehidupannya.


"Kau sudah membersihkan diri?" Suara Luca terdengar.


Tiffany memberanikan diri untuk memposisikan tubuhnya duduk di atas ranjang. Tak lama kemudian, Luca menampakkan batang hidungnya.


"Sudah." Tiffany hanya menjawab dengan satu kata saja. Wanita itu tertegun ketika melihat Luca datang dengan setelan tuxedo yang mahal.


"Luca. Laki-laki ini memiliki kehidupan yang luar biasa. Wajah tampan dan tubuh yang tinggi semampai itu pasti mampu menaklukkan banyak wanita. Garis rahangnya yang kokoh. Pun juga bahunya yang lebar. Sungguh sangat sempurna apalagi dengan hidungnya yang cantik dan mancung itu. Hebatnya lagi, dia sudah resmi menjadi suamiku." Tiffany berbicara dalam hati. Ia memuji suaminya yang baru saja ia sadari memiliki wajah rupawan.


"Piyama yang bagus. Kudengar ini pilihan Quinn. Tunggu!" Luca mengobrak abrik piyama yang ada di dalam lemari itu.


Tingkah Luca membuat Tiffany bingung. Wanita itu turun dari ranjang dan berjalan mendekati Luca. Namun, saat Tiffany akan bertanya ternyata Luca malah mendesah.

__ADS_1


"Kenapa? Apakah ada yang tertinggal?" tanya Tiffany.


Mata Luca beralih pada corak piyama yang dikenakan oleh Tiffany. Mata tajam milik Luca membuat Tiffany merinding.


"Kenapa?" ulang Tiffany.


"Kupikir piyama pilihan Quinn bagus. Tapi … kenapa harus dengan kartun barbie?" Luca menggeram kesal.


Sikap Luca membuat Tiffany tersenyum tipis. Ia memberanikan diri untuk menggeser tubuh Luca. Mata Tiffany bergerak liar melihat semua piyama yang dipilih oleh Quinn.


"Sepertinya Quinn ingin kita memakai piyama yang sama. Tadi dia juga menggunakan piyama tidur ini kok. Biarkan saja. Ini, pakailah. Mau aku siapkan air hangat?" Tiffany memberikan setelan piyama yang bercorak barbie.


"Tidak apa. Itu yang membuatmu kaya bukan? Entah sudah berapa kali Quinn memamerkannya padaku sebelum menikah. Tunggulah di sini. Aku akan menyiapkan air hangat." Tiffany pun pergi.


Wanita itu bergerak menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Melihat Tiffany sudah menghilang, Luca pun menyentuh dada bidangnya.


"Ya Tuhan! Jantungku benar-benar tidak bisa dikondisikan. Satu bulan aku menyiapkan pernikahan. Viana membantuku untuk merawat Tiffany dan Quinn karena aku ingin melihat Tiffany bersinar. Si*l! Ternyata aku sudah jatuh hati padanya! Malam ini? Si*l!" Luca memukulkan piyama miliknya mengenai wajahnya. Hal itu dilakukan oleh Luca karena laki-laki itu ingat bahwa ini malam pertama pernikahannya dengan Tiffany.


"Luca! Apa yang kau lakukan?" Tiffany berseru. Wanita itu berjalan cepat mendekati Luca.

__ADS_1


"Ada apa denganmu?" tanya Tiffany.


"Em, aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak habis pikir kenapa Quinn ingin aku memakai piyama tidur bergambar barbie!" Luca menjawab sambil tersenyum.


Tiffany tersenyum. "Mandilah. Dan kau harus tetap memakainya. Jangan sampai Quinn merengek lagi."


"Oke." Luca pun bernapas lega. Ia berjalan menuju ke kamar mandi. Sedangkan Tiffany berjalan menuju ke ranjangnya.


"Tiffany! Bagaimana kalau setelah ini kita berbicara di balkon? Aku ingin kita membicarakan tentang hubungan kita," kata Luca.


Deg.


Tubuh Tiffany membeku. Lalu Tiffany tersenyum kaku. Ia tidak ingin Luca melihat wajah kagetnya.


"Iya. Aku akan mendengarkan apapun yang akan kau katakan," sahut Tiffany.


Setelah mendengarkan jawaban dari Tiffany, Luca pun masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Tiffany yang mulai gelisah.


"Sebenarnya apa yang akan dia bicarakan? Yah, apalagi. Mungkin memang benar dia terpaksa menikah denganku."

__ADS_1


__ADS_2