Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Emosi


__ADS_3

Luca terus menginjak pedal gas. Laki-laki itu memacu kendaraan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia sangat takut melihat Quinn maupun Tiffany terluka. Untuk itulah tanpa sadar Luca menjadi sangat marah.


Meskipun Luca tidak menyadari hal itu tapi terlihat jelas bahwa Luca mulai peduli terhadap Tiffany. Laki-laki itu memang tidak menyadari bahwa Tiffany sudah melekat dalam kehidupannya semenjak ia dekat dengan Quinn. Sebab dalam kepala Luca ia hanya merasa dekat pada Quinn dan tidak pada Tiffany.


"Dasar sialan! Diego, aku membencimu! seharusnya kau tidak menargetkan orang yang tidak bersalah! Apalagi bocah seperti Quinn! Betapa pengecutnya dirimu!" Luca terus menerus meluapkan kekesalannya.


Meski begitu laki-laki Itu juga mulai dilanda panik. Sebab Ia tidak menemukan keberadaan mobil para penculik itu. Akhirnya Luca menginjak rem agar mobil berhenti. Laki-laki itu memukul kemudian saat ia sudah kehilangan jejak.


"Si*l! Bagaimana mungkin mereka bisa pergi secepat itu? Apa mungkin ada jalan lain di sekitar sini?" Luca kembali melajukan mobilnya. Laki-laki itu masuk ke dalam jalur alternatif.


Meskipun laki-laki itu tidak tahu apakah Quinn maupun Tiffany juga melewati jalan ini Ia tetap berusaha untuk mencari jejak mobil penculik. Luca berfokus pada jalanan. Jangan sampai ia menabrak mobil lain dan menjadikannya harus kehilangan jejak dan waktu untuk menyusul musuh.


"Seharusnya Quinn membawa tabletnya. Jika Quinn membawa Tablet itu maka aku bisa melacak keberadaan mobil penculik itu. Ah tidak, itu bukan penculik. Tapi musuh yang sudah lama mengincarku." Luca menghentikan mobilnya lagi.


Laki-laki itu mulai mengeluarkan ponselnya dan mencari GPS yang ada di tablet Quinn. Beruntung sekali Luca dapat mengaksesnya. Sebab Quinn sendiri yang sudah memasang GPS khusus untuk Luca melacak lokasi Quinn.


Hal itu terjadi saat Quinn berupaya untuk membuat Luca percaya padanya. Sehingga Quinn membuat GPS khusus untuk mereka berdua. Tanpa diduga bahwa GPS tersebut lumayan membantu di saat seperti ini.


Setelah menemukan lokasi keberadaan Quinn, Luca kembali memacu mobilnya. Ia semakin dekat dengan jalan yang dilalui oleh mobil musuh. Setelah membawa mobil dengan kecepatan penuh, akhirnya Luca bisa berada di belakang mobil musuh.


"Akhirnya aku bisa menemukan mereka juga. " Mobil Luca terus mengikuti mobil musuh dari belakang.


Setelah mobil tersebut dekat, Luca menabrak mobil pencuri itu. Sehingga membuat mobil tersebut melaju dengan kecepatan yang bertambah cepat. Luca menyadari bahwa musuh mulai menambah kecepatan Luca pun juga tidak ingin kehilangan jejak.


Laki-laki itu pun kembali menginjak pedal gas untuk terus menguntit dari belakang. Aksi kejar-kejaran itu pun tak terelakan. Di situasi yang genting itu Luca terus menghubungi Brox. Anak buahnya yang saat ini tengah memegang kendali di dalam dunia hitam.


"Apakah Anda membutuhkan sesuatu tuan? Tidak biasanya anda menghubungi saya di jam seperti ini. Apakah ada sesuatu yang darurat?" Seolah menyadari sesuatu suara di seberang sana Brox langsung berbicara pada intinya.


"Brox. Aku membutuhkan bantuanmu. Lacak GPS yang ada di mobilku. Lalu susul aku. Aku membutuhkan bantuanmu. Bawa beberapa anak buahmu untuk ikut membantu. Kemungkinan aku membutuhkan banyak anak buah yang dapat membantuku untuk menyelamatkan dua orang." Luca berbicara dengan nada yang panik.

__ADS_1


Hal itu membuat Brox menyadari bahwa dua orang yang dimaksud oleh Luca merupakan orang penting. Juga orang yang berharga bagi Luca. Sebab Luca tidak pernah meminta hal seperti ini padanya.


"Saya paham dengan apa yang Anda katakan Tuan. Kalau begitu saya akan datang secepatnya. Tenang saja saya akan membawa beberapa anak buah yang bisa diandalkan." Brox kemudian mematikan sambungan telepon. Laki-laki itu mulai bergerak sesuai dengan perintah dari Luca.


Di sisi lain Luca masih terus berupaya untuk mengejar mobil di depannya. Laki-laki itu sesekali menabrak mobil musuh. Bahkan Luca mencoba untuk memblokir jalan musuh. Memepetnya dari samping. Akan tetapi, musuh sangat peka. Mereka tidak memberikan kesempatan pada Luca memblokir jalan mereka.


Brak!


Brak!


Tidak ada cara lain. Luca terus berupaya menabrakkan mobilnya di mobil milik musuh. Sekalipun itu beresiko Luca bisa terluka, tapi setidaknya itu membuat mobil musuh sedikit lambat.


"Aku tidak akan membiarkan kalian kabur." Luca membuka satu tempat rahasia. Tempat itu berbentuk kotak.


Laki-laki itu segera mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Sebuah bola yang merupakan gas terkompresi. Luca menekan tombol otomatis pada mobilnya. Sehingga Luca bisa menggerakkan kedua tangannya secara bebas.


Luca tidak mungkin mengarahkannya tepat ke mobil musuh. Itu bisa menyebabkan Tiffany maupun Quinn terluka. Bahkan bisa juga nyawa keduanya tidak bisa diselamatkan.


Walaupun frekuensi ledakan yang diciptakan oleh gas terkompresi tidak besar, tetap saja akan membuat mobil milik musuh terbakar. Hal itu dikarenakan ledakan yang memicu api membesar dan membakar semua penghuni mobil.


"Si*l! Aku tidak bisa menembak tepat ke arah mobil itu. Bisa-bisa nyawa Quinn dan Tiffany lewat begitu saja. Satu-satunya cara yang bisa menghentikan mobil musuh adalah dengan cara memblokir jalan mereka. Itu artinya aku harus mendahului mobil itu. Bagaimana aku bisa melakukannya? Sedangkan mereka sudah melakukannya terlebih dahulu." Luca kembali mengambil alih kemudi. Memang mobil mahal yang dapat melakukannya.


Meski begitu, Luca tidak menyerah. Laki-laki itu terus menginjak pedal gas dan berusaha memepet mobil musuh. Berulang kali Luca melakukannya. Walaupun Luca tahu jika itu semua sia-sia, tetapi setidaknya perjalanan musuh dalam melarikan diri tidak mulus.


"Siapa kalian? Mengapa kalian menculik kami?" Quinn sangat berani bertanya pada musuh.


Dalam situasi terdesak, gadis kecil yang masih berusia 6 tahun 5 bulan itu malah bertanya pada pihak musuh. Di mana para musuh itu sedang menggunakan topeng hitam.


Tiffany yang berada dalam posisi kedua tangan dan kaki terikat itu melebarkan kedua matanya. Ia tidak menyangka bahwa Quinn sangat berani. Ingin sekali Tiffany meminta pada Quinn supaya tidak berbicara aneh-aneh.

__ADS_1


Tiffany sangat ketakutan. Wanita itu hendak berbicara dan melarang Quinn supaya diam. Akan tetapi lidahnya terasa kelu dan susah untuk berbicara. Kata-kata Quinn membuat heran musuh. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya.


"Kau terlalu berani berbicara anak kecil. Kau tahu jika kami semua bisa membunuh orang yang sedang mengejar mobil ini dengan senjata api. Sayangnya, tuan kami tidak memperbolehkannya. Karena tidak menarik jika membiarkannya mati begitu saja." Seorang musuh berbicara dan kini tertawa. Tawanya pun menular pada kawannya yang lain.


"Benar. Jangan banyak bicara, Nak. Nikmati saja perjalanan ini," sambung yang lain.


"Si*l! Dia keras kepala! Mobil ini mungkin tidak akan bertahan lama! Tembak saja mobilnya!" teriak si pengemudi.


"Hei! Bos meminta kita membawa dua orang ini supaya bisa membuatnya sengsara. Kenapa malah dibuat mati begitu saja?"


"Kalau terus begini apa yang harus kita lalukan? Yang ada kita mati! Bilang saja kalau dia mati terus menabrak mobil kita dan akhirnya mobilnya meledak. Yang penting kita menjalankan misi dan mendapatkan uang!" Si pengemudi tidak sabar.


"Benar juga ya! Bos mungkin akan memaklumi. Toh tetap saja nanti kita bisa membantu bos untuk dia mengambil kekuasaan orang ini." Seseorang yang sedang memegang senjata laras panjang itu mulai menurunkan jendela kaca.


Tiffany semakin ketakutan. Wanita itu membalikkan tubuhnya dengan susah payah untuk melihat mobil Luca yang terus berusaha menabrak mobil musuh. Tanpa sadar Tiffany meluruhkan cairan bening yang menumpuk di pelupuk matanya. Tiffany begitu menyesal dengan perlakuan buruk yang ia berikan pada Luca selama ini.


"Maafkan aku, Tuan Luca. Aku selalu merepotkanmu. Seharusnya kau tidak melakukan ini untuk kebaikanmu sendiri. Sekarang, kau ditembak oleh orang yang sedang menculik kami. Apa yang harus aku lakukan? Bolehkah aku memohon supaya kau bisa selamat? Seandainya saat ini aku diberikan kesempatan untuk memilih, aku memilih agar kau bisa menyelamatkan nyawamu sendiri. Ya, kumohon!" Tiffany membatin sedih.


Detik-detik itu, Tiffany menghentikan isakan tangisnya. Kedua matanya melebar tatkala melihat kobaran api di mobil Luca. Pun sama halnya dengan Tiffany, Quinn syok melihat mobil Luca meledak. Timah panas itu sepertinya tepat menembus bahan bakar mobil Luca. Sehingga memicu ledakan besar dan kobaran api.


"Paman Luca!"


"Tuan Luca! Tuan Luca!"


Baik Quinn maupun Tiffany terus berteriak keras. Keduanya sama-sama takut kehilangan Luca. Dengan kobaran api sebesar itu, sangat mustahil seseorang bisa selamat. Asap tebal membumbung tinggi. Asap yang berwarna hitam itu menandakan betapa dahsyatnya ledakan itu.


Tak ayal kejadian itu membuat Tiffany menangis histeris. Pun juga dengan Quinn yang sebelumnya masih tenang begitu menyadari Luca berhasil menguntit dari belakang. Namun, sekarang Quinn menjadi sangat panik dan ketakutan.


Akankah Luca berhasil selamat? Lantas bagaimana nasib Quinn dan Tiffany?

__ADS_1


__ADS_2