Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Bertahan


__ADS_3

"Kurang ajar kau, Diego!" Luca mulai mengambil senjata api. Laki-laki itu kemudian menembak secara brutal.


Sebab kebrutalan itulah, membuat entah tembakan Luca tepat sasaran atau tidak. Sebab Luca pun khawatir terhadap nyawa Tiffany. Kedua tangan Luca yang gemetar membuat Luca tidak dapat menembak secara benar.


"Paman Luca, tolong Mommy!" Suara Quinn kembali menggema di telinga Luca.


Luca membuang senjata api miliknya. Kemudian Luca berlari ke tempat di mana Tiffany tergolek lemas. Wanita itu masih bernapas.


"Sebagian ikut aku! Sisanya kalian ratakan tempat ini dan jangan biarkan si bangs*t itu kabur! Cepat! Hei! Tunggu-tunggu, tolong kau gendong dia! Yan, tolong gendong Quinn!" Luca mulai memberikan aba-aba pada anak buahnya.


Secepat kilat Luca mulai berlari sambil menggendong Tiffany. Sesekali terdengar Tiffany terbatuk. Luca terus membawa Tiffany pergi dari mansion tersebut.


Untuk pertama kalinya Luca memberikan perhatian terhadap Tiffany. Di belakang Luca ada Quinn yang terus menangis. Luca memahami kalau Quinn takut kehilangan Tiffany.


"Kumohon bertahanlah. Seharusnya aku mencegahmu untuk tidak melakukan hal gila ini. Padahal aku sudah menggunakan rompi anti peluru. Tidak mungkin ada peluru yang menembus tubuhku. Kalau memang wanita yang bodoh!" Luca mengomel saat ia berlari sambil menggendong Tiffany.


Beberapa anak buahnya menatapnya dengan tatapan bingung. Akan tetapi Luca tidak peduli. Ia terus berlari menuju ke tempat Brox maupun mobilnya berada.


"Seharusnya kau tidak menyelamatkan aku. Aku tidak heran kalau kau selalu membuatku kesal. Tapi kali ini aku tidak merasa kesal padamu. Kali ini aku akan memaafkanmu. Jadi, tolong bertahanlah!" Terus saja Luca masih mengomel.


Ia bahkan tidak memperdulikan anak buahnya yang berniat untuk menggantikan dirinya menggendong Tiffany. Sampai di mana Iya telah berada di tempat Brox Bersembunyi.


"Tuan Luca, anda baik-baik saja?" tanya Brox.

__ADS_1


"Apa matamu buta? Kau tidak lihat kalau aku baik-baik saja? Aku baik-baik saja tapi wanita bodoh ini malah terluka. Dia benar-benar menyebalkan dan menjengkelkan,"Jawab Luca dengan nada yang kesal.


"Bagaimana bisa wanita itu terluka Tuan Luca?" Lagi lagi Brox melemparkan pertanyaan yang semakin membuat Luca kesal.


"Kalau kau berani banyak bicara Aku akan membunuhmu. Cepat siapkan mobil dan Ayo pergi ke rumah sakit," ancam Luca.


Brox memilih untuk Diam tidak menjawab. Tetapi Brox bergegas untuk masuk ke dalam mobil. Ia tidak ingin membuat Luca semakin marah. Quinn juga masuk ke dalam mobil.


Brox dengan cepat memacu mobilnya menuju ke rumah sakit. Seperti biasa di dalam mobil Luca terus mengomeli Brox dengan banyak omelan. Lantaran Brox mengendarai mobil dengan kecepatan yang masih terlalu lelet bagi Luca.


"Apa kau tidak bisa lebih cepat lagi?" Kesal Luca.


"Ini juga sudah cepat, Tuan," sahut Brox dengan santai.


"Brox! Jangan main-main! Dia terluka! Aku yakin wanita menyebalkan ini pasti tengah kesakitan! Ayo, buruan Brox! Bisa-bisa dia kehabisan darah!" bentak Luca.


Luca yang merasa tersinggung pun terdiam. Ia tidak berani menyahut karena Quinn sedang panik dan khawatir. Meskipun Quinn mengejek Luca, air mata Quinn masih dengan deras mengalir membasahi kedua pipinya.


Perlahan, pandangan Luca turun pada Tiffany yang memejamkan kedua matanya. Ia menatap lekat pada Tiffany. Entah bisikan apa yang membuat Luca membawa tangannya untuk mengusap pipi Tiffany. Baru kali ini Luca menyadari bahwa Tiffany memiliki kulit yang bersih.


"Siluet tubuh ini? Mengapa aku tidak asing? Mungkinkah aku dan Tiffany pernah berhubungan? Maksudku sebagai teman atau yang lainnya. Aih tidak mungkin. Tiffany kan sangat miskin. Aku tidak mungkin bertemu dengannya di pesta manapun." Luca membatin aneh.


Laki-laki itu merasa familiar terhadap Tiffany. Luca pun berupaya keras mencoba mengingat Tiffany. Tetapi hasilnya justru nihil. Luca sama sekali tidak dapat menemukan memory ia dan Tiffany pernah saling mengenal.

__ADS_1


"Ya, itu tidak mungkin." Luca menggumam lirih.


"Paman Luca berbicara apa?" tanya Quinn.


Luca menoleh. Laki-laki itu baru menyadari jika Quinn terus memperhatikannya. Sejenak, Luca termenung.


"Semoga ibumu bisa diselamatkan." Luca memilih tidak membahas apapun. Meskipun Luca tahu kalau Quinn bisa terluka mendengarkan jawabannya.


Setelah melewati jalanan beraspal, mobil mulai memasuki area parkir di sebuah rumah sakit. Semua orang yang ada di dalam turun dari mobil.


"Dokter! Dokter! Tolong!" Luca berteriak heboh. Ia berlari mencari dokter maupun perawat yang akan menangani Tiffany.


"Bawa ke ruang UGD!" titah seorang perawat.


Luca mendorong sendirian ranjang pesakitan yang terdapat Tiffany di sana. Ia tidak menggubris para perawat yang ingin membantunya. Setibanya di UGD, saat Luca berniat ikut masuk, sang dokter pun menahan Luca.


"Anda tunggu di sini saja. Kami akan menangani pasien," ucap sang dokter.


"Tapi, Dokter! Aku ingin tahu bagaimana keadaannya!" desak Luca.


"Maaf, Tuan. Ini sudah menjadi prosedur di rumah sakit ini." Sang dokter pun berlalu pergi. Meninggalkan Luca dan Quinn berdiri di tepat di depan pintu.


"Ya Tuhan!" Luca mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Kumohon, bertahanlah, Tiffany. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri." Luca menggumam dalam hati. Laki-laki itu menjatuhkan bokongnya di kursi tunggu. Tak lama setelahnya, Quinn pun duduk di samping Luca.


"Apa, Mommy akan selamat, Paman Luca?"


__ADS_2