Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Cerai


__ADS_3

Dante baru saja tiba di rumah. Pria itu turun dari mobil dan melangkah tergesa-gesa. Dia membawa map ditangannya. Dilihat dari ekspresi wajahnya pria itu sama sekali tidak bersahabat. Seperti ada masalah besar yang terjadi di perusahaannya. Bahkan salam selamat datang yang diucapkan oleh pengawal yang berjaga di depan pintu juga tidak lagi ia dengar.


"Dimana Sera?" Dante menahan langkah kakinya ketika ia bertemu dengan pelayan yang selalu menjadi tangan kanan istrinya.


"Nona Sera ada di kolam renang Tuan," jawab pelayan itu sambil menunduk hormat.


Dante segera melangkah cepat menuju ke arah kolam renang. Pria itu seperti sudah tidak memiliki waktu lagi. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Sera.


BYURR


Sera melompat ke dalam kolam renang lalu wanita itu berenang ke tepian. Dia masih belum sadar akan kehadiran Dante di sana. Memang seharusnya di jam sekarang Dante masih ada di perusahaan. Pria itu belum pernah pulang cepat sebelumnya.


Dante berjalan ke tepian kolam. Pria itu berdiri di sana sembari memperhatikan Sera dengan tatapan penuh kebencian.


Ketika sudah tiba di tepian kolam, Sera segera naik ke atas. Wanita itu kaget bukan main melihat suaminya ada di hadapannya.


"Dante, Kau sudah pulang? Apa sekarang sudah sore?" Sera masih tidak percaya kalau suaminya pulang cepat.


"Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Dante. Bahkan pria itu tidak mau memandang wajah istrinya secara langsung.


"Ada apa? Kenapa wajahmu serius sekali?" Sera terlihat bingung. Dia mengikuti Dante yang kini berjalan menuju ke arah meja. Sambil berjalan, Sera memakai handuk dan mengeringkan rambutnya agar tidak kedinginan.

__ADS_1


Dante mengambil map yang sudah ia persiapkan di atas meja. Pria itu memberikannya kepada Sera.


"Apa ini?" tanya Sera bingung. Wanita itu segera memeriksa isi di dalamnya.


Betapa kagetnya Sera ketika dia tahu kalau isi di dalam map itu adalah surat cerai. Hatinya semakin hancur ketika melihat tanda tangan Dante sudah terpampang jelas di sana. Napasnya terasa sesak. Bibirnya sulit untuk mengeluarkan kata-kata lagi. Rasanya wanita itu ingin menampar suaminya dengan begitu keras. Namun sayangnya ia tidak bisa melakukannya.


"Pernikahan kita sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Aku tidak bahagia menikah denganmu. Dulu satu-satunya alasanku mau menikah denganmu karena mama menginginkan cucu dan aku pikir kau bisa memberikanku anak. Tetapi sampai detik ini kau tidak juga hamil. Jadi jangan salahkan aku jika aku mengambil keputusan untuk mengakhiri pernikahan kita," jelas Dante.


Dia memang terlihat seperti pria yang sangat kejam. Tetapi mau bagaimana lagi. Dante juga sudah tidak tahan untuk melanjutkan pernikahannya bersama dengan Sera. karena tidak ada sedikitpun rasa cinta di dalam hatinya untuk Sera.


"Tidak. Aku tidak mau cerai darimu. Aku sangat mencintaimu Dante!" teriak Sera. Wanita itu segera mengoyak surat cerai tersebut lalu ia membuangnya ke kolam renang.


"Apa ini karena wanita itu kau ingin kembali padanya bukan?" teriak Sera.


"Masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Tiffany. Selama ini aku menjalani pernikahan ini karena permintaan mama. Bahkan sebelum Tiffany kembali muncul di dalam kehidupanku, Aku sudah tidak tahan untuk hidup bersamamu."


"Sekarang aku ingin bertanya padamu, bagaimana caranya aku bisa hamil jika kau tidak pernah menyentuhku? Apa kau pikir janin itu bisa muncul dengan sendirinya di dalam rahimku? Dante, tolong jangan seperti ini. Kita masih bisa memiliki pilihan lain. Kita akan perbaiki pernikahan kita. Kita harus menjadi keluarga yang harmonis agar kita bisa segera mendapatkan keturunan. Aku janji akan berubah menjadi istri yang baik sesuai dengan apa yang kau inginkan. Tetapi tolong jangan tinggalkan aku."


Sera memegang tangan Dante. Wanita itu mulai meneteskan air mata. Dia tidak peduli jika harus menurunkan harga dirinya. Yang penting Dante tidak jadi menceraikannya.


"Cukup, Sera! Kau bisa menemukan pria yang jauh lebih baik daripada aku. Sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah bisa membahagiakanmu."

__ADS_1


"Tidak, Dante! Tidak seperti itu. Aku sangat bahagia menjadi istrimu. Selama ini aku tidak pernah mengeluh dengan sikapmu yang dingin Karena aku berharap suatu saat nanti kau bisa berubah dan menjadi suami seperti yang aku impikan."


"Sayangnya mimpimu itu tidak akan pernah menjadi nyata. Bukankah sejak awal pernikahan kita aku sudah pernah bilang kalau di hatiku hanya ada nama Tiffany. Sampai kapanpun nama wanita itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh wanita lain. Tetapi kau seperti tidak peduli dan tetap mau melanjutkan pernikahan ini. Sekarang jangan salahkan aku jika pada akhirnya aku menyerah. Aku akan menyerahkan rumah ini untuk menjadi tempat tinggalmu. Mulai detik ini aku tidak lagi menjadi penghuni rumah ini. Aku akan meminta pengacaraku untuk mengurus proses perceraian kita."


Dante ingin segera pergi meninggalkan Sera namun dengan cepat Sera menarik tangan pria itu.


"Tolong, Dante. Jangan tinggalkan aku. Selamanya rumah ini akan menjadi milik kita berdua," lirih Sera lagi.


Dengan kasar Dante menghempaskan tangan Sera sampai wanita itu jatuh terduduk di lantai. Walaupun begitu Ia tetap tidak peduli jika istrinya sampai cedera.


Sera menghapus air mata yang membasahi pipinya. Wanita itu berdiri di tepian kolam renang sambil menatap tajam ke arah Dante yang semakin menjauh.


"Dante, jika aku tidak bisa lagi menjadi istrimu maka aku tidak mau hidup di dunia ini lagi. Aku akan lompat ke dalam kolam renang ini dan mati dengan cara tenggelam. Aku lebih baik mati daripada harus berpisah denganmu," ancam Sera. Wanita itu tidak memiliki pilihan lain lagi saat ini selain mengancam Dante.


"Terserah kau saja Sera. Tetapi apapun yang kau lakukan aku sudah tidak lagi peduli denganmu!" teriak Dante agar Sera bisa mendengarnya.


"Aku tidak main-main, Dante. Aku akan melompat sekarang juga!"


Dante memutar tubuhnya. Pria itu ingin melangkah pergi. Namun tiba-tiba saja dia mendengar suara seseorang melompat ke dalam kolam renang. Dante menahan langkah kakinya sambil mengepal kuat tangannya. Dia tahu kalau Sera wanita yang nekad. Wanita itu pasti berani melakukan apa saja asalkan bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Maafkan aku, Sera. Tetapi kita lebih baik berpisah. Dengan begitu kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri." Dante melanjutkan langkah kakinya meninggalkan rumah itu tanpa peduli dengan keadaan Sera yang baru saja melompat ke kolam renang untuk bunuh diri.

__ADS_1


__ADS_2