Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Jalan Terakhir


__ADS_3

Sera sudah ada di sekolah Quinn. Wanita itu tidak memiliki pilihan lain kali ini. Dia tidak mungkin mencelakai Tiffany karena di sisi wanita itu sekarang sudah ada Luca. Hanya Quinn satu-satunya target Sera kali ini.


Sera segera keluar dari mobil ketika melihat Quinn sudah keluar dari pagar sekolah. Wanita itu segera berlari menghampiri Quinn.


"Hei anak kecil. Ikut denganku." Sera segera menarik tangan Quinn. Wanita itu sama sekali tidak peduli ketika Quinn berteriak minta tolong. Dia cepat-cepat mendorong Quinn agar masuk ke dalam mobil.


"Lepaskan Nona Quinn!" teriak Brox. Ternyata pria itu yang bertugas menjemput Quinn kali ini. Memang Brox memparkirkan mobilnya sedikit menjauh. Itulah yang membuatnya kalah cepat dengan Sera.


Sera yang sudah letak segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Wanita itu tidak mau sampai tertangkap oleh Brox.


"Tante, Tante mau membawaku ke mana? Paman Luca pasti akan menghukum Tante."


"Diam anak kecil!" umpat Sera. Wanita itu melirik kaca spion. Brox masih mengikutinya di belakang. "Sepertinya mereka tidak akan tinggal diam. Aku harus bisa lolos dari pria ini."

__ADS_1


"Ketika di persimpangan jalan, lampu mereka baru saja hidup. Sedangkan Sera sama sekali tidak peduli. Wanita itu terus saja melajukan mobilnya. Memang dia sudah gila. Penolakan Dante membuatnya seperti mayat hidup.


"Tante, hati-hati!" teriak Quinn. Anak kecil itu ketakutan. Dia berpegangan sambil sesekali memperingati Sera. "Tante, semua masalah bisa dibicarakan."


"Diam anak kecil," teriak Sera lagi.


Melihat Brox masih belum menyerah, Sera menaikan kecepatan mobilnya. Wanita itu sama sekali tidak peduli dengan keselamatannya sendiri.


"Tante, awas!" teriak Quinn.


Sera yang panik segera menginjak rem. Namun sayangnya kecepatan mobil yang begitu tinggi dan jarak mobil dengan truk yang sangat dekat membuat kecelakaan tidak bisa dihindari. Hingga akhirnya bagian depan mobil yang ditumpangi Sera ringsek karena menabrak bagian belakang truk tersebut.


Brox menahan laju mobilnya. Pria itu segera turun dan berlari. Dia merasa bersalah karena sudah gagal menjaga Quinn. Pria itu memeriksa keadaan Quinn tanpa peduli dengan keselamatan Sera.

__ADS_1


"Nona Quinn," ujar Brox. Dia memeriksa Quinn apa masih bernapas atau tidak. Meskipun kini wajah Quinn dipenuhi darah tetapi anak kecil itu masih bernapas.


"Kita ke rumah sakti sekarang." Brox segera mengangkat Quinn dan melarikannya ke rumah sakit. Sambil melajukan mobilnya, pria itu tidak hentinya menyalahkan dirinya sendiri.


"Tuan Luca pasti menyalahkanku."


Di perusahaan, Luca memeriksa laporan bulanan yang sudah di tumpuk di meja. Pria itu merasa tidak tenang. Padahal sebelumnya dia terlihat bersemangat.


"Aneh, kenapa tiba-tiba aku memikirkan Quinn?" Luca mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Brox dan memastikan pria itu sudah bersama dengan Quinn.


Namun panggilan telepon Luca tidak langsung di angkat oleh Brox. Pria itu terlalu panik melihat keadaan Quinn sampai tidak peduli dengan ponselnya sendiri.


"Berani sekali Brox tidak mengangkat panggilan teleponku!" umpat Luca marah. Pria itu mengambil laptopnya dan ingin melacak keberadaan Quinn melalui GPS yang sudah ia rancang. Kedua mata pria itu melebar ketika mengetahui kalau Quinn sedang berada di rumah sakit. "Apa yang terjadi? Kenapa Quinn ada di rumah sakti?" Luca segera menutup laptopnya. "Semoga Quinn baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2