Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Happy Ending


__ADS_3

Tiffany dan Luca menikmati semilir angin di balkon. Keduanya meresapi angin yang menyapu wajah dan tubuhnya. Pun juga Tiffany memejamkan mata. Suasana hati wanita itu sangat tenang malam ini.


"Bagaimana suasana hatimu malam ini, Tiffany?" Luca membuka pembicaraan. Laki-laki itu bahkan tidak menoleh ke arah Tiffany.


Sedangkan Tiffany, ia membuka mata dan kemudian melirik ke arah samping. Luca bersedekap di dada sambil matanya menatap lurus ke depan.


"Aku? Sulit untuk digambarkan. Entah bagaimana sebenarnya hatiku. Kita menikah terlalu mendadak. Sejujurnya aku takut." Tiffany memberanikan diri untuk mengeluarkan isi hatinya.


Luca kali ini menoleh dan memandang Tiffany. Seperkian detik berikutnya keduanya menjadi salah tingkah dan saling mengalihkan pandangan. Namun, hati jantung Tiffany malah berdebar tak karuan.


"Malam ini kita bisa saling mengeluarkan isi hati kita. Apapun itu kita harus membicarakannya. Jangan sampai memendamnya seorang diri. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Walaupun itu sulit karena sejatinya kita adalah dua orang asing yang tiba-tiba saja menjalin hubungan." Luca mulai menjelaskan dengan hati-hati.


Ia tidak ingin apabila Tiffany menjadi salah paham padanya. Luca harus menyelesaikan semuanya sebelum ia dan Tiffany salah dalam mengartikan hubungan mereka.


"Untuk Itulah kenapa aku mengatakan jika aku sangat takut dengan pernikahan ini." Tiffany mulai berani mengungkapkan permasalahan di dalam hatinya.


Kesunyian mulai terasa saat rica tidak segera menyambut. Laki-laki yang berdiri di samping Tiffany itu masih terus memandang lurus ke depan. Hal itu membuat Tiffany melirik Luca.


"Apa tujuanmu mengajakku menikah? Kita berdua tahu bahwa tidak ada perasaan apapun dalam pernikahan kita," ucap Tiffany.


"Justru karena kita berdua tahu bahwa tidak ada perasaan apapun. Aku ingin kita mulai dari awal. Biarkan perasaan itu tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Aku juga tidak ingin mempermainkan pernikahan ini. Aku serius ingin menikah denganmu. Selain karena kita memiliki Quinn. Bagiku memiliki sebuah keluarga denganmu mulai menjadi keinginan terbesar keduaku. Aku ingin rasa cinta itu hadir dengan tanpa paksaan. Orang mengatakan bahwa kita bisa mencintai seseorang dengan seiring waktu kita bersama." Luca kembali terdiam.


Tiffany kini menatap laki-laki itu. Wanita itu juga tidak ingin mempermainkan sebuah pernikahan. Tiffany sebelumnya berpikir jika Luca tidak terlalu mengharapkan hubungan baik dalam pernikahan dadakan ini.

__ADS_1


"Tapi, entah sejak kapan perasaan aneh ini terus membayangiku," kata Luca.


"Perasaan aneh apa?" Tiffany bertanya dengan tidak sabar. Wanita itu menatap lekat Luca yang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


"Sejak beberapa waktu yang lalu. Aku selalu takut berjauhan denganmu. Juga aku sangat gelisah dan khawatir saat kau berada dalam bahaya. Itu cukup hampir membuatku gila, Tiffany," ungkap Luca.


Deg!


Jantung Tiffany berdetak tidak karuan. Bila dipikirkan sekali lagi, ia juga memiliki perasaan yang aneh. Terkadang hatinya berdebar tidak karuan ketika Luca berada dekat dengannya.


Juga perasaan kesal saat ada wanita yang berusaha mendekati Luca. Tiffany tidak sadar. Bahwa hatinya telah menerima Luca sebagai orang yang spesial di hatinya.


"Hatiku juga berdebar ketika bersamamu. Orang bilang itu namanya cinta. Tapi, aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Bukankah itu sangat mengecewakan? Aku terlalu bodoh." Luca kini menatap Tiffany. Kemudian dia memalingkan wajahnya dan menutup mulut menggunakan tangannya.


Luca menggelengkan kepala. "Aku selalu tidak bisa menahan diri ketika bersamamu. Jangan mendekat! Jaga jarak, Tiffany! Kau hampir membuat jantungku mau copot!"


Kini justru jantung Tiffany yang berdebar kencang. Ia bisa melihat dengan jelas wajah Luca yang memerah karena malu. Tiffany pun mendadak salah tingkah.


Sudah sangat jelas bagaimana reaksi Luca malam ini terhadapnya. Bukankah sebelumnya Tiffany sudah pernah merasakan jatuh cinta? Ya, Luca sepertinya sudah mengatakan dengan jujur bagaimana isi hatinya.


"Apa hatimu juga berdebar ketika aku bersamamu?" tanya Tiffany.


"Argh, si*l! Tapi, begitulah yang terjadi. Ini membuatku gila!" Luca menjawab tanpa melihat ke arah Tiffany.

__ADS_1


Sepertinya tanpa perlu bertanya lagi, Tiffany tahu apa yang terjadi. Luca memiliki rasa cinta untuknya. Mungkin karena selama ini Luca tak pernah jatuh cinta. Sehingga sangat sulit untuk menjelaskan tentang perasaan cinta pada Luca.


"Ka-kalau begitu, apa yang kau inginkan dalam pernikahan kita? Apakah suatu saat kau akan membuangku setelah kau bosan padaku?" Tiffany memancing Luca. Ia ingin tahu apakah tebakannya itu benar atau tidak.


Luca berjalan mendekati Tiffany. Laki-laki itu akhirnya menggenggam tangan Tiffany. "Siapa yang bilang? Sangat sulit bagiku untuk jatuh cinta. Kau tahu em. Ya, aku sudah memikirkannya dengan sangat matang."


"Lalu?" Tiffany mendesak. Sekuat tenaga ia menahan rasa ingin tertawa. Ekspresi wajah Luca sangat lucu.


"Ya Tuhan! Jadi benar dia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun?" batin Tiffany terkejut.


Luca menggeram. Ia pun memutar bola mata kesal. "Haish!"


Sekujur tubuh Tiffany membeku. Kedua matanya melotot sempurna ketika bibir lembut Luca mendarat di bibirnya. Wanita itu tertegun.


"Apakah dengan begitu sudah jelas bagaimana perasaanku?" Luca bertanya setelah ia mencium Tiffany.


"Belum! Katakan jika kau ingin bersamaku bukan karena Quinn. Tapi karena aku. Itulah alasan mengapa kau berani mengambil keputusan untuk menikahiku. Katakan itu, Luca!" Aneh. Tiffany menjadi semakin menggebu-gebu. Seolah wanita itu sangat menginginkan pengakuan dari Luca. Pengakuan bahwa hati keduanya saling terpaut.


"Ya! Aku menikahimu karena aku juga tak rela kehilanganmu! Terlebih, mantan suami bajing*nmu itu selalu berusaha untuk menempel padamu. Jadi, mari kita hidup bersama, Tiffany. Dalam suka dan duka!" Kali ini Luca mencium bibir Tiffany. Lebih dalam dan Tiffany yang terlena pun membalas ciuman panas itu.


"Aku…telah jatuh ke dalam hatimu. Terkungkung dalam pesonamu. Kumohon, jadilah cinta sejati untukku terlepas apapun yang sudah mengikat kita berdua," batin Tiffany dalam hati.


Sesuatu yang indah dan menggelora telah memenuhi kamar pengantin itu. Harapan dan cinta terus mereka ungkapkan dalam hati. Malam yang panas itu menjadi milik mereka.

__ADS_1


__ADS_2