Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Pasar Malam


__ADS_3

Setelah itu mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil mewah milik Luca. Dan khusus untuk malam ini Luca membawa mobil itu sendiri agar bisa duduk bersebelahan dengan Tiffany di depan. Joni sudah tersingkirkan. Luca sudah meminta Joni dan Viana untuk tetap tinggal dan menjaga rumah Tiffany.


“Paman, nanti aku mau naik wahana yang tinggi itu ya,” pinta Quinn yang gini duduk di bagian belakang sendirian.


“Tentu saja, apa pun yang kau inginkan pasti akan Paman berikan,” sahut luca sendari membawa mobil tersebut meninggalkan jalanan di depan rumah Tiffany.


“Wah, asik!“ seru Quinn. Ya, hati gadis kecil itu benar-benar merasa senang. Apalagi Paman yang ia impikan bisa menjadi ayahnya itu mau memanjakannya layaknya seperti seorang ayah yang asli.


“Tuan, Anda jangan terlalu memanjakan Quinn,” ujar Tiffany yang merasa agak tak enak hati.


“Aku tidak memanjakannya, hari ini aku memang sedang ingin bersenang-senang saja,” sahut Luca sembari melirik ke arah tiffanynya saat ini sedang menatap ke jalanan yang ada di depan mereka.


Mendengar laki-laki di sampingnya itu, Tiffany pun hanya bisa menghela napas panjang. “Ya sudahlah, mau bagaimana lagi biarkan saja,” batinnya sembari terus menatap ke arah depan.


Setengah jam berlalu akhirnya mereka pun sampai di taman festival. Mereka yang sudah sampai di parkiran pun segera turun. Namun kali ini Quinn bukannya menggandeng tangan Tiffany, justru memilih untuk bergandengan tangan dengan Luca. Sedangkan Tiffany yang saat ini berjalan di belakang kedua orang tersebut pun merasa ada suatu getaran di dalam hatinya.


“Pasti bagus andaikan benar dia laki-laki malam itu,” batin Tiffany sembari terus melangkah mengekor kedua orang tersebut.


Membeli tiket masuk seperti yang seharusnya dan kemudian keseruan malam itu pun dimulai.


“Paman aku ingin naik kuda itu ya,” ucap Quinn sembari menunjuk ke arah komedi putar yang terlihat ramai pengunjung.


“Quinn tapi di sana banyak orang, nanti Tuan luca—” Kalimat Tiffany terhenti ketika tiba-tiba saja Luca menepuk pundaknya.


“Sudah aku katakan malam ini aku ingin melihat Quinn bersenang-senang jadi jangan memikirkan aku,” bisik Luca.


Setelah itu Luca pun segera kembali mendekati Quinn. Mereka berdua melangkah pergi ke komedi putar, sedangkan Tiffany kembali mengikuti kedua orang tersebut.


“Tuan, apa kau yakin tidak apa-apa di sini? Bagaimana kalau ada yang memfoto, apakah ini tidak masalah?“ tanya Tiffany yang merasa khawatir dengan hal itu, bagaimanapun juga Luca adalah orang terpandang akan jadi masalah jika ada yang mengenalinya di sini bersama dirinya dan Quinn.


“Aku jamin tidak akan terjadi masalah apa pun, kau tenang saja,” sahut Luca sembari menoleh dan tersenyum santai pada Tiffany.


Namun Tiffany yang diberi senyuman pun membalas senyuman itu dengan canggung. Kemudian ia menatap Luca dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kalau penampilannya seperti ini siapa yang tidak akan khawatir,” batinnya.


“Ada apa?“ tanya Luca yang merasa aneh ditatap seperti itu oleh Tiffany.

__ADS_1


Kemudian Tiffany pun mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. “Maaf seribu maaf ya Tuan, Anda jangan marah.“


“Iya katakan saja,” sahut Luca dengan santai.


Sebuah senyum canggung pun mengawali kalimat Tiffany. “Itu … ini masalah penampilan Anda.“


“Penampilanku?“


“Apa ada yang salah dengan penampilanku? Apa dia merasa aku menjadi terlalu tua dengan penampilan formal seperti ini? Atau jangan-jangan baginya aku memalukan menggunakan setelan seperti ini?“ pikir luca sembari menatap kemeja yang digunakannya.


Iya sudah bertanya pada asisten kepercayaannya tentang penampilannya kali ini. Dan dia mengatakan kalau dia itu sangat tampan dengan pakaian semi casual yang digunakannya saat ini.


“Apakah ini tidak pantas?“ tanya Luca sembari mengerutkan dahinya.


Langsung saja Tiffany menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukan, bukan tidak pantas. Pakaian Anda terlalu formal untuk berjalan-jalan di tempat ini,” jawabnya sembari melirik ke sekitar dan melihat orang-orang yang sedari tadi mencuri pandang ke arah mereka.


Ya, bagaimanapun juga pakaian Luca saat ini memang cukup mencolok jika dibandingkan dengan orang lain. Tapi Tiffany tidak bisa menyalahkan siapa pun, bagaimanapun juga Luca adalah orang yang dari kecil memiliki sendok emas. Ia bahkan ragu jika Luca memiliki kaos oblong seperti orang-orang biasa lainnya.


“Apa benar ini terlalu formal?“ tanya Luca yang sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tiffany.


Sesaat kemudian Luca pun mengarahkan pandangannya ke sekitar tempat itu. Dan benar saja dia melihat para laki-laki di sana hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek. “Apa aku harus berpakaian seperti mereka?“ tanyanya.


“Tidak harus seperti mereka sih, Tuan. Tapi jika Anda memakai pakaian seperti ini, pasti Anda akan menarik perhatian banyak orang,” beber Tiffany.


“Baiklah kalau begitu, apa kau tahu di mana tempat untuk membeli pakaian seperti mereka?“ tanya Luca.


“Tahu,” sahut Tiffany dengan cepat.


“Baiklah kalau begitu setelah ini antarkan aku ke tempat itu, aku akan mengganti bajuku,” ucap Luca sembari kembali menatap ke arah Quinn yang saat ini sedang tersenyum ke arah mereka sembari melambaikan tangan seperti para anak kecil lainnya yang sedang bermain komedi putar.


Lebih dari sepuluh menit menunggu akhirnya Quinn pun selesai bermain komedi putar. Setelah itu seperti yang direncanakan kemudian mereka pun segera pergi ke sebuah stand yang menjual pakaian-pakaian santai.


“Apa benar ini harganya?“ bisik Luca sembari sendari mengerutkan dahinya menatap harga-harga yang dipajang di stand tersebut.


Tiffany tahu dengan betul Luca bukan kaget karena harga tersebut terlalu mahal, tapi pastinya harga itu terlalu murah untuk dirinya yang selalu menggunakan barang-barang branded dengan harga yang pastinya tidak murah.

__ADS_1


“Betul Tuan ini memang harganya,” sahut Tiffany sembari mengambil salah satu kaos oblong dan menempelkannya di tubuh Luca.


“Wah sangat cocok Nyonya. Suami Anda ini memiliki wajah tampan dan tubuh yang bagus, pakai baju mana pun pasti cocok,” ujar penjual yang mempromosikan dagangannya.


“Suami, bagus juga sebutan itu,” batin Luca sembari menatap Tiffany yang salah tingkah.


“Bukan Mbak, ini bukan suami aku,” sanggah Tiffany sembari menoleh ke arah penjual tersebut.


“Benar, aku belum menjadi suaminya. aku masih calon suaminya,” sahut Luca sembari mandiri ke arah Tiffany.


Langsung saja Tiffany tersentak mendengar sahutan tersebut, ia pun balas menoleh ke arah Luca. “Tuan, jangan sembarangan,” tukasnya.


Langsung saja Luca terkekeh melihat ekspresi wajah Tiffany.


“Wah, apa benar Paman Luca ini calon Papa Quinn?“ tanya Quinn yang sedari tadi memperhatikan percakapan ketiga orang tersebut.


“Quinn, bukan begit—”


“Apa Quinn nosuka pada Paman?“ tanya luca sembari mengusap lembut kepala Quinn.


“Tentu saja suka,” sahut Quinn dengan penuh semangat.


“Hiss … Quinn,” tegur Tiffany.


“Kenapa Mom? Bukankah kata Mommy Quinn harus jadi anak yang jujur dan pemberani. Quinn ini sudah jujur pada Paman Luca,” sahut gadis kecil tersebut yang tidak terima karena ditegur oleh Tiffany.


Tiffany pun menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya dan kemudian menggeleng pelan mendengar sahutan dari Putri kecilnya tersebut. “Quinn … Quinn,” gumamnya.


Melihat hal itu Luca pun segera kaos yang tadi dipilihkan oleh Tiffany. “Menurutmu Paman pantas menggunakan kaos ini?“ Tanyanya sembari menempelkan kaos tersebut di badannya.


“Tentu saja Paman pantas. Paman itu kan laki-laki paling tampan di dunia,” jawab gadis kecil tersebut sembari menggerakkan tangannya ke kanan ke kiri mengekspresikan dunia yang ia maksud.


“Kalau begitu kau harus memilihkan celana untuk kaos ini,” pinta Luca sembari mencubit lembut pipi Quinn.


Langsung saja gadis kecil itu mengacungkan dua jempolnya. Segera saja Quinn dengan semangat memilihkan model celana untuk Luca. Sedangkan Tiffany saat ini hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah anak semata wayangnya yang begitu semangat melakukan tugas dari Luca.

__ADS_1


“Quinn … Quinn,” gumamnya sekali lagi.


__ADS_2