
"Quinn. Mengapa kau sangat dekat dengan Tuan Luca?" Tiffany bertanya kepada putrinya Mengapa Quinn begitu dekat dengan Luca.
Sebab selama ini Quinn tidak pernah dekat dengan siapapun. Gadis kecilnya itu terlalu pemilih dalam berteman dengan teman sebayanya. Bahkan orang tua yang seusianya juga tidak mudah untuk mendekati Quinn.
Lantas Bagaimana bisa Quinn sangat dekat dengan Luca? Tiffany berusaha untuk menenangkan diri. Wanita itu mencoba menahan diri supaya tidak terlalu takut meskipun ia sangat ketakutan. Karena Tiffany tidak ingin kalau Quinn Juga akan ketakutan sama seperti dirinya.
"Mommy, aku sudah berapa kali mengatakan kalau Paman Luca itu sangat baik. Mommy saja yang tidak mempercayai Quinn. Kata orang jika kita tidak kenal maka tidak akan sayang. Seperti itulah bagaimana Paman Luca bermain bersamaku. Tapi alih-alih untuk bermain, Paman Luca justru mengajariku banyak hal. Tapi belakangan ini hubunganku dengan Paman Luca sedikit jauh. Itu karena Mommy terlalu berlebihan. Terlalu over protektif terhadapku." Quinn menjelaskan tentang apa yang membuat dirinya dan lucu dekat. Meski begitu Quinn sangat berharap apabila Tiffany menerima kedekatan antara dirinya dan Luca.
"Aku harap Mommy setelah ini tidak akan lagi menjauhkan aku dan Paman Luca. Aku berharap Mommy dan Paman Luca bisa berteman baik." Quinn membatin dalam hati.
Gadis kecil itu berharap kalau Tiffany dan Paman Luca akan berbaikan untuk waktu yang lama. Hingga tiba-tiba bumi terasa bergetar. Hal itu tidak hanya terjadi Satu Kali Saja.
Bahkan berulang kali bumi terasa bergoyang. Mungkin ledakan terjadi berulang kali. Hal itu semakin membuat takut Tiffany. Air mata Tiffany pun jatuh tak terbendung lagi.
Tiffany benar-benar ketakutan. Ia seumur hidup belum pernah dihadapkan oleh kondisi seperti ini. Wanita itu menggigit bibir bawahnya. Ketakutannya sangat terlihat jelas dari mimik wajahnya.
Berbeda dengan Quinn yang memang sudah tahu bahwa Luca memiliki musuh di bawah dunia gelap. Hanya saja Quinn tidak pernah terpikirkan bahwa dirinya akan menjadi jaminan di tempat ini.
"Apakah ada banyak orang yang mati?"Tanya Tiffany.
Quinn tersenyum. "Mungkin itu Karma mereka karena sudah berbuat jahat kepada kita Mommy. Jika kita selamat apa yang akan Mommy lakukan?" Entah mengapa tiba-tiba Quinn menanyakan hal yang aneh bagi Tiffany.
__ADS_1
Dikarenakan Tiffany sedang sensitif, Hal itu membuat Tiffany semakin menangis terisak. Tiffany semakin ketakutan. Ia takut apabila hari ini ia akan berpisah dengan Quinn.
Selama ini Quinn merupakan kekuatan terbesarnya untuk menjalani hidup. Bagaimana jadinya bila Quinn jauh darinya dan tidak terlihat oleh kedua matanya? Tiffany mendadak merasa sakit di hatinya.
"Aku tidak akan sanggup untuk membiarkan kami berpisah. Selama ini Quinn sudah menjadi kekuatan terbesarku untuk menjalani hidup. Tuhan sudah tidak adil di kehidupan yang lalu. Akankah Tuhan tidak adil kembali padaku di saat ini?" Tiffany membatin sedih.
Ia terus memandangi wajah Quinn yang tampak menggemaskan dengan kedua pipinya yang chubby. Meskipun Tiffany tidak tahu siapa ayah kandung Quinn, tapi Tiffany sangat ikhlas apabila harus mencukupi semua kebutuhan Quinn seorang diri.
"Mommy, Paman Luca sudah datang. Mengapa Mommy menangis?" Quinn memasang wajah yang lugu.
Gadis kecil itu seperti sudah tahu kalau Luca akan datang. Tiffany menghentikan tangisannya. Wanita itu memandangi wajah Quinn. Putri yang sangat dicintainya itu tidak berubah. Mata bulatnya sangat polos dan murni. Hati Tiffany berdenyut nyeri. Ia sudah membawa Quinn untuk terjebak di sini.
Sebenarnya ia tidak ingin mempercayai Quinn. Akan tetapi melihat ekspresi Quinn Tiffany menjadi tidak tega. Akhirnya Tiffany memilih untuk mempercayai Quinn. Hanya saja mobil Luca yang sebelumnya sudah meledak. Mungkinkah Luca selamat dari mobil itu? Tiffany meringis. Jelas itu tidak mungkin.
"Bukankah sekarang di luar sangat berisik Mommy? Mungkin saja Paman Luca sudah datang. Sehingga orang-orang di sini berlarian untuk mencegah Paman Luca datang. Kan tidak mungkin kalau Paman Luca tidak datang di saat berisik begini?" Ungkap Quinn.
Tiffany memandang putrinya dengan iba. Padahal jelas-jelas kalau mobil Luca sudah terbakar hebat. Lidah Tiffany sulit untuk berbicara. Sehingga ia membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menjawab pertanyaan Quinn.
"Tapi itu tidak menjamin sayang. Bukankah kau sudah melihat sendiri kalau mobil Tuan Luca terbakar?" Tiffany tidak percaya kalau Luca datang ke tempat di mana dia ditahan. Wanita itu mulai menjelaskan dengan lembut bagaimana kondisi mobil Luca yang terlihat terakhir kali.
Entah mengapa Quinn menggelengkan kepalanya. Seolah Dia tidak setuju dengan kata-kata Tiffany. Hal itu membuat Tiffany melongo sejenak. Ia tidak mengerti mengapa Quinn bisa sangat percaya pada Luca. Padahal mereka berdua baru saja bertemu.
__ADS_1
"Mengapa Quinn sangat percaya terhadap Tuan Luca? Apa yang dimiliki oleh laki-laki itu sehingga Luca memberikan nilai tersendiri untuk Quinn?" Tiffany membatin bingung.
Sampai pada akhirnya dua orang itu sama-sama terdiam. Suasana kembali sunyi tanpa ada seorang pun yang berbicara. Hingga Tak lama kemudian terdengar suara berisik dari luar ruangan mereka.
Quinn memasang wajah aneh. Ekspresinya sulit untuk dijelaskan. Pandangan mata Tiffany terus mengawasi ekspresi Putri semata wayangnya itu. Kedua mata Quinn menyorot tajam pada daun pintu yang tertutup. Seolah Quinn sedang menantikan kedatangan seseorang yang penting baginya.
"Mungkinkah itu Paman Luca yang datang? Atau justru musuh yang akan melukai aku dan Mommy?" Quinn menggumam dalam hati. Ia berharap jika yang saat ini tengah berusaha untuk mendobrak pintu ruangan itu merupakan Luca. Tak hanya itu, suara tembakan pun mulai terdengar di telinga. Menambah rasa takut Tiffany.
Brak!
Door!
Brak!
Brak!
Door!
Door!
Brak!
__ADS_1
"Ya Tuhan! Quinn! Maafkan mommy apabila mommy sering memarahimu! Mommy tahu kalau mommy sudah membuatmu ikut merasakan hidup susah, tapi tolong. Tolong tetaplah hidup apapun yang terjadi, Nak! Mommy mencintaimu!" Tiba-tiba Tiffany berbicara penuh haru. Wanita itu bahkan berteriak dengan lantang.
"Jika itu bukan Paman Luca, aku harus bagaimana? Mungkinkah aku harus menawarkan kerjasama dengan musuh Paman Luca? Ya Tuhan, kumohon Paman Luca datanglah!"