
"Jadi kita akan tinggal di sini Mommy?" Quinn bertanya dengan kedua mata yang melebar.
Binar matanya menunjukkan kebahagiaan yang nyata. Tiffany merasa bersyukur lantaran bisa melihat kebahagiaan di kedua mata putrinya itu.
"Benar. Tuan Luca orang yang baik. Jadi dia memberikan kesempatan kepada Mommy untuk membersihkan rumah ini dan membayar sesuai dengan biaya sewa rumah kontrakan kita yang lama. Meskipun kata Tuan Luca rumah ini tidak besar tapi setidaknya rumah ini memiliki dua lantai. Bukankah ini impianmu Quinn?" Tiffany melebarkan senyumannya. Ia benar-benar ikut merasa bahagia karena kebahagiaan Quinn.
"Benar ini impianku. Aku selalu bermimpi untuk tinggal di rumah sebesar ini bersama mommy. Memang Paman Luca memiliki hati yang baik. Dia sudah banyak membantu kita Mommy. Bagaimana kalau kita mengundangnya untuk makan di tempat kita lain kali?" usulan Quinn membuat Tiffany terdiam.
Wanita itu tampak berpikir. Mungkin karena Tiffany juga ingin memberikan sesuatu untuk membalas kebaikan luka. Tak lama kemudian Tiffany tersenyum lagi.
"Benar juga! Kenapa Mommy tidak berpikir sampai sana? Tuan Luca sudah memberikan Mommy pekerjaan kemudian rumah besar ini. Mommy pikir, Mommy tidak akan bisa memberikan balasan untuk kebaikan Tuan Luca. Tapi sepertinya idemu sangat bagus Quinn. Ngomong-ngomong Tuan Luca memberikan sedikit uang untuk Mommy karena Mommy belum bekerja. Kalau begitu besok kita berbelanja untuk memasak dan mengundang Tuan Luca makan malam ke rumah ini. Apa kau setuju?" Tiffany ikut bersemangat.
Akhirnya ia bisa membalas kebaikan Luca yang bertubi-tubi. Quinn menganggukkan kepalanya dengan cepat. Kemudian Quinn berlari menaiki tangga menuju ke lantai 2. Di mana Tiffany mengatakan bahwa kamarnya ada di lantai 2.
Melihat reaksi Quinn Tiffany terkekeh geli. Memang anak-anak tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Semoga saja kebahagiaan ini terus ada." Setelah mengatakan itu Tiffany pun berjalan menuju ke lantai 2.
Ia membawa tas miliknya dan juga tas milik Quinn. Sedangkan Luca dan Joni sudah Tiffany usir setelah mereka memberikan kuncinya. Sebab Luca terburu-buru untuk pulang. sehingga mereka berdua tidak ikut masuk ke dalam.
"Mommy di sini kamarku! Kamar Mommy ada di sebelah sana!" Quinn berlari memasuki sebuah kamar.
Bukannya berjalan menuju ke kamarnya, Tiffany malah masuk ke dalam kamar yang sudah dipilih oleh Quinn. Betapa terkejutnya Tiffany ketika kamar itu memiliki desain yang sangat pas untuk seorang anak perempuan.
"Apakah Tuan Luca sengaja mendesain tempat ini? Mengapa sudah ada barang-barang khusus anak perempuan? Bahkan boneka dan semuanya seperti sudah disiapkan." Tiffany membatin curiga.
Namun ia tidak ingin mengulangi kesalahannya lagi. Wanita itu keluar dari kamar yang sudah dipilih oleh Quinn. Tiffany membuka pintu kamar yang diperuntukkan untuknya. Kedua matanya terbuka lebar. Tempat itu sangat luas.
__ADS_1
Seumur-umur Tiffany belum pernah memiliki kamar seluas ini. Walaupun dulu ia tinggal di rumah mewah bersama mantan suaminya, Tiffany tidak terlalu menikmati kehidupan mewah mantan suaminya.
Sebab Tiffany selalu merasa tertekan ketika tinggal di rumah itu. Mungkin itulah yang membedakan mengapa sekarang Tiffany seolah baru pertama kali melihat kamar yang luas seperti itu.
"Aku memang harus bersyukur atas bantuan yang sudah diberikan oleh Tuan Luca."
—
"Apa kau bilang? Diego masih hidup?" Luca terkejut bukan main ketika ia mendapatkan kabar dari Brox.
Anak buahnya itu melaporkan bahwa Diego sudah menyebar beberapa mata-mata ke semua tempat yang setiap hari dilalui oleh Luca maupun Tiffany dan Quinn.
"Benar Tuan Luca. Dia sendiri yang mengirimkan email kepada saya. Saya sudah mengirimkan screenshot kepada anda. Tidak mungkin saya berbohong. Sekarang posisi Diego adalah mungkin ia akan membalas dendam dalam beberapa waktu yang akan datang. Selama itu pula bisakah anda waspada?" Selain Brox memberikan peringatan kepada Luca, Brox juga meminta Luca untuk waspada.
"Aku mungkin masih bisa membela diriku sendiri. Karena aku selalu membawa senjata api di balik saku jasku. Berbeda dengan Quinn dan juga Tiffany. Mereka berdua tidak bisa membawa senjata apapun. Brox kau harus mengirim beberapa orang untuk mengawasi rumah Mereka. Jangan sampai lengah. Pastikan ada banyak kamera CCTV dan kamera pengintai supaya ketika terjadi sesuatu kita bisa mengambil bukti." Pikiran Luca tertuju kepada Tiffany dan Quinn. Sebab mereka berdua saat ini mulai menjadi prioritas Luca yang paling utama.
"Lacak keberadaan Diego. Aku harus tahu di mana dia berada. Bisa jadi dia akan menjadi ancaman untukku. Mungkin saja dia akan menyerangku dalam waktu dekat ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebaiknya waspada merupakan jalan kita saat ini. Pergilah. Panggil Joni kemari. Aku harus melihat perkembangan perusahaan terlebih dahulu." Luca mengusir Brox.
Ia ingin Joni datang ke ruangannya. Luca pun menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Laki-laki itu menerawang jauh setelah kepergian Brox.
Selain mencari tahu di mana Diego berada Luca tidak boleh lengah dalam menjaga Quinn dan Tiffany. Tinggal 9 hari lagi maka Luca akan mendapatkan hasil dari tes DNA tempo hari.
"Bukankah peralatan kedokteran sudah canggih? Bagaimana jika aku ingin mempercepat hasil tes DNA itu?" Luca membatin. Ia terpikirkan untuk mempercepat Tes DNA. Mungkin besok dia perlu untuk datang ke rumah sakit.
"Anda memanggil saya Tuan Luca? "Joni sudah datang memasuki ruang kerja milik Luca. Laki-laki itu menutup pintu dan kemudian berjalan mendekati Luca.
"Bagaimana keadaan di perusahaan? Dua hari lagi mungkin Tiffany akan bekerja di sana. Walaupun dia bekerja sebagai office girl Aku harap baginya sedikit berbeda dengan office girl yang lain. Apa kau mengerti Joni?" Luca meminta Joni agar memberikan gaji yang lebih besar kepada Tiffany dibandingkan karyawan yang lainnya.
__ADS_1
Joni tampak mengernyitkan dahinya. Dia bingung lantaran Luca terlalu jauh memberikan bantuan kepada Tiffany. Tapi Joni tidak berani protes.
"Saya mengerti Tuan. Kemudian ini laporan yang beberapa hari masuk ke email saya. Saya sudah mencetaknya. Anda bisa lihat sendiri bahwa nama Dante menjadi salah satu pebisnis yang ingin bekerja sama dengan anda. Saya ingat bahwa nama ini merupakan mantan suami Nyonya Tiffany. Apakah saya harus menerima tawaran bisnis darinya atau justru menolaknya?" Joni memberikan hasil print dari email Dante. Seingat Joni nama itu merupakan nama mantan suami Tiffany.
"Ck! Apa-apaan itu? Dia ingin bekerja sama denganku? Dasar!" sinis Luca.
Malam telah berlalu. Joni sudah pulang ke apartemennya. Di sini Luca merenung seorang diri. Laki-laki itu memandang fotonya bersama dengan Tiffany dan Quinn. Namun tiba-tiba saja Luca teringat sesuatu. Laki-laki itu berdiri dan kemudian mengambil album foto kenangannya.
"Ini fotoku saat aku berusia sekitar 7 tahun. Lalu ini foto Quinn saat ini. Kenapa aku tidak sadar kalau wajah Quinn sangat mirip denganku? Ya Tuhan! Kalau seperti ini aku semakin yakin bahwa Quinn adalah putriku." Luca mengakhiri malam panjangnya dengan hati yang bahagia.
Ke depannya dia tidak akan lagi kesepian karena tidak memiliki keluarga. Namun siapa sangka ternyata Luca memiliki keluarga kecil.
Dia memiliki putri dari wanita yang pernah menghabiskan malam dengannya. Laki-laki itu memejamkan matanya dan mulai Bermimpi indah bersama Quinn putrinya.
"Hari ini kita ke pasar Quinn. Kenapa kau bisa lupa?" Tiffany mengomel padahal masih pagi buta.
Quinn baru saja menggeliat dari posisinya yang masih meringkuk. Bocah berusia 6 tahun itu mengucap matanya dan berusaha untuk membukanya dengan lebar.
"Mommy jangan menyalahkan aku. Salahkan saja kasurnya yang empuk. Sehingga aku bangun kesiangan. Jadi apa kita terlambat untuk pergi ke pasar?" Quinn merenggangkan tubuhnya.
Perlahan ia memposisikan tubuhnya dalam keadaan duduk. Sedangkan Tiffany sudah menyiapkan baju ganti untuk Quinn.
"Pergilah mandi terlebih dahulu. Anak gadis tidak boleh bangun kesiangan. Ayo cepat mandi!" Tiffany menarik tangan Quinn supaya bocah itu segera turun dari kasur. Setelah berdrama ria akhirnya Quinn pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ternyata dia sudah besar. Selama ini aku sudah membesarkannya seorang diri. Apa kabar dengan laki-laki yang dulu menghabiskan malam denganku? Sebenarnya kehadirannya ada atau tidak aku tidak akan peduli. Sebab aku sudah memiliki Quinn rasanya sudah cukup. Aku tidak membutuhkannya. Bukankah laki-laki hanya akan membuat kita terluka? Mereka selalu bersikap arogan dan merendahkan kita."
"Tapi kupikir belakangan ini pandangan itu sedikit berbeda. Kecuali Tuan Luca. Dia merupakan laki-laki yang baik. Aku berharap dia mendapatkan pasangan yang sama baiknya dengan Tuan Luca." Tiffany bermonolog seorang diri. Ia berharap apabila Luca menemukan pasangan yang baik.
__ADS_1
Dalam hidup, memiliki proses. Tidak mudah menjalani proses itu sebelum akhirnya mencapai tujuannya. Tiffany berharap Luca memiliki pendamping yang baik. Sedangkan Luca, ia sedang memimpikan keluarga kecilnya bersama Quinn dan Tiffany.