
"Bagaimana menurutmu? Kau menyukai hadiah dariku?" Luca bertanya kepada Tiffany setelah laki-laki itu memberikan hadiah kepada Tiffany.
Benar, hari ini Tiffany sudah diperbolehkan untuk pulang. Tepat bersamaan dengan hari ulang tahunnya. Tiffany mematung di tempatnya.
Di sana ada sebuah berlian yang cantik. Tiffany merasa tidak enak lantaran ia tahu bahwa harga perhiasan itu pasti sangat mahal.
"Tuan Luca, aku merasa tidak pantas untuk menerima Ini semua. Bukankah ini sangat mahal?" Tiffany mendorong kotak perhiasan itu ke arah Luca.
"Apa yang kau katakan? Ini tidak semahal nyawaku. Bukankah kau sudah menyelamatkan nyawaku? Dengar. Uang bisa dicari. Lalu bagaimana dengan nyawaku Bila Saja waktu itu sangat tepat sasaran di bagian vitalku? Itu sangat mengerikan Tiffany. Setidaknya kau harus menghargai apa yang aku berikan. Tolong terima saja kotak perhiasan beserta isinya. Aku senang jika hubungan kita seperti teman yang saling tolong-menolong." Luca kembali memberikan kotak perhiasan itu ke tangan Tiffany. Wanita itu lagi-lagi ingin menolak.
"Jika kau ingin membantuku maka berikan saja aku pekerjaan. Kupikir itu sudah lebih dari cukup untuk membalas budi. Sungguh Tuan Luca. Kau harus membawa ini semua kembali. Aku merasa tidak enak jika menerimanya secara tiba-tiba." Tiffany lagi-lagi masih berusaha untuk menolak hadiah perhiasan yang diberikan oleh Luca.
"Mommy seharusnya menerimanya. Niat baik seseorang alangkah baiknya diterima. Bukan hanya tentang balas budi atau sebuah nominal. Tapi menolak rezeki akan membuat rezeki semakin jauh dari kita. Mommy sendiri yang mengatakannya padaku bukan?" Quinn itu berbicara.
Gadis kecil itu berdiri di samping Tiffany. Ia sudah selesai berkemas bersama Joni. Kata-kata dari Quinn menyinggung Tiffany. Akhirnya mau tak mau Tiffany menerimanya.
"Baiklah aku akan menyimpan ini. Siapa tahu berguna untuk sekolah Quinn di masa depan. Siapa yang tahu ini akan berguna untuk Quinn. Benar ya aku menerima ini? Kau jangan mengatakan kalau ini utang piutang!" Tiffany melirik Luca dengan tajam. Wanita itu tidak ingin apabila di kemudian hari Luca akan menagihnya sebagai hutang.
"Siapa yang akan menagihnya? Uangku banyak. Dan aku kaya. Untuk apa aku harus khawatir dengan perhiasan yang tidak penting itu. Itu biasa saja bagiku. Ngomong-ngomong Tiffany. Kau bisa bekerja setelah tubuhmu sudah kuat untuk bekerja. Jangan langsung bekerja begitu saja. Jika terjadi apa-apa denganmu aku pula yang harus bertanggung jawab," Ucap Luca.
"Iya aku mengerti. Kalau begitu Untuk apa kita terus-terusan berada di sini? Ayo kita segera pulang. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk sampai di rumah." Tiffany mengalihkan topik pembicaraan.
Wanita itu mengambil tas ransel besarnya. Namun saat Tiffany akan menaruhnya di punggungnya, buru-buru Luca segera mengambilnya.
Hal itu cukup mengejutkan Tiffany. Wanita itu terkejut dan hampir membuat Tiffany oleng. Beruntungnya dengan Sigap tangan Luca menahan bahu Tiffany supaya tidak jatuh.
"Aku yang akan membawa tasmu. Jalanlah. Aku mengikutimu dari belakang." Luca meminta Tiffany supaya berjalan lebih dulu darinya.
__ADS_1
Sedangkan dirinya akan mengekor Tiffany dari belakang. Akan tetapi bukannya mendengarkan kata-kata lucu Tiffany justru malah melihat Luca dan mematung di tempatnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau membuatku malu!" Gerutu Luca.
"Apakah ini hanya perasaanku saja atau memang kau belakangan ini menjadi sedikit lebih baik kepadaku Tuan Luca? Biasanya kau selalu mengajakku bertengkar," tegas Tiffany.
Entah mengapa sejak Tiffany membuka kedua matanya Luca selalu berusaha untuk membantunya. Bahkan Luca tidak lagi pergi bekerja. Jika dihitung Ini sudah memasuki hari kelima Luca tidak bekerja.
Tiffany tahu kalau Luca merupakan bos di perusahaan besar. Akan tetapi Apakah seorang bos tidak memiliki pekerjaan penting? Seharian penuh dan bahkan Luca ikut menginap di rumah sakit. Itu sungguh aneh lantaran dilakukan oleh seorang Bos seperti Luca.
Apalagi sebelumnya Luca selalu mengatakan apabila waktunya adalah uang. Di mana pengertiannya adalah setiap waktu Luca sangat berharga. Tiffany tidak buta akan hal itu. Sehingga untuk itulah Tiffany merasa curiga lantaran Luca terus-terusan berada di rumah sakit.
"Sudah kubilang, aku ini Bos. Suka-suka aku
Aku ingin melakukan apapun juga terserah. Kenapa menjadi kau yang repot memikirkan pekerjaanku? Sudah ada Joni yang mewakili itu bukan?" Luca menunjuk Joni yang baru saja selesai mengemas barang-barangnya.
Joni membawa pekerjaan dari perusahaan ke rumah sakit. Sehingga Joni juga memiliki barang bawaan yang lumayan.
Tiffany menggelengkan kepalanya. Wanita itu tidak protes lagi. Ia berjalan mendahului Luca dan yang lainnya. Quinn berlari mengejar langkah kaki Tiffany.
Quinn sebenarnya juga bingung karena Luca seolah ingin berdekatan dengan Tiffany. Juga tidak ingin menuduh Luca tanpa bukti. Hanya saja firasatnya mengatakan bila Luca sedang merebut hati Tiffany.
"Apakah Paman Luca sedang jatuh cinta pada Mommy? Mengapa sejak kemarin paman Luca selalu memberikan perhatian kepada mommyku?" Quinn membatin penasaran.
Gadis kecil itu berjanji akan mencari tahu sendiri. Terlebih ia akan memperhatikan gerak-gerik Luca ke depannya.
Mereka berempat pun ini sudah berada di dalam mobil. Baik Tiffany maupun Quinn mulai bingung karena itu bukanlah jalan menuju ke rumah mereka.
__ADS_1
"Tuan Luca? Ini di mana? Kita mau ke mana? Sepertinya ini bukan jalan menuju ke rumahku." Tiffany yang penasaran pun akhirnya bertanya kepada Luca.
Di mana Luca duduk di sampingnya. Sedangkan Quinn berada di depan menemani Joni. Namun niat hati Quinn yang ingin melihat pemandangan Justru malah tertidur pula. Mungkin saja Quinn terlalu lelah. Lantaran sudah 5 hari ia berada di rumah sakit.
"Aku memiliki sebuah rumah. Itu merupakan rumah yang belum sempat aku ini. Aku pikir cocok untuk kalian tinggalin," tegas Luca.
"Tunggu. Apa maksudmu Tuan Luca? Apakah kau memberikan rumah itu untukku dan Quinn? Aduh! Kenapa kau berniat untuk terus ikut campur masalahku dan Quinn? Aku dan Quinn sudah memiliki kontrakan. Jadi Bisakah kita putar balik ke arah jalan menuju kontrakan aku sebelumnya?" Tiffany menolak niat baik dari Luca.
"Siapa yang memberikan rumah itu untukmu? Kau bisa mengontraknya. Cukup berikan aku uang yang nominalnya sama dengan uang kontrakanmu sebelumnya. Setidaknya kau bisa membantuku untuk membersihkan rumah itu. Tenang saja. Rumah itu tidak besar. Jadi kau jangan merasa sungkan seperti itu. Aku juga memiliki rumah di tempat lain. Kau jangan ambil pusing. Cukup mulai detik ini kau pikirkan bagaimana membesarkan Quinn tanpa harus mencari pekerjaan yang banyak." Pernyataan dari Luca ada benarnya juga.
Tiffany pun mulai berpikir. Ia bisa memberikan kehidupan yang baik untuk Quinn. Bahkan mungkin akan lebih baik dari sebelumnya. Karena sebentar lagi Tiffany akan bekerja di perusahaan Luca meskipun sebagai office girl.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Setiap hari aku juga membayar orang untuk membersihkan rumah itu. Bukankah sama saja dengan mempekerjakanmu untuk membersihkan rumahku? Bedanya kau bisa membayarku dengan memberikan nominal yang sama seperti rumah kontrakanmu sebelumnya. Jika kau memang tidak ingin menyusahkanku. Kenapa kau malah berpikir keras seperti itu?" Luca menantikan jawaban dari Tiffany.
Hati Luca pun berdebar-debar lantaran Tiffany masih belum juga memberikan jawabannya. Hingga sampai akhirnya Tiffany tersenyum lebar. Detik itu pula hati Luca pun menjadi lega.
"Benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran ya? Tenang saja. Aku akan membersihkan rumahmu dan menganggapnya bahwa itu rumahku sendiri. Tapi barang-barangku masih ada di kontrakan sebelumnya. Mungkin aku akan mengambilnya beberapa hari lagi setelah aku beres-beres di rumahmu," jelas Tiffany.
Kali ini Luca benar-benar lega. Setidaknya sambil menunggu hasil tes DNA itu ia bisa membuat Tiffany dan Quinn tidak pergi jauh darinya. Bahkan Luca bisa menjamin kehidupan keduanya.
"Aku yakin jika Quinn merupakan anakku. Sebab selama ini aku tidak pernah berhubungan dengan wanita lain selain wanita malam itu. Ya, jika malam itu adalah Tiffany. Kemungkinan besar Quinn putriku." Luca membatin senang.
Jika memang selama ini Tiffany merupakan wanita yang dulu pernah menghabiskan malam dengannya. Maka saatnya Luca memberikan kehidupan yang baik untuk Tiffany dan Quinn.
"Semua ini aku lakukan untuk putriku. Dan juga untuk wanita yang pernah bersamaku meski hanya satu malam. Setidaknya ini merupakan balasan karena aku sudah menelantarkan mereka berdua." Luca menggumam dalam hati.
Laki-laki itu pun memejamkan kedua matanya. Ia tidak Sabar untuk menunggu hasil tes DNA waktu itu. Hanya sedikit lagi. Luca akan bersabar sampai waktu itu tiba.
__ADS_1
Pun juga dengan Tiffany yang merasa sangat bersyukur sudah diberikan bertemu dengan Luca. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. Setelah ini, Tiffany akan memiliki pekerjaan tetap. Kemudian rumah yang nyaman untuk membesarkan Quinn.
"Terima kasih, Tuan Luca. Terima kasih."