Rafif & Nafisah

Rafif & Nafisah
R&F. Part 40


__ADS_3

Hallo, terimakasih yaa udah mau klik novel ini, semoga suka ! selamat membaca guys, luv luv


-----


Tak sampai 15 menit Salsa keluar dari kamarnya. Setelah mengunci pintu ia langsung menghampiri Nafisah yang duduk di kursi ruang tamu.


“Ayo Naf aku udah siap.” Ucap Salsa


“Kamu cantik banget lho Naf.” Puji Salsa


“Makasih, mbak juga cantik. Mbak juga anggun.” Kata Nafisah


“Tapi beneran lho Naf aku nggak bohong.” Ucap Salsa


“Hehehe, kita langsung berangkat yuk mbak. Biar nggak kesiangan.” Ujar Nafisah


“Ayok.”


Mereka langsung berangkat kerja dengan berjalan kaki. Karena jarak kost dan kantor cukup dekat jadi mereka memilih berjalan kaki saja.


Setelah berjalan kurang lebih 10 menit akhirnya Nafisah dan Salsa sampai di kantor. Sebelum masuk ke dalam kantor ternyata Salsa bertemu dengan teman laki – laki satu divisinya.


“Pagi sal, tumben berangkatnya ada temennya.” Sapa laki – laki tersebut


“Pagi juga Yan, ia pegawai baru di kantor ini. Ia di bagian marketing.” Ucap Salsa menjawab sapaan teman laki – lakinya yang bernama Rian yang sering ia sapa dengan Yan.


Umur mereka ini sepantaran jadi memanggilnya tanpa embel – embel apapun ketika diluar jam kantor.


“Kenalin nama aku Rian satu divisi dengan Salsa.” Ujar Rian sambil mengulurkan tangannya


Nafisah membalas uluran tangan Rian “Nafisah divisi marketing.”


“Kita masuk yuk.” Ucap Salsa


“Ayok.”


Mereka memasuki kantor secara bersama. Dilanjut dengan menaiki lift untuk sampai ke ruang kerja.


“Naf kamu udah tau ruangan kamu?” tanya Rian


“Belum pak Rian.” Jawab Nafisah


“Saya antar ke ruangan kamu mau?” tawar Rian


“Boleh kalau tidak merepotkan pak Rian.” Kata Nafisah


“Tidak merepotkan kok. Sal gue anterin Nafisah ke ruangannya dulu ya, lo mau ikut juga nggak?” tanya Rian pada Salsa


“Nggak usah deh, gue mau langsung ke ruangan aja.” Jawab Salsa


“Ya udah kita duluan ya.” Pamit Rian


“Saya duluan ya mbak.” Kata Nafisah


“Oke.”

__ADS_1


Nafisah dan Rian keluar dari lift terlebih dahulu. Ruangan marketing dan keuangan memanglah berbeda lantai.


Rian mengantarkan sampai di depan ruangan marketing tempat meja kerja Nafisah berada.


“Aku anterin sampe sini nggak papa ‘kan Naf?” tanya Rian


“Nggak papa kok pak. Saya ucapkan terimakasih sudah mau repot – repot mengantarkan saya. Ma’af sudah merepotkan pak Rian.” Jawab Nafisah


“Iya, saya nggak merasa direpotkan sama sekali.” Kata Rian


“Kalo begitu saya tinggal ke ruangan saya ya.” Lanjut Rian


“Iya pak, silahkan.” Ucap Nafisah


“Selamat bergabung di kantor ini ya, semoga betah.” Ucap Rian


“Iya pak terimakasih.” kata Nafisah


“Ya udah kalo begitu saya permisi dulu.” Ucap Rian


“Iya pak.”


Setelah mengantarkan Nafisah di depan pintu ruangan bagian marketing Rian langsung kembali menuju ke ruangannya karena sudah banyak pekerjaan yang menantinya.


Sepeninggalnya Rian, Nafisah langsung memasuki ruangan tersebut. Namun sebelumnya ia mengetuk pintu tersebut.


Tok.. tok.. tok


Nafisah membuka pintu ruangan ketika mendengar suara perintah untuk masuk. Ketika baru masuk sudah ada salah satu pegawai yang menyapanya.


“Nafisah ya?” tanya pegawai tersebut


“Iya bu.” Jawab Nafisah


Rara juga menunjuk salah satu meja kerja yang masih kosong, tepatnya berada di samping meja kerjanya


“Ini meja kerja kamu. Jadi nanti kalo kamu ada kesulitan mengenai pekerjaan kamu bisa langsung tanyakan ke saya.”


“Iya bu.”


“Silahkan duduk dan langsung mulai kerjakan tugas – tugas kamu.” Ucap Rara


Nafisah bergegas menuju ke meja kerjanya. Nafisah langsung mengerjakan tugas – tugasnya dibantu dengan bimbingan dari Rara.


Rara dengan sabar membantu Nafisah, menjelaskan secara detail apa yang belum Nafisah fahami. Rara bukanlah tipe orang yang semena – mena terhadap orang baru.


Ketika sedang fokus mengerjakan tugasnya adalah salah satu pegawai kantor yang menyapanya.


“Pegawai baru ya?” Ucapnya dengan nada sombongnya


“Iya bu.” Jawab Nafisah


“Kenalin nama saya Lina, kamu jangan pernah sekali – kali panggil saya mbak. Karena saya ini senior kamu. Kerja yang bener jangan banyak bengong, jangan pernah juga membuat kesalahan dalam mengerjakan pekerjaan.” Cerocosnya


“Nama kamu siapa?” tanyanya balik

__ADS_1


“Nama saya Nafisah bu.” Jawab Nafisah


“Ya udah silahkan dilanjut kerjanya.” Perintah Lina


“Iya bu.”


Nafisah lanjut mengerjakan tugasnya. Di dalam rungan tersebut terdapat 5 orang dengan Nafisah. Dua orang sisanya adalah seorang laki – laki. Yang satu baru saja menikah dan namanya adalah Fadlan.


Sedangkan yang satunya lagi baru saja melangsungkan pertunangan, namanya ialah Rendi. Lina juga sudah menikah dan sudah dikaruniai satu orang anak, sedangkan Rara usianya 1 tahun diatas Nafisah.


-


-


-


Sedangkan Rian yang berada di ruangannya wajahnya nampak berseri – seri. Ia menjadi tambah semangat selepas mengantarkan Nafisah.


Salsa yang berada di samping kerja Rian merasa heran melihat wajah Rian yang terlihat berbeda dari biasanya.


“Lo kenapa Yan?” tanya Salsa


“Kenapa apanya?” tanya balik Rian


“Sejak balik nganterin Nafisah terlihat senyum – senyum sendiri. Tambah berseri – seri juga.” Ucap Salsa


“Nggak tuh biasa aja.” Elak Rian yang kembali menormalkan wajahnya


“Nggak usah bohong lo, sini – sini cerita sama gue.” Ucap Salsa


“Cerita apa sih Sal, ada – ada aja lo.” Kata Rian


“Heleh gayanya malu – malu, biasanya juga malu – maluin.” Ejek Salsa


“Udah nggak usah kepo, lanjutin aja tuh kerjaan lo.” Ucap Rian


“Yeee malah mengalihkan pembicaraan.” Gumam Salsa


Rian tak menanggapi gumaman Salsa, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Sejujurnya Rian mulai tertarik dengan Nafisah ketika pertama kali bertemu tadi pagi.


Entah kenapa tadi pagi waktu pertama kali melihat manik mata Nafisah jantung Rian bekerja dua kali lipat dari biasanya. Dimata Rian Nafisah berbeda dengan wanita yang lain, Nafisah memiliki daya tarik tersendiri.


Walaupun baru pertama kali bertemu dan hanya sebentar namun Rian sudah merasa getaran dalam hatinya. Ia masih merasa sungkan untuk bercerita dengan Salsa.


Rian sebenarnya ingin meminta nomor hp Nafisah ke Salsa tapi keinginan tersebut terkalahkan dengan rasa sungkannya. Rian ingin memantau Nafisah dari kejauhan terlebih dahulu, mudah – mudahan nanti kedepannya kalo ada peluang yang baik untuknya.


Bisa jadi ia juga melibatkan Salsa untuk usahanya mendekati Nafisah. Walaupun Salsa juga baru pertama dengan Nafisah.


Sibuk memikirkan Nafisah sampai Rian tak terlalu fokus dengan pekerjaannya. Untung saja tak sampai melakukan kesalahan.


****


Sampai disini dulu ya guys, mohon koreksinya apabila ada kesalah ketik dari cerita ini. Terimakasih


****

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya, jangan lupa juga votenya biar authornya semangat nulis cerita ini,hehehe….


See you…. Bye bye…


__ADS_2