Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Kepergok


__ADS_3

Rahasia


#Janda_Bohay


Ke 10


Lagi pengen ngelawak, semoga aja berhasil bikin kalian ngakak. Insya Allah sudah lepas dari yang namanya sara, pornografi, eljibiti dan semua kawanannya.


******


Adrian terus menyeret pergelanganku. Tak dipedulikannya ocehanku yang meminta segera dilepaskan. Sebaliknya, ia justru terkekeh melihat tingkahku.


"Bang, pliiis. Lepasin, dong." rengekku.


Tak kusangka, usahaku untuk menghentikannya itu berhasil. Kini, si Cogan brondong tampak menghentikan langkahnya, lalu menatapku lekat. "Bentar aja, Neng," bujuknya.


"Emang kenapa sih, kok Eneng musti ikut?" Kesal rasanya aku dengan tingkahnya.


"Takutnya aja, kalo misal entar Eneng hilang, gimana? Atau ada yang niat jahat lagi, hayo?" ungkapnya disertai tawa meledek.


"Jih, si Abang ada-ada aja, Eneng kan bukan anak kecil, Bang." Cuma anak curut. Eh.


"Ikut aja napa sih, Neng? Bentar aja kok. Mau yaa?"


"Ish, Abang gak ngerti sih. Eneng kan masih trauma, Bang." Ia terdiam sejenak, bahkan dapat kulihat rautnya yang mulai prihatin.


"Apa barusan dia berpikir bahwa kata-kataku ada benarnya. Ah entahlah!" gumamku.


Kupasang wajah semelas mungkin berharap kemenangan berpihak pada diri ini.


Dan ....


Berhasil. Tampak sorotnya yang mulai luluh. Yeesss!


"Maafin Abang ya, Neng. Abang lupa." Mendengar penuturannya, mendadak batinku bersorak riuh. 'Yahuuu! Akhirnya berhasil juga aku lolos dari bujukan maut ini.'


"Siti?" Sedetik sorakan yang tadi riuh menghilang sesaat setelah mendengar suara wanita yang tak asing menyebut namaku.


Deg!


'Kutu kupret! Cobaan apa lagi ini? Baru juga kelar lewatin satu rintangan.' batinku menggumam.


Tapi entah kenapa, suara yang memanggil itu begitu familiar. Sontak perasaanku jadi gak enak. Tenggorokan cekat, berasa habis ketelan pohon salak, eh biji salak.


Kucoba memutar pandangan. Mencari tahu sosok suara yang baru aja nyebut namaku.


Dan begitu berhasil melihatnya, mendadak kepala ini menjadi sakit, kek banyak tawon muter-muter depan mata. Haaiisss Kutu penyet, mimpi apa aku siang ini?


"Eh, Mak Ijah!" tukasku pelan. Berasa garing mulut ini mengucap namanya.


"ngapain lo ke sini, Ti? Jangan bilang lo mau jenguk Bang Juki ye? Gak usah deh, dia gak butuh dijenguk sama cungut kek elo!"


Buset dah, pedas amat tuh mulut si kadal betina. Eh, ngomong-ngomong, cepat juga ya dia nyampe di sini. Kan baru juga tadi habis belanja gorengan di warungku?" Eggak gitu, Mak. Saya ke sini tuh bukan niat jenguk kok, cuma ...." Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, spontan Adrian menyela.


"Ibu kenal sama Neng Siti ini?" tanya si Brondong antusias.


"Ya kenallah, dia kan wanita paling ganjen sekabupaten!"


Lodeh basi! Apaan? Ganjen sekabupaten?


Adrian terkekeh. Kamvret, ngeledek lagi.


Berkat tingkahnya yang tukang ketawa, ia pun berhasil membuat mimik datar di wajahku, kek emot yang biji matanya mandang ke atas gitu. Entahlah, terserah kalian gimana bayanginnya.


"Eh, Mak. Saya kemari bukan mau jenguk, cuma kebetulan lagi jalan sama temen yang mau mampir di mari."


"Eleeh, banyak alasan, lo!" sahutnya ketus. Gaya bicaranya kek orang anyan, bibirnya merot-merot. Sambil ngejepit dompet di sela ketek. Dasar Mak Erot!


"Bener kok, Bu. Siti kemari memang karena saya yang ajak." jawab Adrian berusaha membela. Mungkin gak tega melihatku yang terus-terusan kena bully dari kemarin.


"Tuh, dengar, kan, Mak!" ungkapku.


Mak Ijah memasang wajah sinis, sambil mendengkus, dia akhirnya berlalu dari hadapanku. Tak luput menyenggol bahu kecilku dengan bahu kekarnya. Kekar dalam artian kelebihan lemak.


Aku yang memang berperawakan kecil kek curut ini, tak berdaya diterjang bahu kekarnya, dia pun berhasil membuat tubuhku sedikit oleng.


Akhirnya kupijat, untuk mengurangi rasa pegal. Lagi- lagi bahuku yang harus kena apesnya, tadi malam waktu ketabrak mobil Adrian, bahuku juga yang mendapat hadiah belaian mesra dari aspal. Dan sekarang, bahu kekar milik Mak Erot pula! Duuh! dosa apa sih nih bahu! ehh, kok jadi nyalahin bahu!


"Neng gak apa- apa?"


"Hu'um."

__ADS_1


"Ya udah, yuk buruan lanjut!" ajaknya selang benerapa menit setelah kepergian Erot.


"Eh. Buruan lanjut ke mana, Bang?" tanyaku penasaran.


"Ya, jenguk Juki-lah, Neng."


"Ta-tapi, Bang!"


"Udah, Ayo!"


Si Brondong kembali menarik tanganku. Sial! Bukannya tadi udah luluh. Ahhh!


Sepanjang koridor, tangan mendingin, seperti kulkas yang sedang diatur dengan suhubtertinggi. Begitu juga dengan lutut dan betisku, dinginnya sampai ke jempol, Men, bahkana dapat kurasakan sejuknya musim salju dalam sepatu ini.


Beberapa menit berjalan beriringan, seketika perutku mendadak mules, sebab membayangkan wajah Juki yang nanti bakal teriak histeris begitu melihat diri ini.


"Ah, semoga aja expektasiku yang berlebihan gak jadi kenyataan!" gumamku.


Berusaha kutahan rasa mules ini hingga menimbulkan rona masam di wajah manisku.


"Kamu gak apa- apa, Neng? Mukanya pucat banget."


"Eh-iya, Bang. Gakpapa!" sahutku berbohong.


"Gakpapa, gimana? itu mukanya sampai kecut gitu?"


"Iya, ini Eneng lagi gemeteran."


"Hah? Gemeteran?? Hahahaha!" Adrian terkekeh.


Lah dia malah ngikik. "Gak lucu tau, Bang!"


"Emang kenapa sampai gemeteran??"


"Ya kan, Eneng trauma, Bang!" ungkapku.


Sedetik kemudian, Adrian berdiri di hadapanku. dipegangnya kedua tanganku yang sudah benar-benar dingin dan sedikit mengeluarkan keringat.


"Ya udah, Eneng tunggu depan pintu aja, ya!"


"Bener? serius?" tanyaku.


"Iyaa! dua rius malah!" ungkapnya kemudian beranjak meninggalkanku.


"Loh? Kenapa berenti, Bang?"


"Neng kok nyusul! tadi katanya gak mau ikut!"


"Ya, jangan tinggalin Eneng gitu aja dong, Bang!"


"Udah, Eneng, tunggu sini aja!"


"Loh kok di sini?"


"Iya, soalnya kita udah nyampe, ini kamarnya." Si Berondong mengarahkan jarinya ke pintu kamar di sampingku. Spontan aku tersipu. Sesaat aku mengira dia meninggalkanku.


"Eneng tunggu sini yah, Abang bentar aja kok. Jangan ke mana-mana loh!"


"Iya, Bang."


"Jangan lirik- lirik Dokter sini, yaa!"


Sontak aku terkejut! "Ah?? I-iyaa, Bang!"


"Jangan genit."


Waduuh, mulai ngelunjak nih! "Iyee."


"Jangan ladeni orang yang iseng mau kenalan, jangan kedip- kedip mata sama orang hensem, jangan ...."


Buset, parah! "Iyaaa, baweeel! Udah masuk sana! husshh husshhh!" Kudorong pelan tubuhnya hingga tak lagi berada di koridor, berpindah ke dalam ruang khusus rawat inap pasien.


"Hihihi!" Ia terkekeh melihat tingkahku. "Abang masuk ya?"


"Iya, iya! Udah sana, masuk gih!"


'Dasar bronit, bronit! Brondong genit!' batinku menggerutu.


Gue just standing, bersandar nungguin si ganteng di depan tembok samping pintu, sambil ngupil, mumpung gak ada yang lihat.


Beberapa perawat tampak keluar masuk, fix aku stop ngupil.

__ADS_1


Lalu terdengar beberapa jeritan histeris dari dalam kamar yang dihuni oleh tiga pasien itu. Wah, pasti sudah mau koit tuh pasien. Etdah, jahat bener doaku. Ups!


Selang beberapa saat Adrian kembali keluar.


"Kok cepat amat, Bang?" tanyaku heran.


"Iya, Neng. Gak ketemu ma Jukinya."


"Loh, kok bisa!"


"Kata yang jaga, Jukinya lagi di ruang pemeriksaan khusus."


"Oh gitu, ruang apa?"


"Kurang tau, Neng. Mungkin ruang dokter ahli saraf"


Whaat? Dokter ahli saraf. Ha-ha-ha, pasti itu karena otaknya yang kebanyakan dipake buat mikir mesum. Eh, suudzon aja aku.


"Kira- kira, gangguan apa ya, Bang?"


"Nah, yang itu Abang gak tau, soalnya Abang bukan dokter!" penyataannya berhasil membuatku merengut. " Udah yuk, Neng. Kita lanjut aja ke kantor Abang."


"Jemput temen- temen Abang? Terus jalan?" tanyaku antusias.


"Yo'i, Neng!"


"Terus makan-makan?"


"I-iya, Neng!"


"Hassiyap, Bang!"


Aku dan Adrian akhirnya kembali menyusuri koridor yang tadi kami lewati.


Sepanjang jalan, kami asyik bertengkar, eh bercengkrama maksudnya.


Sifat Adrian yang pelawak sukses menggelitik perutku, sampai-sampai terkentut akibat kelewat ngakak. Si Adrian hampir terjengkang begitu mendengar ledumanku yang keluar tanpa permisi.


'Ahh sial! Napa juga harus keluar disaat kek gini! Gak pengertian banget sih, nih perut!' rutukku pada si perut.


Namun, bahakanku dan Adrian mendadak buyar, sesaat setelah mendengar seorang pria dengan mengenakan pakaian pasien berteriak histeris.


Spontan perasaanku menjadi horor.


Lagi asyik-asyiknya ngakak, eh tetiba ada yang menjerit.


"Itu orang kenapa ye, Bang?" tanyaku heran.


"Neng? Kamu gak sadar?" Kali ini mimiknya si Brondong terlihat datar. Mendadak aku yang balik ketawa. Lucu!


'Lah tumben! Kenapa pula nih si pucuk cabe mendadak kikuk?' batinku menggumam.


"Gak sadar apa toh, Bang?"


"Itu loh, Neng!"


"Itu apa?"


"Dia teriak sambil nunjuk elu, Eneng?"


Whaaat! Mataku membelalak. nyaris melompat!


Pelan kuputar engsel leher, sembilan puluh derajat.


Jeng jreen!


Horor geng! Ternyata yang teriak itu si Juki.


Matanya melotot sambil menunjukku.


Dan yang paling horor ternyata, si Mak Ijah lagi berdiri di sampingnya, ikutan melotot ke arahku.


Jangan tanya deh seremnya gimana? Itu tangannya udah mengepal kuat, mungkin kalo dipake mukul batu, bisa pecah batunya.


Ampun cyiin. Bahkan aku yang turunan dedemit pun tak kuat jika harus bergulat sama power ranger kek Mak Ijah.


"Bang?"


"Napa, Neng?"


"Kabur yuk ahhh!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2