Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
pesta besar-besaran


__ADS_3

"Ye! Ragu banget sih! Belum juga sempat aye ngontrak!" tuturku kesal.


"Ya bukannya gitu, Ti. Gue kan cuma gak mau dirugiin!"


"Gini aja deh, Bu!" Aku mengeluarkan uang berwarna biru senilai dua juta dan meletakkannya ke atas meja. "Ini ada dua juta, untuk gue bayar di awal! Gimana? Apa udah cukup?"


Seketika wajah horornya berubah manis semanis madu. Tak ada lagi taring yang menjulur dari kedua bibirnya. Melainkan senyum yang tampak kembang kempis di antara kedua lubang hidungnya saat melihat tumpukan kertas biru di atas meja ruang tamu.


"Eheheh, untuk panjer, ini lebih dari cukup kok, Ti! tukasnya. "Oh iya, ngomong-ngomong, kapan rencana mau nempatin rumahnya. Secepatnya pun gakpapa! Apa mau Ibu bantu pindahan sekalian?" tawarnya padaku.


"Kalau bisa sih, mulai besok!"


"Besok ya! Ya udah, ntar sehabis Eneng Siti pulang, ibu bersih-bersih di kontrakan itu ya! Maklum laah, pengontrak yang dulu orangnya jorok!" tuturnya, menggosip sesuatu yang tak ingin kudengar.


"Yang pasti sih, dia gak sama dengan Neng Siti. Dari penampilan aja, Neng Siti udah kelihatan cantik. Pastilah orangnya anti jorok! Iya kan, Neng!Ibu gak salah kan? Gak salah dong! eheheh!"


Aku membalas pujian bualnya dengan anggukan dan senyum palsu.


'Dasar matre, tadi menghina! Sekarang, baru lihat duit segitu aja udah sumeringah! Ciih!' Aku berdecih dalam hati.


"Kalau gitu, boleh saya minta kunci rumahnya?" pintaku.


"Ah iya, tunggu sebentar ya, Neng!" ungkapnya, disusul dengan gema ngaungan yang ia lengkingkan untuk memanggil putri semata wayangnya. Ia meminta gadis itu mengambilkan kunci rumah kontrakkan yang tergantung di bawah tangga untuk dibawakan padaku.


Setelah beberapa menit menunggu, terdengar langkah seorang wanita setengah tergesa menuju ruang tamu.


Selang beberapa saat gadis itu sudah hadir di hadapan kami dengan membawa sebuah kunci di tangan. Setelahnya, segera sang ibu memberikannya padaku.

__ADS_1


"Ya udah, kalo gitu, saya mau pamit dulu!" ungkapku.


"Oh iya! Hati-hati ya, Neng! Kalau ada apa-apa telpon ibu yaa!"


'Telpon? Nomormu saja aku tak punya!' Aku membatin. "Oke, terima kasih, Bu!" sahutku.


*****


Malam semakin berlabuh. Derasnya air mengguyur di setiap sudut desa. Diiringi dentuman petir dan kilat yang tak hentinya selama hujan berlangsung. Bias dari hujan mengenai pinggiran jendela kaca. Dapat kulihat warnanya yang semakin buram.


Aku mematung di depan jendela, memandang jauh keluar. Gelap dan senyap.


Sesaat kemudian, hujan mulai mereda. Hanya rintik yang masih setia mengiringi hawa dingin setelah hujan. Namun, tak menyurutkan niatku untuk mencari mangsa.


Sudah terlalu lama aku tak mendapat  asupan. Rasanya kulitku semakin kendor. Tenggorokan pun semakin cekat.


Aku memulai aksi dengan membaringkan tubuh indah ini di bawah ranjang kayu. Hanya tinggal malam ini aku tidur di rumah tua nan reat. Esok aku tak lagi menempati rumah reot yang tak layak huni.


Suara burung hantu terdengar berbunyi di sekitar pekarangan.


Untuk sesaat aku memejamkan mata, hal yang biasa aku lakukan sebelum melepas kepala.


Kuletakkan kedua tangan di leher, lalu menarik paksa kepala, diiringi organ tubuh yang juga ikut keluar.


Tak kuasa menahan sakit, aku pun mengerang. Bersamaan dengan lolongan anjing yang juga mengaung, membuat suasana malam semakin mencekam.


Membutuhkan waktu beberapa menit hingga kepala ini benar-benar terlepas.

__ADS_1


Setelah merasa longgar, aku pun mulai terbang. Menatap cermin retak yang terpampang di samping ranjang.


Mata menyala, taring panjang keluar hingga nyaris menyentuh organ. Dan lidah panjang yang sesekali kujulurkan.


Lidah ini dapat menghisap darah meski hanya dari luar rumah.


Mereka yang senang membuang pembalut sembarang adalah orang-orang yang kusukai. Karena secara tak sengaja, mereka sudah menyiapkan cemilan untukku.


Rintik masih menyambangi desa saat aku mulai beraksi mencari mangsa.


Hawa dingin bekas hujan masih setia menyelimuti tiap rumah warga. Tak kulihat satupun warga desa yang bepergian.


Hening. Hanya pohon yang sesekali bergoyang akibat ditiup angin. Kulihat batangnya melambai-lambai seakan tak kenal lelah.


Aku berdiam di balik pohon rindang. Meresapi aroma yang melintas. Belum ada tanda-tanda hidangan segar.


Padahal seingatku, malam ini ada salah satu warga yang sudah mendekati persalinan. Aku pun masih terus menunggu untuk beberapa saat.


Lalu tiba-tiba ....


"Cepat pah, cepaaat!"


Terdengar jelas suara seorang wanita yang tengah mengerang. Tampak sorot lampu motor yang semakin mendekat. Bau darah segar mulai tercium. Sangat pekat. Hingga membuat seleraku membuncah. Lidah ini mulai menjulur-julur dengan sendirinya.


Kulihat motor itu melaju tepat di hadapan tempat aku berdiam di balik pohon rindang.


Tampak sepasang suami istri yang sedang berkendara menuju rumah dukun persalinan.

__ADS_1


Dengan cepat aku mengikuti mereka, aroma itu benar-benar nikmat. Sepertinya malam ini akan menjadi malam pesta terbesarku di tahun ini.


__ADS_2