Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Teka-Teki Masa Laluku


__ADS_3

Aku mengerjap, pantulan sinar mentari yang terpancar melalui mata air membuatku terbangun.


Saat itu yang kurasakan hanyalah basah. Tubuhku basah tergenang air.


"Apa ini? Di mana aku? Di mana nenek?" Aku bingung. Kuedarkan pandangan ke sekitar.


Semua ruang tampak lusuh. Di mana rumah mewah yang kuhuni bersama nenek? Hanya ada pemandangan gubuk reot tempatku menemukan diri ini saat terbangun. Bahkan, tampak genangan air mengendap di antara lantai kotor ini.


Aku bangkit. Bergegas menuju pintu untuk keluar, mencari sosok nenek.


Nihil. Aku tak menemukan.


Kembali aku ke masuk ke rumah reot. Duduk di ranjang dengan kedua betis menjuntai ke lantai.


Hatiku pilu. Baru beberapa bulan aku merasakan kebahagiaan bersama nenek. Kini aku harus kembali merasakan penderitaan karena hilangnya nenek dari kehidupanku.


Rasa sedih, marah, bingung semua telah bercampur menjadi satu, mengalir di setiap denyut nadiku.


"Kenapa? Kenapa nenek melakukan semua ini padaku? Baru saja aku menikmati kesenangan hidup. Mendadak semua lenyap. Raib bagai ditelan bumi. Sebenarnya apa yang nenek inginkan? Bukankah beliau sendiri yang bilang, kalau beliau sudah lama menungguku? Tapi kenapa sekarang nenek meninggalkanku dengan teka-teki misteri?" Aku meringis di atas ranjang.


Tak puas jika hanya menangis. Sebab tak akan mengurangi rasa kesalku yang terlanjur mendarah daging.


Aku bangkit. Kuraih benda apa saja yang ada dalam ruang rumah reot itu. Guci, pajangan foto, pajangan dinding, lampu penerang, semua kulempar ke dinding.

__ADS_1


Bunyi benturan dan pecahan kaca pun tak terelakkan. Aku tak peduli, aku terus melempari benda itu agar hatiku lega. Namun, tetap saja aku merasa sedih, sebab yang kulakukan hanyalah kesia-siaan, tak akan mengembalikan kehidupan nikmat yang beberapa bulan terakhir kujalani bersama nenek.


Malam kembali menjelang, sementara aku masih belum beranjak dari gubuk reot.


Wajahku tertunduk lesu. Tak lagi kuingat perut yang sedari pagi belum terisi. Hening. Hanya kesepuluh jemari yang kumainkan sedari tadi. Sesekali air mata jatuh mengenai lengan mungil ini.


"Nenek? Kau di mana?" ucapku pelan. Hilanglah sudah rasa emosi yang tadi sempat membara. Kini hanya kepedihan yang tersisa.


Aku pun kembali bangkit. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan dan kebingungan. Bingung, karena semua teka-teki misteri ini benar-benar membingungkan.


Sejak awal memang aku sudah curiga, mungkin saja nenek bukan manusia. Sebab, mana mungkin manusia yang sudah berumur mampu hidup di tengah hutan seorang diri. Di tambah, rumah mewah nenek juga masih menjadi teka-teki dalam pikiranku.


Bagaimana bisa seorang wanita mampu membangun rumah semewah itu di tengah hutan. Dan juga, bukankah nenek sendiri yang berkata semenjak kabur ke hutan, beliau tak pernah kembali ke desa hingga puluhan tahun lamanya.


Seketika aku tersadar. Kurasa, aku memang wanita yang kehadirannya ditunggu-tunggu nenek. Mungkinkah ada suatu rahasia yang ingin nenek beritahukan padaku?


Setengah tergesa aku keluar dari gubuk reot.


Gelap. Ternyata malam sudah menjelang. Aku tak peduli.


Kususuri jalan setapak ini, sekitar dua ratus meter aku sampai pada jalan poros. Aku berada di atas bukit. Dari sini nampak jelas lampu-lampu menyala pada setiap bangunan rumah warga.


Bergegas kulangkahkan dengan mantap menuju jalan poros yang dulu pernah nenek lewati bersamaku saat turun dari angkutan umum.

__ADS_1


Hanya pemandangan hitam yang kulihat. Bahkan tak ada cahaya dari sinar bulan sebagai pengganti alat penerang. Mata ini terus kubuka lebar agar lebih fokus memandang jalanan.


Suara burung hantu pun ikut meramaikan suasana malam itu. Tak kurasakan belaian angin yang biasanya selalu hadir di kala malam. Kuedarkan pandangan, tampak pohon-pohon yang juga berdiam, sepertinya malam ini tak ada angin yang membelainya.


Tak peduli, kulanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai pada tujuan. Kembali kuedarkan pandangan. Aneh! Aku tak menemukan jalan setapak yang dulu kulewati bersama nenek.


"Di mana jalan setapak itu?" gumamku.


Namun aku masih ingat jalan menuju kediaman nenek di tengah hutan. Aku ingat dari beberapa pohon besar yang dulu kulihat. Pohon-pohon itu masih ada, menjadi petunjuk bagiku untuk kembali ke rumah nenek.


Cukup jauh aku masuk ke dalam hutan, hingga langkahku terhenti tepat di mana aku pertama kali melihat rumah mewah nenek.


Kuedarkan pandangan dari tempat aku berpijak.


"Mana? Di mana rumah nenek? Mengapa tak ada tanda-tanda terlihatnya rumah nenek? Bukankah rumah itu terletak di sana?!" gumamku.


Sementara saat hati dan akalku masih bingung, mendadak kudengar langkah seseorang yang menginjak rumput, suara betis yang menerpa ilalang, terdengar jelas mendekat ke arahku. Hawa dingin menyeruak, membuat bulu kuduk ini meremang.


Aku mulai takut. Jangan-jangan dia makhluk dedemit yang ingin melukaiku!


Tanganku gemetar, begitupun dengan kedua betisku. Aku pun kesulitan untuk bergerak.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2