
Aku dan Adrian sudah kembali setelah makan malam di warung pinggir jalan. Kini kami sudah tiba di apartement Adrian saat tepat pukul delapan malam.
Beruntung, sepanjang kami pulang tak ada gangguan apapun dari makhluk iblis berbentuk dedemit yang mengganggu seperti sebelumnya.
Adrian akhirnya menyewakan kamar di sebuah hotel yang berdekatan dengan apartementnya.
"Malam ini, Eneng tidur di sini dulu, yaa! Besok baru Abang antar pulang."
Aku mengangguk, dibalas dengan senyum manis dari Adrian. Ia berbalik badan, beranjak dari tempat ia berdiri menuju apartement.
Seketika aku berlari. Entah kenapa aku ingin mengejarnya. Aku ingin memeluknya.
Sedetik kemudian aku berhasil meraih punggungnya. Kupeluk erat punggung Adrian hingga melingkar ke dada dan membuat langkahnya terhenti.
"E-Neng, kenapaa?"
"Sebentar aja, Bang pliiis! Izinkan Eneng peluk sebentar!" Tak ada jawaban dari Adrian setelah aku mengatakan hal itu padanya.
Hangat, itulah yang paling kurasakan. Juga debaran jantung Adrian yang terasa berdegud pada dada bidangnya di atas telapak tanganku.
"Apa sekarang udah boleh dilepas, Neng?" tanyanya.
Astaga! Aku tak sadar, sudah hampir sepuluh menit aku memeluknya. Seketika aku melepas lengan yang tadi melingkar di pinggul hingga ke dada Adrian itu.
"Maaf kalo Eneng bikin Abang jadi gak enak! Maaf juga, karena Eneng sudah menyusahkan Abang." ungkapku dengan menyungutkan wajah.
__ADS_1
"E-Neng, gak perlu sungkan gitu. Abang bukannya gak senang kalo Eneng meluk. Cuma ...."
"Cuma apa, Bang?"
"Sudah seharian kerja, Abang belum mandi. Takut bau apek, Neng!" Aku tertawa mendengar penuturannya. Sesaat aku mengira kalau Adrian tak suka jika aku menempel padanya.
"Ya udah! Abang balik gih! Mandi sana!"
"Hmm! Selamat malam, Neng Siti!"
Wajahku merona mendengar ucapan terakhir Adrian sebelum akhirnya meninggalkanku di halaman hotel ini.
Kulihat ia sudah memasuki pagar dari apartement tempatnya menginap. Aku pun berbalik badan, berniat masuk karena udara malam sudah mulai dingin. Namun, entah mengapa udara malam ini terasa berbeda dari biasanya.
Kulangkahkan kaki menuju kamar. Hawa dingin menyeruak seakan mengikutiku dari belakang. Seketika langkahku terhenti. Menyadari seseorang tengah membuntutiku.
Aku mengira telah dibuntuti oleh manusia yang mungkin bisa melukaiku menggunakan senjata. Namun ternyata, sosok yang mengikutiku bukanlah manusia, melainkan jelmaan nenek yang berwujud wanita muda.
Aku terjatuh, bok*ngku nyaris menyentuh tanah.
"Ne-Nenek?" Suaraku terbata.
"Sitii! Apa yang kamu lakukan? Jangan coba-coba mempermainkan perjanjian yang dulu sudah kita sepakati!"
"Bu-bukan be-gi-tu, Nek!"
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu masih mengulur waktu hanya untuk menghabisi nyawa pria itu. Bukankah aku sudah memberikan kekuatan padamu?!"
"Aku .. belum siap, Nek!"
"Siti!! Jangan bilang kau jatuh cinta pada pria itu?"
Aku tertunduk mendengar pertanyaan nenek. Memang benar, aku telah jatuh cinta pada Adrian. Lalu? Mungkinkah aku sanggup menghabisi nyawanya?
Tidak! Kali ini tidak lagi. Tidak ada kata perpisahan! Aku tak mau! Aku tak akan mau kehilangan orang yang kusayang.
"Mohon bersabar, Nek. Kelak aku akan menghabisinya. Tapi sekarang belum saatnya!"
"Kenapa??"
"Aku masih ingin bermain-main dengannya!" ungkapku berdusta. "Dan lagi, bukankah Nenek sudah memberiku tempo dua minggu. Dan sekarang baru lewat sehari!"
"Hmm! Baiklah! Tapi ingat! Jangan pernah mencoba membohongi Nenek. Atau kau akan mendapat akibatnya!"
"Baik, Nek!" jawabku menunduk.
Sesaat kemudian sosok nenek menghilang dari pandanganku. Hawa dingin yang tadi mengikuti pun ikut menghilang.
Aku lemas. Persendianku terasa ngilu. Tak sanggup aku bangkit dari tempat aku tersungkur.
Apa yang harus kulalukan? Aku tak sanggup melihat orang yang kusayang kembali terkubur oleh tangan biadabku, seperti dulu saat mengubur nenek.
__ADS_1
Aku tak ingin Adrian mati. Aku tak ingin angan-anganku untuk menikah dengannya harus pupus.
Kalau begini, aku harus bergerak cepat. Malam ini juga, aku harus kembali ke desa. Menyelesaikan masalahku sebelum akhirnya benar-benar pergi dari desa.