Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Berpisah dengan Nenek


__ADS_3

Aku masih tak percaya jika nenek sudah tak ada. Raganya memang berpindah dari dunia tapi tidak dengan kenangannya. Berusaha kusapu air mata agar berhenti mengalir. Namun tetap saja, buliran bening itu berjatuhan menggenangi pipi.


Cukup lama aku termenung. Mengingat semua kenangan bersama nenek. Jika saja aku punya kekuatan, ingin rasanya nenek kuhidupkan kembali ke dunia.


Malam semakin larut, suasana semakin mencekam. Suara-suara dari penghuni hutan mulai terdengar jelas.


Perlahan mereka mulai menampakkan diri. Aku tak tahu apa niat mereka menampakkan diri di hadapanku.


Tapi anehnya, kini aku tak merasa takut seperti sebelum-sebelumnya ketika menyadari kehadiran mereka di dekatku.


Sungguh hal yang aneh! Mungkinkah rasa takut ini menghilang karena ilmu hitam yang sudah menyatu dengan urat nadiku.


Semakin lama penampakkan mereka semakin nyata. Kini telah hadir puluhan sosok yang bentuknya tak karuan, semua nyaris berparas buruk rupa, disertai tawa seringai yang menggelegar dari mereka.


Aku berdesis. Mataku menyalak saat kehadiran mereka mulai mengusik. Entah bagaimana hal yang tak kuduga ini terjadi padaku.


Taring panjang dan tajam pun memancar di antara kedua bibirku. Geram seakan diserang, aku mencoba melawan mereka.


Sedetik kukira akan terjadi pertempuran antar aku dan sesama dedemit. Namun, hal yang tak kuduga terjadi.


Makhluk-makhluk astral itu mulai menjauh. Penampakkan mereka bahkan memudar.


Suara kokokan ayam mulai terdengar. Aku tak heran. Memang, di desa ini, ayam sering terdengar berkokok menjelang pukul tiga subuh.


Aku mulai bingung dengan mayat nenek. Akan ku ke manakan jasad ini?


Cukup lama aku berpikir.


Pukul tiga subuh akhirnya kuputuskan untuk menggali tanah, dan karena hanya menggunakan alat yang terbuat dari dahan ranting untuk menggali lubang, akhirnya pengerjaanku selesai saat mulai terdengar gema adzan di desa.


Kuseret nenek begitu kurasa lubang itu sudah cukup untuk menimbun jasad nenek.


Air mata terakhirku mengiringi kepergian sang nenek.

__ADS_1


Dengan perlahan, kubaringkan tubuh nenek hingga terbujur sempurna dalam lubang sedalam setengah meter.


Kupandangi sosoknya. Tampak matanya yang kini sudah tertutup rapat. Meski mulutnya masih menganga.


Tak ingin membuang waktu. Kutimbun tanah di atas jasad nenek, hingga tertutup sempurna.


Kuharap tak ada aroma busuk yang keluar dari jasadnya dan tercium oleh warga.


Bergegas aku keluar dari hutan saat kulihat fajar mulai menyongsong di ufuk timur. Pergi dengan tujuan yang pasti, yaitu untuk pembalasan dendam.


Kini aku telah memulai kehidupan baru. Hidup layaknya manusia normal di siang hari. Dengan menyewa sebidang tanah di pinggir jalan di desa ini yang akhirnya kujadikan kedai kopi. Dan dengan satu misi, yaitu pembalasan dendam atas kematian keluarga nenek.


Semua orang memanggilku Siti, nama yang kuambil dari singkatan 'Si Kuyang Cantik'.


Namun, hanya aku yang mengetahui singkatan dari nama itu. Dan nenek yang kini sudah tiada.


_________&&


Aku akhirnya menghentikan lamunan tentang masa laluku.


"Kuharap Adrian sudah nyenyak!" gumamku.


Perlahan aku melayang, kuedarkan pandangan. Sebuah selimut tampak membungkus tubuh Adrian. Bahkan dengkurannya dapat terdengar dari tempat aku melayang. Membuatku tertawa kecil.


"Oh priaku!" gumamku.


Kembali kuedarkan pandangan. Mencari celah agar dapat keluar dari kamar Adrian.


Malam sudah semakin memudar. Kudengar kokokan ayam yang menandakan pagi akan datang.


Kacau! Aku tak bisa terlalu lama dalam kamar pria ini. Aku harus bisa kembali sebelum matahari terbit!


Aku melayang ke sana kemari. Mencari jalan keluar.

__ADS_1


Sial! Pria ini sudah mengunci aksesku untuk keluar. Saat ini hanya kepala dan organ yang sedang melayang. Takkan mungkin aku mampu membuka jendela ini.


Aku berpikir keras, cara agar bisa kembali ke rumah reot secepatnya.


Ah! Bagaimana ini! Gawat! Gawat! Gawat!


Kulihat pengunci jendela itu hanya sebuah penyondok yang menekan ke bawah.


Wah! Sepertinya aku bisa menekan ke atas penyondok itu, dan pasti jendela itu akan terbuka!


Aku mulai mencari benda kecil yang sekiranya bisa kugunakan untuk mencongkel penyondok.


Dapat!


Mataku tertuju pada sebuah sumpit yang terletak di ruang dapur Adrian.


Kuraih benda itu menggunakan mulut. Dan melayang menuju jendela.


Berkali-kali kucoba mencongkel pengunci itu, dan berkali-kali juga aku mengalami kegagalan.


Kulihat di ujung timur, warna kekuningan dari sinar matahari sudah mulai memancar.


"Sial! Aku harus cepat."


Kali ini aku mencoba lebih keras.


Pluuuk! Penyondok itu terbuka. Dan menimbulkan sedikit bunyi.


"Ah! Akhirnya berhasil!" Segera aku mendorong jendela dengan kepalaku agar terbuka lebar dan aku bisa pergi.


Namun, suatu hal tak terduga mengagetkanku.


"Heii! Makhluk apa kamu??" Aku terkejut. Suara seorang pria menghardikku dari arah belakang. Mungkinkah Adrian terbangun karena mendengar sedikit keributan yang kubuat di kamarnya?

__ADS_1


__ADS_2