
Kurasakan lengan pria itu yang langsung menarikku. Kembali ia memaksa bangkit agar tetap terjaga.
Aku masih menangis. Menundukkan wajah, menyembunyikannya di balik punggung si pria tadi.
"Pergilah kau! Wanita ini tak ingin menjadi budakmu lagi!" Pria ini mengusir sosok penampakkan nenek.
"Hahahaha! Tawa gelegar dari nenek membuat bulu romaku semakin meremang saja. "Memangnya siapa kau berani memerintahku! Aku Ratih! Kekuatanku meliputi semesta alam!"
Kulihat mulut pria ini komat-kamit melantunkan kalimat-kalimat tauhid.
"Tiada kekuatan yang melebihi kekuatanNya! Hanya Dia! Sang Pencipta langit dan bumi yang paling kuat."
"Baiklah! Jadi rupanya kau sudah bosan hidup! Kini kau mencoba melawanku? Terkutuklah kau pria keturunan darah Burhanin!" Lengkingan nenek berhasil memecah keheningan malam.
Kembali sosok nenek menjadi sekelebat bayangan hitam. Bayangan yang mengitari aku dan pria ini.
Aku tak tahu nasib apa yang akan menjadi takdir kami malam ini. Pasrah. Jika memang harus mati, aku akan terima. Sudah terlalu banyak dosa yang kuperbuat selama ini. Hanya satu harapanku, semoga Tuhan mengampuniku.
"Aaaaaa!" Lengkingan dari nenek membuat gendang pendengaranku hampir pecah. Tak kuat. Kututup kedua telinga ini dengan telapak tangan. Hingga tak sadar, aku sudah melepas peganganku di tangan pria itu.
"Sitiiiii!!!" Suara pria itu memanggilku.
Syyuuut!
Sekelebat bayangan hitam memenuhi penglihatanku. Aku tak lagi melihat sosok pria itu. Hanya bayangan ini yang terus mengitari.
Gawat! Aku melepas pegangan pada pria itu. Sekarang pria itu menghilang dari sisiku. Tidak, aku yang menghilang dari sisinya. Kurasa nenek berhasil merebutku kembali.
Mata merah menyala kembali menyambangiku.
"Aaaaaaaa!"
Semua penglihatanku kemudian menjadi redup lalu berubah gelap. Ya, aku mulai tak sadarkan diri.
******
Cit cuit cit cuit!
Suara kicauan burung terdengar jelas. Aku mengerjap. Sinar mentari berhasil menyilaukan mata ini. Kurasakan sutra lembut menutupi tubuhku. Samar terlihat bayangan ruang mewah penuh dekor bernuansa klasik.
Seketika aku terlonjak. Duduk. Kudapati diriku tengah tidur di atas ranjang lamaku.
"I-ini-kan! Rumah mewah misterius milik nenek."
Netraku mengedar. Sepi. Tak ada tanda-tanda penghuni selain diriku.
"Apa mungkin nenek membawaku kembali ke rumah misterinya?" Kembali kuedar pandangan. "Sepertinya dugaanku benar!"
__ADS_1
Bergegas aku bangkit. Berlari kecil menuju pintu utama. Langkahku tergesa menuruni anak tangga. Sepanjang aula jantungku terus berdegub.
'Tidak boleh! Ini tidak boleh terjadi! Aku tak ingin kembali ke masa dulu. Aku ingin mengakhiri semua ini!'
Aku berhasil meraih daun pintu utama. Dengan cepat aku mencoba membuka pintunya.
Keras. Kucoba untuk mendobrak. Namun, tenagaku tak cukup kuat. Sepertinya memang dikunci. Itu artinya aku terkurung.
Kembali aku berlari. Aku ingat, ada sebuah jalan pintas untuk keluar di area rumah megah ini.
Bergegas aku ke sana. Tak kupeduli meski harus melewati terowongan gelap yang penuh hawa mistis.
Untuk sekarang. Aku tak punya lagi rasa takut terhadap makhluk halus. Aku sendiri bahkan bukan manusia utuh.
Cukup jauh aku berlari. Hingga akhirnya tiba di ujung terowongan. Gelap. Hanya telapak tangan yang meraba. Mencari gagang pintu.
Sebelumnya aku memang sudah mengenal tempat ini. Dulu aku terbiasa keluar masuk lewat akses ini. Sehingga tak butuh waktu lama bagiku untuk dapat membuka pintunya.
Selang beberapa saat pintu jalan pintas ini terbuka. Bergegas aku berlari, keluar membelah bukit.
Namun, begitu aku sampai tepat di atas bukit. Aku heran. Tak ada lagi pohon-pohon besar yang dulu menjadi petunjuk menuju jalan poros. Hanya hutan belantara yang memenuhi pandangan ini.
Aku terduduk lemas. Apakah ini artinya aku terisolasi di sini. Kuraih tas yang talinya masih mengait di atas bahu, mencari sebuah benda pipih. Semoga saja aku bisa menghubungi Adrian.
Dan ternyata upayaku berbuah kesia-siaan. Karena sinyal pun tak ada di sini.
"Ayah! Kau jahat! Ini semua karena ulahmu yang kejam! Andai saja Ayah tak mendatangi iblis ini. Mungkin sekarang aku masih hidup sebagai manusia normal. Dengan nama Jameelah yang diberikan kakek untukku. Dan bukan Siti, nama pemberian makhluk dedemit ini!"
Kusapu air mata yang tertumpah ruah ini.
Kembali bayanganku teringat akan kehidupan normal di luar sana.
Semangat! Aku harus semangat! Aku pasti bisa menyelesaikan semua masalah ini. Asal aku tak pantang menyerah. Sisanya kuserahkan pada Tuhan.
Seketika aku teringat. Hanya ada satu kesempatan untukku bisa benar-benar kabur tanpa ketahuan nenek. Yaa! Hanya jika terik matahari tepat berada di ubun-ubun.
Tapi, jika aku menunggu sampai siang. Belum tentu aku berhasil keluar dari hutan dengan waktu singkat jika tanpa petunjuk.
Ahh! Untuk sesaat aku tak dapat berpikir jernih. Firasatku berkata, akan ada bahaya yang menungguku di desa sana.
Tapi apa pun itu, aku tak akan pernah tahu hasilnya jika tak mencoba. Dan jika mati sekalipun di desa, tak akan ada satu manusia pun yang mungkin mengingatku.
Bermodal nekat. Aku akhirnya kembali menelusuri hutan ini. Bahkan tanpa alas kaki.
Sesekali kaki ini menginjak duri dari rumput liar. Sedikit meringis. Kucabut benda itu dan kembali berjalan.
Semakin lama semakin jauh kurasa dari desa.
__ADS_1
"Apa aku semakin tersesat ke dalam hutan?"
"Astaga! Aku lupa, bukankah aku punya aplikasi GPS di ponsel!"
Kuraih ponsel dan langsung mengaktifkan mode GPS. Terpampang sinyal rendah, tapi tetap kucoba. Berhasil. Sinyal rendah tak masalah, asalkan aplikasi GPS ini masih bisa terbuka.
Dan ternyata aku sudah mengambil langkah yang benar. Di depan sejarak satu kilo meter akan ada sungai yang harus diseberangi. Dan setelahnya hanya tinggal setengah kilo aku akan sampai di desa.
Semangat. Kulanjutkan langkah menapaki anak gunung dan juga rumput-rumput liar.
Sesekali betis ini tersandung akar yang timbul ke atas bumi, membuatku terjatuh. Tapi hanya sejenak aku meringis, kembali aku bangkit dan melanjutkan perjalanan.
Demi perubahan hidup, aku harus tegar. Meski ingin sekali hati ini menyerah karena rasa lelah yang semakin melanda jiwa dan raga.
Terik matahari sudah mencapai puncaknya. Dapat kurasakan ubun-ubunku yang mulai memanas.
Penglihatanku mulai rabun. Ya, semenjak menjadi manusia setengah dedemit, aku tak kuat berada di bawah terik matahari yang membuat bayangan hanya ada satu titik di bawah mata kaki.
Aku akhirnya memilih berteduh di bawah pohon rindang. Haus, gerah, lapar, semua mulai menggerayungi perut dan kerongkongan ini.
Netraku memejam untuk sejenak. Sepoian angin kembali menyapa. Kali ini diiringi dengan suara percikan air sungai.
Deg!
Kembali aku terjaga. Sepertinya sungai sudah dekat. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada.
Bergegas aku bangkit dan kembali menyusuri hutan, mencari asal suara sungai.
Hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh menit, aku akhirnya menemukan sungai. Sungai yang menjadi petunjuk bahwa jarak desa tinggal setengah kilo meter dari sini.
Buru-buru aku menuruninya. Menyeberang dengan menginjak bebatuan agar sampai ke seberang.
Satu dua hingga enam batu sudah terlewat. Semua masih aman terkendali. Hingga tiba-tiba, kakiku menginjak satu batu yang cukup licin.
Byuuuur!
Aku terjatuh. Bayangan kekuningan memenuhi penglihatanku. Ya, ini adalah warna dari air sungai.
"Seseorang! Kumohon tolong aku!" Aku mulai kesulitan untuk bernapas. Raga ini semakin hanyut, terbawa arus ketengah sungai.
"Oh tidak! Tidaak! Toloooong!" Suaraku menggema memekik diantara hiruknya hutan.
Tapi ini hutan. Bahkan dengan berteriak pun tak akan ada yang mendengarku.
Aku lemas. Hanyut terbawa arus.
Bersambung ....
__ADS_1