Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Akankah Aku Tercyduk?


__ADS_3

Perasaanku mulai tak karuan. Aku gugup hingga membuat jantungku hampir terlepas dari organ-organ yang menggantung.


Perlahan dengan ragu aku menoleh.


Dan ....


Kulihat tubuhnya kembali berbalik membelakangiku sambil menarik selimut. Menutupi badan kekarnya yang tak menggunakan kaos singlet.


"Ah, syukuurr! Ternyata cuma mengigau!" gumamku.


Mungkin saja pria itu kedingina karena AC yang ia biarkan menyala sepanjang malam. Hingga membutnya mengigau. Tapi entahlah, itu hanya dugaanku.


Segera aku keluar lalu melayang di atas udara, aku harus cepat sebelum para warga bangun dan kembali beraktifitas menjalankan tugas rutinnya.


Perjuanganku membuahkan hasil.


Aku pun kembali ke gubuk reot tanpa ketahuan oleh warga. Meski organku sempat terkena sedikit sinar dari cahaya matahari pagi.


__________&&


Mentari telah menampakkan diri dengan sempurna dari ujung timur saat aku tengah bersiap melakukan aktifitas rutin. Satu buah dompet tak luput kujenteng di tangan.


Masih dapat kurasajan nyeri di titik utama bagian organ tubuh ini, kurenggangkan lengan dan berhasil menciptakan bunyi gemertak pada tulang.


Embun menetes mengenai pucuk hidung mungilku.


Meski matahari sudah nampak. Akan tetapi masih banyak embun yang akan dijumpai di desa ini. Mungkin karena faktor alam dan ekosistem yang masih terjaga.


Kususuri jalan setapak menuju jalan poros. Tujuan utama adalah berbelanja di pasar tradisional.


Baru saja langkah ini sampai pada pemukiman warga, kulihat para wanita penggosip mulai geger dengan berita pengejaran kuyang malam tadi.


Lagi-lagi, mulut tajam itu menggosipi identas rahasiaku.


Semua tampak sibuk bergosip. Bahkan jika saat itu maling tengah beraksi, kurasa maling itu akan menang banyak karena begitu asyiknya mereka bercengkrama hingga lupa dengan tugas-tugas mereka.


Ya! Aku bisa mengatakan seperti itu karena kulihat beberapa ibu-ibu di sana tengah menjenteng jemuran di tangan, tapi ia tak menjemurnya, melainkan hanya berdiri di antara kumpulan anggota penggosip.


Kulihat para wanita yang di ketuai oleh Mak Ijah itu tampak berkerumun di teras warung milik tetangganya.

__ADS_1


Suara mereka melengking. Entah kapan wanita itu sadar? Padahal perutnya semakin hari semakin membuncit. Apa dia tak takut jika kelak akan melahirkan seorang penggosip sama sepertinya?


"Ahh!" desahku berusaha menepis semua bayangan ini.


Semua ini hanyalah batu loncatan bagiku. Jika aku berhasil membalaskan dendam nenek, maka semua yang kuinginkan akan terwujud. Itulah pesan dari nenek yang paling melekat di pikiranku saat ini.


Bergegas aku berlalu dari hadapan mereka. Tak ingin berlarut-larut dengan gosip yang tak mereka sadari sebenarnya mengarah padaku.


Namun, begitu langkah ini melintas tepat di hadapan semuanya, seketika terdengar seseorang meneriakiku.


"Oeeyyy! Sitiii!"


Aku tersentak. Mendadak langkahku terhenti dengan sendirinya.


"Mau ke mana lu? Tumben gak nguping!" Ungkapan itu berhasil membuatku menyunggingkan senyuman ke hadapan mereka.


"Cih!" tawaku seakan tertahan. "Eh dengar ya, Mak Ijah! Dari dulu ampe sekarang, gue gak hoby nguping! Gak kayak lu pade! Bukan cuma hoby nguping! Ngomongin teman sendiri aja lu semua pada doyan!"


"Apa?? Wah kebangetan nih mulutnya!"


"Minta ditampol kali!" sambung teman seperkumpulannya.


"Kita tuh gak sama dengan loe ya, Ti! Kita mah suci, gak ganjen kayak elo! Yang kerjanya cuma ngegaet laki orang!"


"Eleeeeeh! Kalian lebih parah! Cuma bisa meras laki sendiri! Syukur-syukur deh kalo ntu laki masih bedaging. Kalo yang kuruss! Duuh kebayang kan! .. tambah kurus deh ntar karena harus terus meras keringat demi kalian!"


"Ehh brengs*k! Lancang banget loe ya! Mau cari mati loe!"


"Mati? Ya kagak lah! Gue cuma mau hidup tenang tanpa diganggu makhluk-makhluk serangga kayak kalian!"


"Sumpreeet! Hajar dia!" seru Mak Ijah si ketua geng kepada kumpulannya.


"Tapi, Jah!" kilah salah seorang kawannya yang tengah duduk.


"Udah gak pake tapi-tapian! Buruan kita habisin dia!"


"Tapi, kalo ntar kita di penjara, gimana?!" sambung yang lain.


"Ahh! Penakut bener sih kalian!" tukas Mak Ijah. "Biar gue aja yang hajar kalo kalian gak berani! Gue yakin, ada sesuatu yang gak beres yang disembunyiin nih janda!" Mak Ijah teramat geram. Ia maju dengan lantang mendekat ke arahku.

__ADS_1


'Sialan! Mau ngapain nih kerbau??' Aku membatin.


"Eh eh! Lu mau ngapain?" tanyaku dengan tangan yang spontan kuletakkan di atas dahi untuk melindungi kepala dari serangan makhluk buas ini.


"Mau ngapain lagi? Nyekek elo!" ungkapnya padaku dengan langkah yang kini semakin dekat.


Aku mulai gugup.


Bergegas aku berbalik badan untuk menghindari amukan si kadal buas. Namun tak kusangka, tampak segerombolan ibu-ibu berdaster tengah menghadangku dari arah berlawanan. Dengan berbagai senjata yang melekat eratbdi tangan mereka. Mulai dari alat masak hingga gayung telah siap terbang ke arahku.


Aku terjebak di tengah-tengah.


"Sial! Apa yang harus kulakukan?? Jika berteriak, adakah yang mendengar??" keluhku dalam hati.


Aku merunduk, kupeluk kedua lutut saat itu juga dengan memejamkan mata.


Beberapa senjata sudah mulai menghantam tubuhku. Aku meringis menahan sakit.


Kini, dapat kurasakan langkah mereka yang menggebu ingin menghajarku. Langkah itu kini semakin dekat ke arahku.


Saking riuhnya, tapakan kaki itu bahkan terasa seakan menginjak telingaku.


Kututup kedua telinga dengan telapak tangan dan mata yang terus kubiarkan terpejam.


Hingga tiba-tiba, aku mendengar suara sebuah mobil yang melaju dari arah barat.


Suara klakson pun menggema di telinga ini. Kudengar para wanita berdaster itu berteriak saling dorong untuk menghindar.


Deg!


Apa yang terjadi?


Kini, suara decitan ban mobil yang mengerem terdengar lebih keras, mengalahkan kerasnya teriakan histeris para rubah serigala itu.


Aku terlonjak. Kubuka mata secara perlahan.


Hal yang pertama terlihat adalah dua buah ban mobil. Lalu tiba-tiba ....


"Neeeng! Masuk, Neeeeng! Buruaaan!!"

__ADS_1


Kulihat seorang pria dengan wajah pucat penuh kecemasan tengah membuka pintu mobilnya, sementara sebelah tangannya masih setia memegang kendali setir mobil.


Aku pun tersentak kaget. "Adrian??"


__ADS_2