
Sang suami mulai mencariku, menggunakan benda penerang yang ia mainkan di tangan.
Sementara, bias cahaya dari senter sesekali menyorot ke arahku. Membuat netra ini silau. Namun, pencarian sang bapak belum membuahkan hasil, sebab mereka masih belum menemukanku.
"Sial! Untung mereka belum menyadari keberadaanku!"
Bergegas aku menjauh dari gubuk yang dapat membahayakan kelangsungan hidup ini.
Dengan menggunakan kekuatan ilmu hitam, aku melayang dari pohon ke pohon.
Namun tetap saja, warna kemerahan seperti api yang menyala pada bagian organku tak mampu menutupi keberadaanku.
Sedang sang suami dari istri yang kuincar, semakin histeris memanggil warga untuk mencariku.
Pentungan pun tak luput ia bunyikan.
Satu-persatu warga mulai berdatangan. Bukan hanya karena pentungan yang dipukul sebagai alat pemanggil, tapi juga karena di era modern ini, semua sudah menggunakan ponsel berbasis android untuk saling memanggil. Dapat kulihat si bapak tadi yang tampak mengotak-atik ponselnya.
Meski rumah sang sepuh berada di pinggiran hutan. Namun, tak mengurangi sinyal pada ponsel mereka. Warga pun mulai geger dengan berita penemuan kuyang.
Ya, aku mengetahuinya, sebab setiap warga yang datang, kulihat mereka selalu memegang ponsel di tangan, dengan dua jempol yang tak henti bermain pada tombol keyboard.
"Sial! Sial! Sial!" gumamku yang hanya dapat bersembunyi di sela pepohonan.
Para warga semakin ramai berdatangan. Aku pun dibuat tak berkutik dengan kehadiran mereka.
Di sana-sini, tampak cahaya menerawang, mencari sosok misteriusku. 'Jangan sampai aku tertangkap oleh mereka,' batinku menggumam.
Sempat aku mengira bahwa malam ini adalah malam pesta terbesarku. Namun ternyata firasatku salah.
Malam ini memang aku mendapat mangsa yang cukup lezat. Tapi tak kusangka, ternyata malam ini juga, aku harus berada di pohon, yang entah sampai kapan harus bersembunyi.
__ADS_1
Kuharap mereka tak menungguku hingga pagi.
Malam semakin larut. Tak ada tanda-tanda sepoian angin yang membelai ranting-ranting pohon.
Biasanya jika sudah begini, hujan akan turun dengan lebat.
Para warga tampaknya mulai jengah, satu-persatu mereka mulai pulang, meninggalkan si bapak dengan raut muram, duduk di antara anak tangga.
"Seng sabar yo, Pul. Semoga istrimu cepat pulih!" Kulihat seseorang menepuk pundaknya. Memberi semangat pada si bapak yang ia panggil dengan sebutan Pul.
'Tunggu! Apa mungkin, bapak dari pria itu adalah Mas Saiful?' Kembali aku membatin.
'Ah, biarlah! Ini semua layak dia dapatkan! Sebab, dia tak pernah bersyukur dengan jodoh yang ditakdirkan Tuhan padanya. Hanya karena aku lebih cantik dari istrinya, tak seharusnya dia membanding-bandingkannya denganku," batinku terus menggerutu.
Cukup lama aku berdiam di antara rerindangan ini. Aku pun mulai merasa lelah. 'Ah! Andai saja aku bisa kembali ke gubuk reotku! Ingin rasanya raga ini beristirahat,' rutukku dalam hati.
Aku terus menunggu hingga warga tak lagi beronda. Namun, penantianku masih belum berujung. Sepertinya, aku harus terus bersabar. Semua demi keselamatanku.
"Astaga! Berapa lama lagi aku harus menunggu.
Lalu tiba-tiba ....
Hujan turun dengan lebatnya. Derasnya air mengguyur di atas pepohonan dan atap rumah sang sepuh. Juga driiringi dentuman petir dan kilat yang tak hentinya selama hujan berlangsung. Bahkan saking lebatnya, tanah yang tadi kering pun mulai tergenang air.
Kulihat para warga sibuk berlarian, menyelamatkan diri dari serangan air yang gugur di bawah langit, juga dari serangan petir yang kilatnya berhasil menampakkan wajah mereka.
Padahal hanya air. Mengapa mereka takut?
Satu-persatu warga berlindung di bawah teras gubuk milik si sepuh.
Lantainya yang hanya terbuat dari kayu lapuk menimbulkan bunyi retak saat semakin banyak warga yang berlindung.
__ADS_1
Kini sudah tak tampak lagi satu pun makhluk yang beronda mencariku.
Biarlah malam ini aku kehujanan! Yang penting nyawa masih bersemayam dalam kandung badan.
Lampu dengan cahaya kekuningan, yang terpasang di teras si sepuh, menjadi satu-satunya penerang malam itu.
Namun tiba-tiba, cahaya itu mulai berkedip-kedip, lalu sedetik kemudian gelap gulita.
Tak lagi berpikir panjang, segera aku melayang. "Sepertinya, ini waktu yang pas untukku kabur!" gumamku.
Baru sepuluh meter aku melayang, mendadak para warga itu histeris. "Gawat! Sepertinya mereka menemukanku!"
Kupercepat gerakan agar tak sampai terkejar oleh mereka.
Tak kusangka, meski hujan mengguyur dengan derasnya. Ternyata mereka masih mampu mengejarku.
Aku pun tak ingin patah semangat.
Dikejauhan, kulihat sebuah penginapan tingkat lima.
Tampak lampu menyala dari sebuah kamar di tingkat teratas.
Aku menengok, sekilas terlihat semakin ramai kerumunan warga yang mengejar. Sedang hujan masih mengguyur desa tanpa henti.
Tanpa pikir panjang, segera aku masuk ke dalam kamar itu melalui jendelanya yang juga terbuka. Dan langsung bersembunyi ke dalam lemari pakaian.
Masih terdengar jelas suara ricuh para warga di bawah mengelilingi penginapan. Tapakan kaki mereka saat menaiki anak tangga pun mulai terdengar.
Bunyinya bagai hentakan kaki kuda yang bergantian menapaki anak tangga. Semakin menuju tingkat atas, semakin jelas pula aku mendengarnya.
"Oh tidak! Oh tidak! Semoga saja mereka tak menemukanku!" gumamku yang mulai gemetar.
__ADS_1