
Suara itu semakin dekat dan semakin jelas terdengar di telinga.
Aku meringkuk. Kupeluk kedua lutut yang tak bergerak seakan mati rasa.
'Ah, mungkin ini adalah perjalanan terakhir dari hidupku!' gumamku dalam hati.
Kupejamkan kedua mata saat langkah itu berhenti tepat di belakang.
Kurasakan debaran jantungku yang semakin terpompa kencang. Hawa dingin pun menusuk hingga ke tulang sumsum.
Tap! tap!
Mendadak ada sesuatu yang menepuk pundakku dari belakang. Seketika tubuhku yang tadi panas kini mengeluarkan keringat dingin.
"Si-siapa?" tanyaku tanpa menoleh dengan mata yang terus memejam. Namun, tak ada jawaban.
Kembali tepukan itu menyentuh bahu ini. Kali ini terasa lebih keras. Seakan mengisyaratkanku untuk tidak mengabaikannya.
Mulutku terkunci, tak lagi aku berani bertanya. Namun, rasa penasaran akhirnya menuntunku untuk menoleh ke arah belakang.
Masih dengan mata yang terpejam. Begitu putaran tubuhku mencapai bagian belakang, aku pun mencoba membuka mata secara perlahan.
Hal yang pertama kali kulihat adalah organ tubuh manusia yang berwarna kemerahan seperti bara api, sedang melayang tepat di depan wajah ini.
Saat itu aku ketakutan. Bibirku bergetar, sekujur tubuhku juga ikut bergetar, bahkan tak sempat aku melihat wajahnya ke atas, kembali kupejamkan netra.
"Jangan takut, Ndok!" ujarnya, berbicara padaku.
Aku terkejut mendengar suaranya. Suara yang tak asing itu seperti suara seseorang yang sedang kucari-cari.
Aku mendongak.
"Nenek?" ungkapku pelan saat netraku terbuka sempurna menatap ke arahnya. Kini, tampaklah sudah wajah dari makhluk yang tadi menepuk pundakku, makhkuk yang kini berada di hadapanku.
Sosok yang hanya sebatas kepala dengan organ menggantung itu membuatku bergidik ngeri. Wajahnya hampir tak dapat kukenali, sebab warna mata nenek yang biasanya hitam pekat, malam ini terlihat merah padam.
"Ya, ini Nenek!" ungkapnya. Mari ... Ikut Nenek!" Ia pun mengajakku untuk mengikutinya.
Kemudian ia melayang, terbang ke suatu tempat. Tanpa ragu aku mengikutinya, karena kurasa makhluk ini benar-benar nenek. Sebab tak ada rasa canggung saat menatap matanya, meski warna mata itu berbeda.
Hingga akhirnya kami tiba di bawah sebuah pohon besar. Kulihat nenek menunjuk ke arah batu besar yang terletak di bawah pohon.
Tampak jasad tanpa kelapa tergeletak di atas batu itu. Aku terkejut, spontan tanganku menutup mulut.
"Si makhluk menyuruhku duduk dan menyaksikan sesuatu yang akan ia lakukan.
Tanpa membantah, aku pun langsung duduk.
Kulihat makhkuk itu melayang, mendekat ke arah tubuh yang tanpa kepala itu.
Pemandangan mengerikan ini benar-benar membuat urat nadiku melemah. Nyaris saja aku pingsan. Namun, kulihat si kepala menggantung menggeleng kepadaku. Mengisyaratkan untuk tetap bertahan meski sengeri apapun yang nantinya akan kulihat.
Kuremas baju kebaya yang melekat di tubuh. Berusaha melawan rasa takut yang sedari tadi berbisik di telinga, bisikan yang menyuruhku untuk berlari sejauh mungkin dari makhluk dedemit ini.
Makhluk itu mendekati tubuh yang tanpa kepala. Dan seketika, sebuah cahaya memancar dari bagian lehernya. Kuletakkan tangan di atas dahi untuk menutupi silau yang memancar itu.
"Arrrggghhh!" Maklhuk itu mengerang.
Seketika terdengar lolongan anji*g mengaung dari rumah para warga. Entah bagaimana para hewan bertaring itu mendadak melolong, seakan mengetahui apa yang kami perbuat di hutan ini.
Cukup lama makhluk tadi mengerang, hingga cahaya yang tadi memancar dari lehernya perlahan memudar dan kembali gelap.
Kini tampak seorang wanita muda duduk di atas batu dengan posisi membelakangiku. Aku melongo. "Bukankah kepala yang tadi melayang itu adalah nenek? Kenapa sekarang menjadi muda?" Aku membatin.
__ADS_1
Perlahan, sosok wanita itu turun lalu mendekat ke arahku. Semakin mendekat, semakin jelas pula wajahnya terlihat olehku.
Ketika langkahnya berhenti tepat di hadapan, kini aku kembali dikejutkan dengan sosoknya.
Betapa tidak, sosok wanita ini ternyata adalah teman yang dulu kabur bersamaku dari rumah juragan tanah.
"Ka-kamu?!" ungkapku tanpa berkedip.
"Ya! Aku nenek yang selama ini hidup bersamamu, Ndok! Yang dulu mengajakmu kabur dari jeratan juragan tanah!" ungkapnya.
"Ta-tapi, kenapa bisa jadi muda?" Kembali kulontarkan pertanyaan atas semua yang telah kusaksikan.
Ia tak menjawab, hanya senyum menyeringai yang terpancar dari bibir manisnya.
"Ndok! Maukah kamu meneruskan keturunan ilmu hitam Nenek?"
"Maksudnya??"
"Kelak, kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan, termasuk kecantikan abadi. Juga rumah misteri yang dulu kita huni, kelak akan jadi milikmu!"
"Benarkah? Semua itu akan aku dapatkan?"
"Ya! Tapi dengan satu syarat!"
"Apa syaratnya?"
"Aku ingin kamu membalaskan dendamku pada warga di desa ini, warga yang dulu membakar hidup-hidup suami dan anak-anakku!"
Sedetik aku terdiam.
"Baiklah! Tapi bagaimana caraku membalasnya!"
"Dengan meneruskan ilmu hitam ini! Aku tau penderitaan hidupmu, Ndok! Makanya, sudah sejak lama aku menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkannya padamu. Dan aku tau, sekarang adalah waktunya!"
"Tapi, mengapa tidak Nenek saja yang membalas langsung perbuatan mereka?"
Glek!
Berat aku menenggak saliva saat mendengar penuturannya.
"Kau adalah penerus yang tepat, Ndok!" ungkapnya sambil memegang kedua pundakku. "Sudahkah kau siap?"
"Tunggu, Nek! Bagaimana mungkin kelak aku mendapatkan rumah megah itu, sedangkan rumah itu sudah tak lagi dapat kulihat!"
Ia menyerngai.
"Rumah itu adalah rumah gaib, Ndok! Kamu hanya bisa mendapatkannya jika sudah membalaskan dendamku pada semua orang yang dulu menzolimiku!"
"Begitukah?"
"Ya, Ndok! Apakah menerutmu masuk akal bahwa aku mampu membangun rumah megah itu seorang diri?"
Aku mengangguk, membenarkan ucapan si nenek yang kini kembali muda.
"Sekarang kamu sudah mengerti, Ndok?"
"Ya! Aku mengerti, Nek!"
"Kalau begitu, apa kamu siap menerima ilmu tenaga dalam yang akan aku salurkan dalam tubuhmu?"
"Aku siap, Nek!" sahutku mantap.
Si nenek lantas memegang kedua pundakku. Sedang aku hanya menatapnya. Memang seperti itulah instruksi yang nenek berikan.
__ADS_1
Bibirnya mulai komat-kamit mengucap mantera, sedang matanya terpejam. Semakin lama suara yang kaluar dari mulut nenek semakin keras. Begitu juga dengan getaran di tubuhnya, bahkan aku pun mulai ikut merasakan getarannya.
Asap dengan warna kemerahan kini mulai memadati pandanganku. Tubuhku mulai terasa panas, terutama bagian leher.
Semakin lama semakin panas hingga membuatku mengerang.
Aku tak tahan lagi. Bahkan tanpa kusadari, ternyata sejak tadi tanganku sudah memegang erat tulang rahangku.
Rasa panas ini membuatku ingin menarik kepala. Semakin kuat tarikanku semakin lega rasanya.
Erangan dari mulutku pun tak terelakkan.
Hingga tiba-tiba ....
Tubuhku terjatuh. Namun, pandanganku tetap terjaga. Dapat kulihat sekeliling dengan jarak pandang yang lebih luas dari normalnya pandangan manusia. Ternyata, kepala ini melayang dengan organ yang ikut keluar bersamaan.
Kuedarkan pandangan masih dengan sedikit bingung. Lalu, seketika pandanganku tertuju pada tubuh nenek yang sudah tergeletak di atas tanah.
Aku terkejut. Apa yang terjadi pada nenek? Segera aku mendekat, ingin kuangkat kepala nenek ke pangkuanku, tapi tak bisa. Kepala ini masih terpisah dengan tubuh.
Lalu aku teringat akan sesuatu yang sebelumnya aku saksikan. Ya, aku menyaksikan nenek menyatukan kepala ke dalam tubuh.
Tak ingin membuang waktu, segera aku mendekat ke arah tubuhku. Dan langsung kuikuti langkah seperti yang nenek lakukan.
Hanya beberapa saat aku mengerang. Kini, kepalaku sudah kembali menyatu.
Bergegas kuhampiri jasad nenek yang masih tergeletak di tanah.
Kuangkat kepala nenek dan meletakkan di atas pangkuan. Mata sayu itu kemudian menatapku lekat.
"Cah Ayu!"
"Iya, Nek!" sahutku pelan.
"Jangan lupa dengan pesan nenek untuk membalaskan dendam pada warga yang sudah menzolimi keluarga Nenek!"
"Nggeh, Nek!"
Sedetik kemudian, kulihat nenek mulai mengerang. Kedua bola matanya melotot. Apa yang terjadi? Ada apa dengan nenek?
"Nek? Nek?" Berusaha kupanggil namanya agar pandangannya tertuju padaku. Tapi nenek tetap tak memandangku. Bola matanya terus saja membulat, dengan napas yang hanya terdengar di kerongkongan.
"Nek? Ada apa, Nek?" Aku mengguncang tubuh nenek, berharap nenek baik-baik saja.
Lalu tiba-tiba ....
Kudengar nenek menghembus napas cukup panjang. Setelahnya, tak lagi terdengar suara yang keluar dari mulut nenek. Sementara mata nenek masih menyalak dengan mulut menganga.
"Nek?" panggilku pelan. Tak ada jawaban.
"Neneeek?!!" Kali ini suaraku lebih keras. Dan tetap tak ada jawaban.
Kuletakkan jari di sela lubang hidungnya. Tak kurasakan hawa napas yang keluar masuk. Lalu kutekan pergelangan tangan nenek, cukup lama aku menunggu untuk dapat merasakan denyut nadi di tangannya. Namun tetap, aku tak menemukan denyut nadinya.
Seketika tubuhku lemas. Aku tak percaya nenek telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.
Kuguncang-guncang tubuh nenek, berharap ia hanya berpura-pura mati, lalu bangun dan menertawaiku. Tapi semua itu hanyalah khayalan yang tak bisa kuwujudkan.
"Neneeek?" panggilku pelan dengan isak tangis.
"Neneeek bangun, Neeek!" Isakanku semakin kencang. Aku meraung.
"Aaaaaa! Neneeek!" Kini suara tangisku melengking. Belum pernah aku merasa serapuh ini sebelumnya.
__ADS_1
Bahkan, burung-burung di hutan ikut beterbangan mendengar lengkinganku. Disambut dengan lolongan anj*ng yang tiba-tiba terdengar ikut meramaikan.
Bersambung ....