Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Harus Bisa Lepas


__ADS_3

"Hahaaha! Tegang amat sih, Neng. Saya kan cuma becanda!"


Apa?


"Ahahah!" Aku tertawa kecut mendengar penuturannya.


Fouuhh! Ternyata cuma dugaanku yang berlebihan.


"Neng, kalo ada waktu, sekali-sekali mampir ya di pengajian dekat musholla Al-iman." Ia menyerahkan selembar brosur yang isinya jadwal pengajian. Tertera alamat musholla yang dekat dengan pangkalan ojek.


"Oh iya, makasih, Bang!"


"Sama-sama. Kalo ada apa-apa, baca aja ayat kursi atau surah-surah. Nanti makhluk apapun yang mengganggu pasti pada minggat."


"Hmm!" Aku mengangguk. Kusunggingkan senyum pahit di hadapannya.


'Apa dia sedang mengejekku, atau mengetesku? Aku masih gak yakin jika ucapannya tadi hanya bercanda.' batinku bergumam.


Si babang ojek kembali menstater kendaraannya. Tersenyum padaku lalu pelan melajukan kendaraan. Meninggalkanku yang turun di pinggir jalan depan rumah Bu Minah.


Kali ini senyumku lebih tulus. Ya, aku lega akhirnya pria ini pergi juga. Memang susah menjadi makhluk setengah astral sepertiku. Tak semua pria mudah kuajak bercengkrama. Tapi entah kenapa, hanya sosok pria bernama Adrian mampu membuatku merasa nyaman saat berada di dekatnya.


'Adrian, kenapa harus dia? Kenapa harus menjadi salah satu keturunan keluarga Burhanin? Kali ini kenapa harus nyawanya?' Aku terus menggerutu dalam hati.


Kulangkahkan kaki menuju rumah reot. Tampak beberapa peronda tengah berjaga di pos malam ini. Terlihat dari cahaya TV-nya yang memancar. Membias hingga bagian barat dari pos menjadi terang.


Sepertinya aku harus mencari jalan lain. Aku tak ingin rencanaku untuk menanggalkan persekutuan dengan dedemit ini gagal hanya karena terhalang oleh pria-pria pengangguran itu. Mereka tak segan menyapa saat melihatku. Dan hal itu hanya akan membuat langkahku tertahan di depan pos, bahkan kadang berjam-jam lamanya.


Kuedar pandangan pada jalan setapak yang berlawanan arah dengan pos ronda.


Ah! Sebaiknya aku lewat sana saja!


Kutelusuri jalan itu. Kurang lebih satu jam aku tiba di tepi jalan. Jalan menuju rumah reot tempatku menemukan diri ini sendirian.


"Akhirnya aku sampai juga!" gumamku.

__ADS_1


Kusingkap rerimbunan yang biasa menjadi penutup untuk menyembunyikan rumah reot itu. Namun, ada suatu pemandangan yang cukup mencengangkan saat aku menatap jauh ke sana.


Tak biasanya rumah tua itu bercahaya.


Ada apa? Apa mungkin sudah ada warga yang menghuni rumah itu?


Bagaimana ini? Beberapa barangku bahkan masih ada di dalam sana! Ah, apa mungkin sebaiknya aku segera mengeceknya!


Tak ingin membuang waktu, bergegas aku menuju rumah itu. Tempat ternyamanku menyimpan jasad tanpa kepala.


Langkahku kini tinggal beberapa meter. Dari sini, terlihat jelas apa yang sedang terjadi di sana.


Kulihat beberapa warga tampak memadati area itu. Mereka berkumpul seperti menunggu sesuatu.


'Gawat! Apa ini artinya para warga sudah mencium bau keberadaanku? Sepertinya mereka mencurigaiku dan tempat persembunyianku.


Seorang pria tampak keluar dari dalam rumah. Membawa beberapa barang di tangannya.


"I-itu, kan, barang-barang milikku?"


Kulihat tiga orang wanita menunjuk-nunjuk ke arah barang itu sembari tak hentinya berceloteh.


Sepertinya di sini sudah tak aman.


Segera aku berlalu dari tempat berpijak. Sedikit tergesa hingga tak sengaja kakiku menginjak ranting yang tergeletak di atas rumput.


Kraaak!


Deg!


Aku menoleh. Kulihat semua orang yang tengah berkerumun di gubuk reot juga menoleh ke arahku.


"Hei! Kayaknya itu Siti!"


Deg!

__ADS_1


Mataku membelalak. Sontak mereka lari mengejarku, suara riuh itu berhasil membuat jantungku berdebar-debar. Mereka tak segan menerjang rumput liar yang sebagian berduri. Seakan berlari di tanah lapang, mereka tampak tak mengenal rasa sakit saat menerjang duri-duri itu.


Sebisa mungkin aku berlari menghindari amukan mereka.


Gawat! Sepertinya warga sudah sepenuhnya curiga pada identitasku.


Aku mulai panik.


Akankah mereka berhasil menangkapku? Mungkinkah aku berakhir dengan kondisi mengenaskan?


Langkahku lebih cepat dari mereka. Karena jarakku lebih dekat dengan jalan poros ketimbang para warga.


Aku telah tiba di jalan poros. Kini langkahku lebih cepat dari sebelumnya. Karena sudah tak melewati hutang yang dipenuhi rumput liar.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batinku terus bergerutu. 'Cepat atau lambat, para warga pasti dapat mengejarku!'


Seketika cahaya lampu motor dari arah depan berhasil menyilaukan penglihatanku.


Ban motor itu kemudian berdecit karena dipaksa berhenti mendadak. Spontan kututup kedua mata menggunakan lengan kanan karena silau yang terus memancar, menyorot pas di depan mata.


Jantungku semakin berdebar. Mungkinkah mereka mengepungku?


"Neng, ayo buruan?"


Deg!


Apa? Siapa pria ini?


Kusingkap lengan yang tadi menutup mata.


Tampak sosok pria tak asing, masih berpijak di atas kendaraannya. Mataku terbelalak. Nyaris tak berkedip.


"Ayo! Tunggu apa lagi!" tukasnya.


Suara riuh dari warga yang mengejar semakin jelas terdengar. Artinya mereka sudah semakin dekat.

__ADS_1


Tak pikir panjang lagi. Segera aku naik di atas motor tepat di belakang pria yang sebelumnya mengantarku dari pangkalan ojek pinggiran kota menuju desa ini.


Bersambung ....


__ADS_2