
Masih tak percaya dengan apa yang kulihat.
Kulangkahkan kaki menuju langit-langit yang tercirpat darah itu.
Perlahan noda darah yang tadi banyak itu mulai mengecil dan semakin kecil. Lalu menghilang, menyisakan langit-langit yang kini tampak bersih jauh dari noda apa pun.
"Apaa yang terjadi??" Seketika aku terlonjak. Buru-buru kuraih tas yang tergeletak di samping ranjang. Sebisa mungkin menjauh dari apartement aneh ini.
Namun, baru saja langkahku sejengkal dari pintu, mendadak terdengar suara yang memanggilku. Suara yang setengah berbisik.
"Sitiiii!"
Kuedarkan pandangan. Nihil.
"Sitiiii!" Kembali bisikan itu berhembus di dekat daun telingaku.
"Siapa??" tanyaku berusaha mengurangi rasa tegang.
"Sitiiii!"
Sekilas tampak bayangan hitam yang melayang di langit-langit kamar Adrian. Bayangan yang sekejap menghilang lalu kembali muncul.
"Siapa kau dan apa yang kau inginkan?" tanyaku tak ingin basa-basi.
"Bunuh pria itu!" Bisikan itu kini membuatku kaget dan semakin tak mengerti dengan apa yang ingin ia sampaikan. Bunuh siapa?
"Bunuh? Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Bunuh Adrian!" Kali ini bisikan itu memperjelas ucapannya. Tak segan-segan ia mengucap nama sosok yang ia maksud untuk kubunuh.
"Tapi .. kenapa?"
Beberapa saat aku menunggu, tak ada jawaban. Hanya belaian angin dan suara hembusan napas yang terus melintas di sela daun telinga ini.
"Aku tak mau! Aku tak ingin melakukannya!" tukasku karena tak ada jawaban dari makhluk itu sebagai alasan atas keinginannya menghabisi nyawa Adrian.
Namun, tak kuduga. Setelah menolaknya, mendadak hadir sosok wanita dengan mata merah dan taring yang menyala dari sela bibirnya.
Seketika seisi kamar berubah gelap. Dipenuhi bayangan hitam. Membuatku terlonjak. Hingga punggung ini menyentuh dinding kamar.
Sosok yang kukenal, yang dulu kusebut nenek itu kini hadir dalam wujud makhluk berbentuk iblis.
"Ne-nenek!" ucapku tergagap.
"Ta-tapi ...."
"Selama ini aku selalu memantaumu, Ndok! Hanya saja kali ini kulihat kau kurang peka."
"Maksud nenek??"
"Kau tahu siapa Adrian itu?"
"Tak tahu, Nek. Yang kutahu, dia hanya pria baik!"
"Dia memang anak yang baik. Tapi tidak dengan orang tuanya yang masih keturunan keluarga Burhanin!" jelasnya.
__ADS_1
Aku semakin tak mengerti dengan maksud nenek. Tak biasanya nenek menyambangiku dalam wujud seperti ini.
"Aku ingin kau membunuh semua keluarga keturunan Burhanin. Mereka adalah dalang utama atas kematian suami dan anak-anakku yang malang!"
Aku terkejut mendengar penjelasan nenek. Seketika hatiku tak sanggup menerima.
"Ta-tapi, Nek!"
"Tidak ada kata tapi! Jika sekali saja kau berani membantah, maka ingat sanksi yang akan kau terima!"
Aku terduduk mendengar penuturan nenek. Nyaris membuat persendianku lemas. Kusungutkan wajah yang hanya mampu menatap lantai ini.
"Kuatkan dirimu, Siti! Ingatlah pada semua impianmu! Jangan sampai rusak karena kehadiran pria itu!"
Aku masih diam tak menjawab.
"Kuberi kau tempo dua minggu! Atau kau akan mendapat akibatnya jika berani melanggar!" terangnya.
Suara bisikan itu kemudian menghilang. Bersamaan dengannya kamar yang tadi redup kini kembali terang.
Sementara aku masih menyungutkan wajah, duduk di sudut ruang.
Pikiranku kacau. Aku tak kuasa menahan pilu di hati jika kebahagiaan yang baru saja menghampiri harus kembali kandas, dan lagi-lagi alasan utamanya karena urusan persekutuan dengan iblis.
Sempat terlintas dalam benakku untuk mengakhiri semua yang sudah kulalui selama ini. Agar bisa kembali hidup normal. Meski itu artinya, aku harus kembali menjadi makhluk yang tak boleh memiliki harga diri.
Terlintas juga dalam benakku, mungkin menjadi istri juragan lebih baik. Ketimbang harus menuruti perintah setan.
__ADS_1