Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Main Hakim


__ADS_3

"Woy! Sini ngumpul! Lihat tuh ada mayat ngapung!" salah satu warga berteriak. Mengundang warga lainnya untuk berdatangan.


Hanya butuh waktu beberapa menit. Warga desa berhasil mengerumuni jembatan yang menyatukan desa Ruhui dengan desa Terri. Suara bising tetap saja tak mampu membangunkanku


Mereka sampai berdesak-desakan hanya untuk menyaksikan tontonan gratis dari tubuhku yang terapung di sungai ini.


Hingga beberapa saat barulah warga mulai mengangkatku menggunakan kapal kecil.


Mereka mengira aku adalah mayat. Hampir saja mereka membungkusku dalam tas oranye untuk diserahkan pada polisi. Beruntung masih ada yang berinisiatif mengecek napasku sebelum akhirnya benar-benar memasukkan ke dalam kantung mayat.


*****


Malam kembali menjelang. Aku terbangun. Kembali sadar karena terusik oleh silaunya lampu obor yang di pegang oleh sebagian warga.


Suara berisik dari mulut para penggosip pun tak terelakkan.


Sejenak aku masih belum menyadari di mana keberadaanku. Sebab semua pandangan di depanku terlihat bergoyang. Mungkin karena kepalaku yang teramat pusing.


Kembali aku tertidur. Tidur yang cukup nikmat. Hingga kurasakan sakit di bagian kaki ini. Seperti terhantam benda keras.


"Heh! Bangun!" Suara itu berhasil mengusik tidur nyenyakku. Kulihat ia menedang betis ini.


Aku mendongak.


"Woy! Dia sudah bangun! Perempuan iti sudah bangun!" Satu orang yang tampak berjaga, berteriak menyerukan pada warga yang asyik bergosip di luar sana. Dan berhasil membuat puluhan pasang mata itu berbondong-bondong berusaha menerobos masuk, lagi-lagi untuk sekadar melihat tontonan gratis.


Kudapati diri ini terduduk di atas sebuah kursi. Kedua tanganku diikat menggunakan rantai. Rantai yang tersambung ke tiang. Juga kakiku yang dipasung menggunakan satu gembok besar.

__ADS_1


Kulihat tujuh orang pria dengan wajah bringas menatap ke arahku. Tiga di antara pria itu meletakkan lengan pada pinggulnya.


Beberapa dari mereka adalah pria yang kukenal. Salah satunya adalah Saiful dan Joko.


"Mas!" Lirihku. "Hauss! Air!"


Aku lemas, kuharap mereka memberiku sedikit air, berharap tenaga sedikit ini pulih meski tak mungkin sepenuhnya pulih total.


"Tak kusangka kau masih hidup! Bahkan dengan paras yang masih muda seperti dulu!" Seorang pria tua yang umurnya kuperkirakan berkisar sembilan puluhan itu hadir di hadapan dan berbicara padaku.


"Bapak ini, siapa? Saya tak mengenal Bapak!" Tawa seringai terdengar dari mulut keriputnya.


"Bagaimana pun kau mau berbohong! Tetap saja, semua warga di sini mengenalmu!"


Aku mengernyit. 'Apa maksudnya? Bukankah memang mereka mengenalku! Mengapa berkata seperti itu?'


Deg!


Apa? Ratih? Gak! Gak mungkin! Kenapa mereka memanggilku Ratih. Seingatku, pemilik nama Ratih adalah nenek.


"Kau salah! Kalian semua salah! Aku bukan Ratih!" gertakku.


"Yaa! Manusia memang bisa mengelak. Tapi makhluk setengah dedemit sepertimu tak akan pernah ada yang percaya!"


Aku semakin heran. Ucapan pria tua tentang statusku sebagai dedemit memang benar. Tapi, menyebutku dengan nama Ratih, itu tak benar!


"Aku bukan Ratih!"

__ADS_1


"Lalu siapa lagi kau kalau bukan Ratih. Kau ditemukan mengambang di atas sungai. Sungai yang mengalir dari hutan terlarang. Tak ada satu pun manusia yang berhasil keluar hidup-hidup jika sudah masuk ke dalam hutan itu. Dan hanya kau Ratih, enam puluh tahun yang lalu, kau kabur ke dalam hutan itu. Setelah beberapa bulan kau mulai meneror warga dan bahkan sampai kini kau masih meneror! Bagaimana? Kau sudah ingat sekarang?"


Apa maksud pak tua ini? Apa ia mengira aku adalah nenek. Tapi, jelas-jelas wajah kami berbeda.


"Tetap saja aku bukan Ratih. Kalian sudah salah menduga!"


"Lalu siapa kau?" Pertanyaan itu tak langsung kujawab. Mendadak Joko ikut bersuara.


"Hanya ada satu kemungkinan! Kalau bukan Ratih, mungkin saja kau Siti, jelmaan Ratih!"


Deg!


Apa? Aku memang siti! Tapi bukan jelmaan nenek!


"Seret perempuan pembawa sial ini! Mari kita hakimi dia bersama-sama. Bakar dia sebagaimana anak dan suaminya mati terbakar!"


Apaaa?? Tidak! Tidak!


Suara riuh dari warga terkutuk ini mulai membisingkan telingaku.


ternyata rumor tentang masa lalu nenek masih belum sepenuhnya dilupakan warga.


Beberapa dari pria brengsek mulai melepas ikatan rantai yang melilit pada tiang. Menyeretku menggunakan rantai itu menuju balai desa.


Aku terhuyung. Bahkan belum sampai di depan pintu, tubuhku kembali terjatuh. Tak kuat. Tenagaku benar-benar terkuras habis.


"Kurung saja dia di dalam gubuk ini! Siram seluruh dinding dengan bensin! Bakar dia hidup-hidup! Biar dia tau bagaimana rasanya mati!" Kudengar salah satu ibu-ibu pembenciku berseru agar warga semakin panas. Dan menghakimiku secara tak adil.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2