Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Bercak Darah


__ADS_3

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, bergegas aku menghampiri dan langsung masuk ke dalam mobil Adrian.


Segera kututup pintu mobil begitu tubuh ini merapat sempurna di kursi depan.


"Buruan jalan!" seruku pada malaikat sang penyelamat. Tanpa bicara lagi, segera Adrian membanting setir. Memutar arah menuju jalan yang sebelumnya ia lewati.


Suara histeris dari para wanita berdaster itu pun tak terhindarkan dari indera pendengar kami.


Aku menoleh. Tampak warna-warni kain katun para wanita bringas itu mulai menjauh dan semakin mengecil dari pandanganku.


"Fouuh!" Kuhela napas dengan lega saat sudah tak lagi tampak bayangan mereka.


"Neng??"


Deg!


Seketika aku teringat akan pria penyelamat yang kini berada di sampingku.


Suaranya yang memanggilku membuat jantung ini berdebar tak karuan.


Debaran kali ini bukan karena malu-malu meong. Melainkan karena rasa khawatir, takut kalau ternyata Adrian sudah mengetahui identitasku.


Sebab aneh saja, pria yang seharusnya berada di tepi kota dengan setumpuk kerjan itu jusru ada di desa.


Aku yakin ada sesuatu yang tak beres. Tak mungkin ia mendadak hadir di hadapanku dan bahkan menyelamatkanku dari kejaran kumpulan rubah betina. Kalau bukan karena sesuatu yang mungkin menyangkut dengan identitasku.


Kini pikiranku mulai melayang tak karuan.


"Neng??" Kembali ia memanggilku. Mungkin karena sebelumnya aku tak merespon panggilan itu.


"Ahh! Iya, Bang!" sahutku.


"Kok dari tadi ngelamun?"


"Ahaha! Gak kok, Bang!"


"Gak gimana? Aku lihat loh!"


Mendengar ungkapannya seketika jantungku kembali berdegub.


Deg!


"Li-lihat apa??" ucapanku sedikit gagap.


Apa mungkin yang dia maksud adalah melihatku tadi malam dalam wujud dedemit. ****** laaah!


"Apa lagi? Ya lihat raut Eneng lah! Dari tadi Abang manggil gak di dengerin! Ngelamunin apaan? Soal ibu-ibu tadi?"


Oh! Ternyata dia mengira aku melamun perihal di kepung tadi. Huuhh! Leganya. Ternyata aku hanya salah menduga.


Aku hanya mengangguk membenarkan tebakan Adrian tanpa berani menatap matanya.


"Oh! Soal itu gak usah terlalu dipikirin!" ungkapnya.


Aku masih terus diam. Tak menyahut juga tak bergumam.

__ADS_1


Selang beberapa saat kami tiba di pinggiran kota, dekat dengan kantor tempat Adrian bekerja. Segera Adrian membuka pintu mobil. Namun, belum sempat ia keluar, spontan aku menahannya.


Entah lah! Rasa penasaran tentang bagaimana Adrian bisa mendapatiku yang tengah terdesak tadi, membuatku tak bisa menahan diri untuk bertanya. Juga karena rasa gelisah ini sudah terlalu melebar luas ke dalam benak pikiran.


"Tunggu, Bang!" sergahku memegangi lengannya.


Ia menoleh dengan sorot mata yang sama sepertiku. Seakan berkata, ada apa?


Ya, dapat kubaca dari matanya yang menatap dengan tatapan heran.


"Ada apa, Neng?"


Benar dugaanku! Pria ini akan bertanya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanyaku.


"Apa?! Tanyakan aja!" serunya.


"Darimana Abang tau kalau tadi Eneng lagi terdesak dan butuh pertolongan??"


"Ohh! Soal itu! Ahahah!" Ia terkekeh. "Tadi Abang kebetulan lewat di sana, terus Abang kaget lihat ibu-ibu pada rame bawa gayung sama serok. Kirain ada perlombaan. Taunya ...."


"Taunya??"


"Mereka lagi ngepung Eneng! Emang Eneng habis ngapain sih, kok sampai di kepung sama ibu-ibu kampung itu??"


Seketika aku terdiam. Bingung harus menjawab apa.


"I-itu karena ...." ucapanku terhenti. Aku masih bingung harus berkata apa.


"Karena apa, Neng?"


"Yaa ... ??" Kulihat raut kepo di mata itu.


Aduuh. Aku musti jawab apa kali ini, alasan apa yang kiranya masuk akal?


Hampir saja aku putus asa memikirkannya.


Dan tiba-tiba, aku mendapat ide.


"Itu karena, mereka tak terima saat kukatakan Bang Juki hampir memperkosaku! Melihat kondisi Bang Juki, mereka bilang, sepertinya tak mungkin Bang Juki berniat buruk padaku. Padahal aku hanya mengatakan yang sebenarnya!" Kusungutkan wajah saat berdusta di hadapan Adrian.


"Oh, jadi begitu! Maafin Abang yaa karena sudah membuat Eneng sedih!"


"Gakpapa, Bang! Justru Eneng berterima kasih sama Abang karena udah nyelamatin Eneng!"


"Sama-sama, Neng! Tapi, apa gak sebaiknya Eneng pindah aja dari desa itu? Masih banyak pekerjaan yang bisa Eneng dapatkan di luar sana, gak harus di desa itu."


Aku tertegun mendengar penuturannya. Tak kusangka, Adrian benar-benar peduli padaku.


"Maaf, Bang! Tapi Eneng gak bisa tinggalkan desa itu!"


"Kenapa? Bukannya para warga di sana pada ngebenci Eneng?"


"Gak semua kok, Bang?"

__ADS_1


"Iya gak semua, tapi nyaris lima puluh persen pada ngebenci Eneng! Artinya, besar kemungkinan bahaya akan terus mengincar keselamatan Eneng."


"Iya, Eneng tau! Tapi Eneng tetap gak bisa!" ungkapku.


Aku gak bisa meninggalkan desa. Karena masih mengemban wasiat dari nenek. Dan juga karena tujuan utamaku belum tercapai.


"Ya sudah, terserah Eneng aja! Intinya Abang cuma mengingatkan Eneng!"


"Iya! Makasih karena Abang sudah peduli sama Eneng!"


"Gak perlu berterima kasih sama Abang! Abang senang kok kalo bisa nolong Eneng!" ungkapan Adrian berhasil membuat senyumku mengembang hingga pipi chubby ini membulat.


Adrian hanya tertawa kecil melihatku yang tampak bahagia.


"Sekarang Eneng mau ke mana?"


"Tadinya sih mau ke pasar! Tapi ....!" ucapanku terhenti. Seketika Adrian meraih lenganku. Memegang kesepuluh jemari ini.


"Eneng!"


"Yaa!"


"Kalau belum bisa kembali kerja, jangan dipaksain!" tuturnya. Sementara aku hanya terdiam menatap bola matanya yang masih beradu dengan bola mataku.


"Gimana kalau sekarang Eneng istirahat aja di penginapan Abang?"


"Hah?" Aku terkejut mendengar tawarannya.


"Jangan berpikir yang enggak-enggak dulu, Neng. Abang gak ada niat jahat kok. Cuma mau kasih Eneng tumpangan sementara selama Abang kerja. Nanti sepulang kerja, Abang antar Eneng kembali ke desa. Ketimbang Eneng nongkrong di tempat gak jelas. Gimana? Mau?"


"Ya sudah! Iya, Eneng mau!"


"Oke! Abang langsung antar yaa!" ucapnya yang kubalas dengan anggukan.


Adrian akhirnya mengantarku ke kediamannya setelah aku menyetujui ajakan itu.


Selang beberapa saat kami tiba di kediaman Adrian. Segera aku membuka pintu menggunakan kunci yang Adrian berikan padaku.


"Kalau laper, buat makan sendiri aja dulu ya, Neng! Cari aja, di kulkas ada banyak bahan yang bisa dimasak!"


"Hm!" sahutku.


"Maaf ya, Abang gak bisa temenin Eneng lebih lama. Soalnya Abang udah ditungguin sama bos!" tukasnya. Aku mengangguk.


Kupandangi langkahnya menuju mobil yang terparkir di bahu jalan. Adrian masuk dan langsung bergegas menjalankan si mesin beroda empat.


Sedetik kemudian bayangan itu musnah dari hadapan.


Aku masuk setelah mengantar kepergian Adrian di ambang pintu. Kupandangi kamar yang luas ini. Netraku mengedar kesegala arah.


"Di sini tadi malam aku bersembunyi." gumamku.


Tampak langit-langitnya kotor dengan bercak cipratan berwarna merah.


Awalnya aku tak menyadari bercak apa itu. Namun, setelah beberapa saat aku memastikan, ternyata bercak itu adalah bercak darah.

__ADS_1


Seketika aku terkejut.


"Apa ini??" seruku dengan mata melotot.


__ADS_2