Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Pesta Besar-besaran 2


__ADS_3

Aku terus mengikuti mereka. Tak peduli lolongan anjing yang semakin keras memberi kode pada warga akan kehadiranku.


Hampir tiga puluh menit lamanya perjalanan, akhirnya benda beroda dua itu berhenti pada sebuah rumah gubuk. Rumah milik seorang dukun beranak yang sudah sepuh.


Cahaya kekuningan dari lampu pelita tampak menyinari halaman teras berukuran kecil dengan dua anak tangga.


Sementara itu, kulihat dua insan tadi tampak tergopoh saat menaiki anak tangga. Sang istri tak hentinya menjerit memegangi perut yang terlihat bulat dan besar, sedang sang suami membantunya berjalan dengan memegangi salah satu lengan dan meletakkannya di samping bahu.


"Aduuh, Paaah! Mama udah gak kuat!" rengeknya.


"Tahan dulu ya, Mah. Sebentar lagi sampai kok!" seru sang suami.


Sesaat kemudian mereka sudah berada di depan pintu. Sang suami tampak mengetuk-ngetuk daun pintu, sesekali memanggil nama dari si empunya rumah.


Tok tok tok!


"Permisi!! Nek Marni?!"


Aku masih bersembunyi di balik pepohonan rindang yang banyak terdapat di sekitar rumah si dukun beranak.


Sesekali kuitari gubuk di sela rerindangan yang lebat. Tak kuasa mencium semerbak aroma darah persalinan.


Suara parau dari beberapa burung hantu yang bertengger mulai ikut serta menemaniku.


Suasana pun cukup mencekam.


Selang beberapa saat, terdengar langkah ringkih sang sepuh yang berjalan menuju pintu depan.


Suara derit daun pintu terdengar jelas kala sang nenek membuka secara perlahan.


Lalu tanpa perintah, kedua insan itu langsung masuk setelah pintu terbuka sempurna.


Wanita sepuh tadi tampak mengedarkan pandangan keluar rumah. Entah apa yang ia cari! Nampaknya, ia mencium bau kehadiranku. Ah tapi, segera kutepis perasaan buruk sangkaku. Mungkin ini hanya firasatku saja.

__ADS_1


Kembali lolongan anj*ng terdengar di sekitar rumah sang nenek. Entah dari mana datangnya hewan-hewan itu. Mereka selalu melolong setiap aku beraksi.


Aku mendekat ke samping jendela. Bau semerbak darah semakin kental di indera penciumanku.


Kucoba mengintip dari sela lubang. Terlihat sang wanita yang tampak histeris dengan perutnya yang buncit. Sesekali ia mengerang.


Wajahnya berkeringat.


Ia berbaring dengan posisi telentang. Sedang kedua betis dilipat agar mempermudah keluarnya sang bayi.


"Aggghhh!"


"Ayo, Ndok. Tarik napas yang kuat!"


"Emmm! Aggghhh!"


"Lagi, lagi! Sedikit lagi, Ndok. Itu kepalanya udah nongol!"


"Emmmm!"


Kulihat si jabang bayi sudah hadir kedunia. Diiringi tangisan yang melengking.


"Oeekk! Oeeek!!"


Sang bayi yang berjenis kelamin perempuan itu lahir tanpa cacat. Tubuhnya bersih, hanya sedikit darah yang nenempel.


Segera si dukun mengangkatnya, menjepit tali pusar si bayi. Lalu memotongnya dengan pisau tajam.


"Bayinya apa, Nek?"


"Perempuan, Ndok! Cantik kayak ibunya!"


Senyum mengembang terpancar dari bibir sang ibu.

__ADS_1


"Batukin ya, Ndok! Ari-arinya masih belum habis keluar!" ungkapnya. "Nenek mau bersihkan bayinya dulu!"


"Nggeh, Nek."


Kulihat si tua itu mulai beranjak meninggalkan kamar. Hanya tinggal sang wanita yang masih terbaring lemah dengan ari-ari yang juga belum di bersihkan.


Tak ingin menunggu lama. Segera aku menerobos masuk ke dalam kamar.


Seketika itu sang wanita terkejut bukan kepalang.


Kulihat tangannya yang gemetar ketakutan.


Kutonjolkan taring panjang dengan mata merah menyala. Membuatnya semakin ketakutan dengan mulut menganga. Mungkin ia ingin berteriak. Namun, lantaran tubuhnya masih lemah, ia pun tak dapat berkutik.


Sedetik kemudian, wanita itu pingsan. Tanpa menunggu lagi, segera kujulurkan lidah untuk menghisab dan memakan ari-ari yang sudah hampir keseluruhan tergeletak di atas ranjang.


Dengan lahap aku memakannya. Begitu nikmat. Benar dugaanku, ternyata malam ini adalah pesta terbesarku.


Namun, tiba-tiba ....


Sang sepuh yang sebelumnya membantu proses persalinan, mendadak hadir di depan pintu kamar dengan menggendong bayi di tangan.


Aku terkejut, pun sama dengannya yang langsung berteriak histeris.


"Aaaaa! Kuyaaang!! Kuyaaang!!"


Ia menjerit hingga terjatuh, lalu berusaha bangkit dan berlari keluar kamar.


Teriakannya mengundang kehadiran bapak dari si bayi untuk masuk ke dalam kamar.


Bergegas aku kabur, keluar melalui lubang yang kubuat tadi saat menerobos masuk.


Namun, baru beberapa meter aku melayang, mendadak terdengar suara wancuh yang di ketuk-ketuk ke tiang.

__ADS_1


"Apa ini? Siapa yang mengetuk wancuh? Kacau! Kalau dia terua mengetuk, aku tak bisar kabur!" gumamku.


__ADS_2