
Tepat pukul 24:00 aku akhirnya keluar dari hotel ini. Berangkat hanya dengan mengandalkan ojek malam. Kuharap Adrian tak menyadari keberangkatanku. Aku tak ingin terus-terusan menyusahkannya.
Semoga saja tak ada gangguan sepanjang jalan.
Kuturuni anak tangga, setengah berlari menuju pangkalan ojek. Hanya menggunakan cahaya dari layar ponsel sebagai penerang. Namun, karena wilayah ini masih terbilang pinggiran kota, tak semua jalan gelap. Sudah banyak yang mendapat penerangan langsung dari lampu jalanan.
"Ojek, Bang!" pintaku pada beberapa Babang ojek yang tengah mangkal malam ini.
"Ke mana, Neng?"
"Desa Ruhui!" sahutku.
Mendadak mereka saling pandang, lalu berbisik. Entah apa yang mereka diskusikan. Satu-persatu saling tunjuk. Tampaknya tak ada yang mau mengantarku.
"Bang, gimana?" tanyaku dan berhasil membuat pandangan mereka beralih padaku.
"Kubayar double, gimana?!" sambungku.
Kembali mereka saling pandang.
"Lu aja, deh!"
"Lu aja!"
"Yanto, lu aja!"
"Enak aja, lu aja, Din!"
Percakapan mereka terdengar jelas di telingaku.
"Permisi! Apa benar-benar dari Babang-babang ini gak ada yang bisa ngantar saya?" Kali ini kusungutkan wajah saat berbicara pada mereka. Semoga aja cara ini berhasil.
Wajah melasku membuat mereka nyaris terdiam.
"Ya udah, gue aja!" tukas salah satu dari mereka.
Ahh! Aku leganya begitu mendengar ada yang mau mengantarku.
"Iye, lu aja, Udin!" sahut temannya.
__ADS_1
Kulihat pria yang disebut Udin itu tampak memasang wajah cemberut di hadapan kawanannya.
"Dasar! Kalian memang kagak punya hati. Cewek cantik begini di abaikan!" Pria yang bernama Udin segera menstater motornya.
"Ayo, Neng!" ajak ojek itu saat motornya dan dia sudah berada tepat di hadapanku.
"Hmm!" Aku mengangguk. Tak banyak basa-basi. Segera aku naik, duduk di belakang si Udin.
"Udah siap berangkat, Neng?"
"Udah, Bang!" jawabku.
"Oke, berangkat ya!"
Sepanjang jalan kami diam. Hawa yang tadi dingin perlahan mulai menghangat.
"Bang?" tanyaku.
"Iya, ada apa, Neng?" sahut si Udin.
"Tadi, waktu pertama Eneng minta antar, kenapa pada tengok-tengokan Bang?"
"Ohh itu! Mereka semua pada takut sama rumor yang beredar tentang desa Ruhui, Neng!"
Apa maksud Abang ini?
"Rumor? Tentang apa, Bang?"
"Katanya di desa Ruhui ada makhluk dedemit jadi-jadian! Makhluk itu sering keluar tengah malam!"
"Oh yaa?? Teruss??" Aku mulai penasaran. Seberapa banyak berita yang diketahui oleh si ojek ini.
"Beberapa dari cerita yang saya dengar sih, katanya pernah ada salah satu ojek yang kena ganggu sama dedemitan itu!"
"Masa sih, Bang?"
"Iyaa, kalo dengar cerita orang sih, gitu Neng? Oh iya, bukannya Eneng orang sana! Masa gak pernah dengar rumor ini sih?"
Sejenak aku terdiam. Betul juga ucapan Babang ojek ini. Kalau aku orang sana, harusnya aku tau berita-berita yang lagi hangat di kampung itu.
__ADS_1
"Maaf, Bang. Tapi Abang salah duga. Saya sudah lam gak tinggal di sana! Saat ini, saya cuma berkunjung!"
"Kalo gitu, kenapa gak berangkat siang aja, Neng!"
"Gak bisa, Bang. Nenek saya lagi sakit parah di kampung!" ungkapku berdusta. Beruntung aku mendapat ide untuk menjawab.
"Oh gitu, Neng!"
"Iya, Bang." Tak luput dengan nada sedih. "Abang sendiri, gak takut sama rumor itu?"
"Kalo Abang sih percaya sama Tuhan, Neng! Selama kita ingat Tuhan, Insya Allah, di mana pun kita berada akan selamat!"
"Hmm, iya juga sih, Bang!" ucapanku mengakhiri obrolan kami.Kami kembali hening.
Sama dengan suasana malam saat ini, pun terasa cukup hening. Hanya suara burung hantu yang sesekali berbunyi di sela rerimbaan.
Jarak antara kami dan desa sudah semakin dekat. Hawa menyeruak mulai mengusik ragaku. Tak tahu dengan si Babang ojek, apakah merasakan hal yang sama denganku atau tidak.
Tawa cekikik mulai terdengar di sela hutan-hutan yang kami lewati. Dapat kulihat wanita berambut panjang dengan gaun putihnya menjuntai tanpa kaki.
Kupelototi makhluk itu. Ia balas melotot ke arahku. Lalu menghilang, lenyap dari pandangan mata.
Tak lama berselang, hawa yang dingin mulai berubah panas. Aku tak mengerti. Tak biasanya di desa ini aku merasakan hal panas seperti ini saat menjelang malam. Kecuali saat gema berkumandang di masjid. Lalu, apa yang terjadi?
Kulirik si babang ojek yang wajahnya terpampang dari kaca spion. Tampak bibirnya komat-kamit.
Mantra apa yang dia baca?
Lambat laun, suara si babang semakin nyaring. Hawa panas ini semakin menusuk hingga terasa ke jantung.
Lantunan demi lantunan ia gemakan. Aku tak ingat dengan lantunan ini. Tapi entah kenapa, sepertinya dulu aku pernah mendengarnya. Namun, saat ini aku tak sanggup mendengar meski sepenggal kalimat sekalipun aku tak kuat.
Suara si babang semakin nyaring. Membuatku tak kuasa menahan diri.
Dan ....
"Aaaaaa!" Aku menjerit, menutup kedua telinga dengan telapak tangan.
Seketika si babang ojek menghentikan laju motornya. Lalu menoleh menatapku.
__ADS_1
Bersambung ....
mohon dukung author dengan vote, like, koment! terima kasih.