Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Kisah Kelam Masa Laluku


__ADS_3

Adrian akhirnya melanjutkan mandi yang sempat tertunda.


Aku hanya bisa pasrah, antara ingin melihat dan ingin memejamkan mata.


Jantungku berdebar kencang. Ikut meramaikan suanana hati yang lagi berkecamuk.


Hanya saja aku tak bisa membedakan, apakah debaran ini karena rasa kagumku padanya setelah beberpa hari selalu bersama, atau karena takut. Takut Adrian mengetahui rahasia terbesarku, yaitu sebagai makhluk jadi-jadian.


"Sial! Kenapa juga nih jantung yang begelantungan mustu berdebar sih, dasar dedemit payah!" Aku menggerutu dalam hati.


Hingga akhirnya Adrian menyelesaikan acara bersucinya dan langsung berpindah ke dalam kamar.


"Fouuh!" Syukurlah ia tak menyadari keberadaanku.


Aku lega. Hilanglah sudah pemandangan mengerikan yang sebelumnya tak pernah kulihat.


Ya, memang sebelumnya tak pernah kulihat.


Aku memang seorang janda, tapi janda yang masih perawan


Sekilas cerita tentang masa laluku.


Dulu aku seorang gadis desa biasa. Sama seperti gadis-gadis desa pada umumnya.


Pekerjaanku tentu tak jauh-jauh dari ruang masak bernamakan dapur.

__ADS_1


Memasak, mencuci piring dan baju, juga mengepel, adalah tugas yang sudah semestinya diemban bagi gadis yang mulai beranjak dewasa sepertiku di desaku.


Tak ada yang namanya bersantai. Jika sedetik saja kami hilang dari rumah untuk sekadar berjumpa kekawanan di pematang sawah, pasti lah tak lama berselang, ayah-ayah kami datang, dan dengan sigap menyeret kami secara paksa untuk pulang ke rumah.


Suatu ketika, saat malam masih berada di antara peraduan dan gelap, aku mendengar percakapan kedua orang tua bersama seorang juragan tanah, suara sang juragan terdengar parau. Bisa ditebak, saat itu usianya berkisar tujuh puluh tahun ke atas.


Aku yang saat itu berumur sembilan belas tahun, mencoba menguping di balik pintu bersama seorang adik perempuan yang masih berumur tujuh tahun.


Pelan kudengar isak tangis ibu saat ayah memohon untuk ditambah tempo pembayaran hutang. Namun, balasan dari sang rentenir hanyalah makian.


Kembali kupasang kuping lebih lekat.


Kudengar ayah telah berhutang sebanyak lima puluh juta sebagai modal untuk berladang.


Namun tak disangka, usaha ayahku gagal. Panen yang seharusnya tinggal sepuluh hari terpaksa gagal, hujan lebat yang mengakibatkan banjirnya ladang membuat tanaman padi-padi ayah rusak.


Hingga, ayah memutuskan untuk menyetujui permintaan sang juragan tanah untuk menjadikanku sebagai istri kesepuluhnya. Dan sebagai gantinya, hutang ayah dianggap lunas beserta bunga-bunganya.


Mendengar secara langsung ayah yang menyetujui permintaan si juragan, seketika darahku berdesir, tulang-tulangku seakan melunak. Tubuhku lemas, tersandar pada daun pintu.


Tak kusangka, ayah tega menjualku. Menjadikanku sebagai alat untuk menebus hutangnya.


Air mata mulai berderai di antara pipi mungilku. Meski berulang kali kusapu, tetap saja kembali basah. Adikku yang belum paham akan kepedihan dan kehancuran hatiku, hanya bengong dengan alis mengekerut, memandang dengan tatapan heran.


Hari kepergianku pun tiba. Hari di mana aku didandani layaknya lenong dan bersanding dengan si kakek yang baunya sudah seperti tanah.

__ADS_1


Ingin aku berteriak kala itu. Namun takut. Takut ayah memukuliku lagi seperti kemarin saat kami bertiga berada di ruang tamu, aku ayah dan ibu, tanpa adik.


Aku menolak sesembahan ini. Tapi apa yang kudapat. Paksaan dan pukulan yang ayah hadiahkan padaku karena dianggap membangkang. Itulah alasan aku menjadi tak berkutik saat bersanding dengan si juragan bau tanah.


Satu hari kemudian, aku sudah pindah ke rumah besar miliknya. Beberapa wanita, dari yang muda hingga tua menyambutku di ambang pintu. Bisa kutebak, mereka adalah kesembilan istri dari si pak tua.


Aku masuk, disambut oleh seorang pelayan yang mengantarku ke kamar pribadi.


Hari itu, aku merasa bagai sampah yang dibuang ke dalam peti mati.


Saat sendiri di dalam kamar, aku sempat berniat untuk menghabiskan nyawa. Namun upayaku gagal, saat tiba-tiba seorang wanita masuk. Aku terkejut. Panik dan kelimpungan.


Wanita itu tersenyum padaku. Senyum yang mengisyaratkanku untuk tenang, tak perlu risau dengan kehadirannya.


Sedetik kemudian ia berbisik di sela telinga. Wanita ini mengajakku kabur bersamanya. Aku terkejut antara ragu dan tak percaya, bisakah kami melakukannya.


Namun, saat itu yang kubayangkan hanyalah kebebasan. Tak kuingat lagi nasib yang akan menimpa kedua orang tua jika aku berbuat ulah dengan kabur dari si pak tua.


Akhirnya, dengan perencanaan yang matang, kami pun kabur di saat tengah malam. Hanya berbekal pakaian yang kami kenakan di tubuh, bahkan kami tak sempat menggunakan alas kaki.


Ditengah gelapnya malam, kami berlari di tengah jalan yang setiap pinggirannya hanyalah hutan. Hilanglah sudah rasa takut saat itu, yang ada hanya rasa bahagia karena akhirnya terbebas dari hidup yang seperti di monopoli.


Aku dan temanku akhirnya tiba di pelabuhan. Malam itu memang ada sebuah kapal yang akan berangkat menuju kota. Dan ternyata, jauh-jauh hari, teman seperkaburanku telah mempersiapkan segalanya. Terbukti dari dua tiket yang sudah berada di genggamannya.


Malam itu kami pun tidur di emperan kapal.

__ADS_1


__ADS_2