
Namun, aku terkejut. Suatu hal tak terduga saat aku bangun di pagi hari, aku sudah tak menemukan teman yang telah kabur bersama.
Aku bingung, ke mana harus pergi. Sedang uang, sepeser pun aku tak punya.
Tepat pukul delapan, kapal yang kutumpangi akhirnya mendarat di dermaga. Ratusan orang tampak memadati tangga penurunan kapal.
Kuedarkan pandangan, berharap menemukan teman yang sebelumnya mengajakku kabur.
Hampir semua penumpang yang turun disambut oleh keluarga mereka. Hanya aku yang tampak celingukan. Jangankan keluarga, aku bahkan bepergian tanpa mengenakan alas kaki.
Beberapa pasang mata menatapku dengan pandangan aneh, kehadiranku seakan seperti aib yang harus dijauhi.
Aku pasrah, tapi hatiku sedih. Wajah ini tertunduk, menyungut lesu. Kemarin aku sempat merasa bahwa kabur berarti merdeka, tapi sepertinya firasatku itu salah.
Dan sekarang aku tak tau ke mana arah dan tujuan ini. Pergi atau pulang? Aku bingung, meringis di balik tembok pembatas dermaga.
Hingga aku dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita tua yang menepuk pundakku.
"Cah Ayuu!" Pelan ia memanggilku.
Kutolehkan pandangan padanya. Senyumnya mengembang, membuat kerutan tampak jelas di wajahnya.
"Sendirian aja, Ndok?"
"Enggeh, Nek!"
"Kasihan kau, Cucuku!"
"Cucu? Tapi, Nek. Aku bu ....!" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, si nenek menyela.
"Sttt! Gak baik ngomong gitu! Bagi Nenek, semua wanita muda dan cantik itu cucu Nenek. Terutama yang sedang sedih dan terlantar tak punya tujuan!"
Sedetik aku melongo.
"Kok Nenek tau?" Ia tak menyahut, hanya senyuman yang terus ia pancarkan!"
"Mau ikut Nenek, Ndok?" ajaknya padaku.
Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan untuk mengikuti si nenek karena memang saat itu tak ada arah dan tujuanku.
Ia mengajakku ikut dengan menumpangi sebuah mobil angkutan umum.
Cukup jauh perjalanan yang kami tempuh hingga tiba di suatu desa.
Kami turun, kulihat si nenek yang langsung mengajakku menyusuri jalan setapak. Jalan yang berlawanan arah dengan jalan poros. Hal yang membuatku bertanya-tanya. Mengapa si nenek mengajakku ke tempat ini? Tak mungkin kan jika rumah si nenek berada di tengah hutan.
__ADS_1
Semakin lama kami semakin jauh masuk ke dalam hutan. Bahkan kini jalan setapak yang tadi kami lewati semakin mengecil saja. Seolah tak ada makhluk yang sering keluar masuk area ini selain si nenek.
"Nek, sebenarnya kita mau ke mana?"
"Ke rumah Nenek, ***." sahutnya pelan
"Di hutan, Nek?"
Dia tak menjawab. Hanya senyum yang lagi-lagi terpancar dari kedua bibir keriput itu.
Hingga di kejauhan, kulihat sebuah rumah mewah dengan pagar tembok. Rumah yang sungguh langka karena letaknya yang berada di tengah hutan. Aneh tapi nyata.
Aku semakin melongo kala kulihat langkah si nenek yang memasuki pagar rumah mewah itu.
"Ayo, Ndok. Jangan malu-malu!" ajak si nenek.
"Ta-tapi, Nek!"
"Jangan takut! Rumah ini memang milik Nenek. Ini adalah warisan leluhur Nenek!"
Mataku tampak menyalak, sedang bibirku terkunci. Hanya kepala yang kuanggukkan sebagai tanda bahwa aku paham dengan ucapan si nenek.
Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam lingkungan rumah misterius itu.
Tak hentinya netra ini mengedar, dengan mulut yang tak kusadari terus saja menganga. Untung saja tak ada lalat yang masuk.
"Ndok?" panggilnya di ambang pintu. "Jangan diam aja di luar. Ayo masuk! Biar Nenek siapin makan siang buat kita!"
Lagi-lagi aku mengangguk. Kuikuti langkahnya saat memasuki rumah besar dan mewah itu. Dan tak kusangka, ternyata di bagian dalam jauh lebih mewah dari bayanganku.
Aku hanya bisa menenggak saliva. Tak percaya bahwa diri ini berada di dalam rumah yang super mewah.
"Ayo duduk, Ndok!" Si nenek mempersilahkanku duduk pada sebuah meja makan lengkap dengan enam buah kursi jati berpahat khusus begitu kami sampai di bagian dapur. Aku pun tak hentinya tertegun dengan pemandangan yang kulihat.
Rumah ini bagai istana yang penuh dengan kejutan. Disetiap ruang selalu menampilkan pandangan yang berbeda. Baik dari segi arsitek maupun dekorasi. Sungguh, seperti berada di sebuah istana. Meski sebenarnya aku tak pernah memasuki istana.
Selang beberapa saat si nenek kembali dengan membawa sebuah nampan besar. Di atasnya tersusun makanan lezat dan buah-buahan. Aku semakin heran, bagaimana bisa si nenek yang sudah tua renta ini menyimpan banyak bahan makanan dalam rumah yang jaraknya saja jauh dari jalan poros.
"Nek?"
"Ene opo, Ndok?"
"Apa Nenek tinggal sendirian di rumah besar begini?"
"Iya, Ndok!" Kulihat rautnya yang sedih saat mengatakan kata iya.
__ADS_1
"Dulu Nenek punya suami dan anak-anak. Tapi mereka semua sudah tak ada."
"Sudah gak ada? Maksudnya, Nek?"
"Iya, mereka semua sudah tak lagi bisa dilihat di dunia ini! Mereka telah pergi untuk selamanya!"
"Mengapa bisa begitu, Nek?" tanyaku simpati. Si nenek lantas meletakkan nempan tadi di atas meja yang panjangnya dua meter sedang ditengah meja terdapat sebuah tempat untuk menaruh lilin.
Nenek itu akhirnya duduk dan mulai bercerita tentang masa lalunya. Bahwa suami dan anak-anaknya telah mati di tangan warga. Sang nenek juga berkata jika mereka semua telah difitnah warga, diusir lalu berakhir dengan dibakar hidup-hidup. Hanya nenek yang sempat kabur lari ke dalam hutan. Puluhan tahun si nenek tak pernah kembali ke desa, hingga para warga mulai lupa dengan kasus yang menimpa keluarganya dan berhenti memburu si nenek.
Aku hampir tak dapat bernapas saat mendengar kisah kelam masa lalu si nenek. Sempat aku mengira jika aku adalah manusia paling menderita. Tapi ternyata, di luar sana masih ada orang yang jauh lebih menderita dari diriku.
Selesai bercerita, kami makan dan selanjutnya si nenek menunjukkan kamar yang nantinya aku tempati.
Hari-hari pun berjalan dengan baik. Aku dan si nenek sudah seperti cucu dan nenek kandung.
Nenek benar-benar memperlakukanku dengan baik. Segala kebutuhan dari pakaian hingga aksesoris pun dia berikan.
Aku tak tahu darimana nenek menghasilkan semua uang untuk membeli semua kebutuhan kami. Namun, aku juga tak ambil pusing untuk urusan itu. Yang penting sekarang hidupku nyaman. Tak ada tekanan, tak ada batasan. Aku bebas melakuakan apa saja yang kusuka bersama nenek yang sudah kuanggap keluarga. Bergitu pun dengannya, kulihat kasih sayangnya sangat besar padaku. Mungkin karena hanya aku satu-satunya yang ia punya.
Suatu ketika aku bertanya, mengapa selama ini beliau tak pernah berniat mengambil anak angkat jauh hari sebelum bertemu denganku. Namun, jawaban si nenek sungguh mengejutkan.
Beliau berkata, jika beliau sudah lama menungguku. Dan ketika aku menyanyakan lagi alasannya, beliau berhenti menjawab pertanyaanku. Hanya saja satu hal beliau katakan bahwa suatu saat akan memberi tahukan alasannya padaku.
Mulai saat itu aku memutuskan untuk berhenti bertanya mengenai alasan-alasan beliau mengambil dan mengangkatku sebagai anak.
Hingga suatu ketika saat tengah malam, aku terbangun karena rasa ingin buang air kecil yang sudah tak tertahankan. Bergegas aku menuju toilet, dan saat itulah kudapati nenek tengah bersila di atas kasur di kamarnya. Tak ingin mengganggu, aku pun hanya lewat. Namun, mendadak rasa penasaran menggerayungiku.
Mengapa nenek bangun di tengah malam begini?
Kuputuskan untuk mengintip di balik celah lubang kecil.
Pelan kudengar nenek mengerang.
Deg!
Apa yang terjadi? ....
Kupicingkan mata agar dapat lebih fokus mengintip. Dan betapa terkejutnya aku kala itu.
Kulihat, perlahan kepala si nenek terlepas dari tubuhnya, dengan organ yang juga ikut keluar. Ia melayang, rambutnya mendadak teracak, matanya merah menyalak dan bahkan organnya menyala seperti bara api.
Seketika aku pingsan.
Bersambung ....
__ADS_1