Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Kabur


__ADS_3

Lambat laun penglihatanku kembali buram, dan semakin lama semakin gelap. Hanya desauan para perawat yang semakin lama semakin mengecil lalu lenyap bersamaan dengan hilangnya kesadaranku.


Bip! Bip!


Netraku mengerjap. Hening. Hanya suara dari monitor detak jantung yang terdengar oleh indera ini.


Kuedarkan pandangan, menatap jelas ruang sempit yang lebih mirip ruang isolasi. Tak ada jendela atau kaca transparan agar aku dapat melihat keadaan di luar. Kecuali satu buah pintu sebagai akses utama untuk keluar masuk ruang ini.


Masih mengedar pandangan. Seketika mataku tertuju pada satu buah benda hitam bulat terpasang disudut langit-langit.


Ternyata mereka mengawasiku dengan camera cctv. Ada apa? Apa mungkin mereka sudah mengetahui identitasku. Gawat! Aku harus bagaimana?


Krieeet.


Seorang suster masuk membawa satu buah benda kecil di tangannya. Kupalingkan wajah, menghindar dari pertanyaan yang mungkin sebentar lagi akan terlontar padaku.


"Eh, sudah sadar ya?"


Tuh kan! Benar! Dia mau merocokiku!


"Maaf sebelumnya, saya suster nindi yang merawat Nona pagi ini!"


Pagi? Oh ternyata ini sudah pagi!


"Saya beri obat antibiotik dulu ya!" Suster itu mendekat ke arahku. Menggenggam satu buah suntikan yang siap meluncur ke selang infus ini.


"Tunggu!" sergahku. "Bisa gak, jangan memberi saya obat itu!" Aku menolak. Takut karena bisa saja suster ini berbohong. Bisa saja cairan di dalamnya berupa bius atau semacamnya yang dapat membuatku semakin terisolasi.


"Kenapa? Ini kan cuma antibiotik!" tukasnya ramah.


Aku tertawa kecut. "Gakpapa! Saya cuma masih sedikit shok mengingat kejadian tadi malam. Jadi tolong, beri obatnya nanti aja ya!"


"Ya, mau gimana lagi, kalo Nona gak berkenan, terpaksa pemberian obatnya ditunda!"


Ahh lega!


Kulihat ia kembali beranjak menuju luar ruangan.


"Tunggu, Sus!"


"Yaa!"

__ADS_1


"Kalau saya boleh tanya, apa mungkin suster tau siapa pria yang menghubungi pihak kepolisian tadi malam?"


"Oh itu. Saya kurang tau, tapi saya bisa tanyakan pada bagian resepsionis di depan."


"Oh, iya, boleh! Tolong tanyakan ya, Sus!"


Ia tersenyum sebagai jawaban iya.


"Terima kasih, Sus!" Kuperhatikan punggungnya yang melangkah keluar dan menghilang di balik pintu.


Dap.


Kembali aku tertunduk, lesu. Berharap Adrian ada di sini, memegang tangan untuk menguatkanku.


Baaam.


Seorang pria masuk secara mendadak, pergerakannya terlihat mencurigakan, menggunakan jaket dan topi, sedang wajahnya tertutup masker.


Deg.


Siapa dia? Dan mau apa? Aku bergidik ngeri.


Pria itu mendekat ke arahku. Aku meringkuk ke dinding. Meraba benda apa saja yang kiranya bisa kugenggam sebagai senjata. "Siapa loe? Dan mau apa?"


"Sttt!!" Ia melekatkan satu jari di atas bibir. Membuka pelan penutup di wajahnya. Dan benar saja, pria ini adalah Adrian. Tapi bagaimana dia bisa mengenaliku? Bukankah kini wajahku berbeda?


"Ayo, buruan pergi, Neng!"


"Pergi? Tapi kenapa? Bukankah sekarang aku sudah berada di tempat yang cukup amam?"


"Aku gak bisa cerita sekarang! Yang pasti situasinya sekarang sedang genting!" Pria itu kemudian menarik lenganku. Mencabut infus yang sebelumnya masih melekat di kulit ini. Menutupnya dengan satu buah kapas, agar urat nadi bekas jarum terpasang tak mengelurkan darah.


"Adrian, tunggu dulu! Gue bener-bener gak ngerti? Maksudnya situasi genting yang gimana?"


"Neng!" Ia menatapku lekat. Memegang kedua pundakku. "Sekarang pihak kepolisian sedang mengadakan penyelidikan terhadap kasus Eneng! Banyak warga yang melapor, mereka menuduh Eneng yang enggak-enggak! Pokoknya sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas ini, sekarang kita hanya harus memikirkan bagaimana cara untuk bisa kabur tanpa ketahuan!"


Oh! Begitukah?


Aku shok. Kupikir dengan berakhir di Rumah Sakit maka penderitaanku juga sudah berakhir. Tapi ternyata itu hanya dugaanku.


"Hmm!" Aku mengangguk. Tak ingin mempersulit Adrian yang sudah berkorban banyak untukku. Walau begitu, sepanjang kami berlari pikiranku masih saja tertuju pada bayangan wajah asing ini. Bagaimana bisa Adrian mengenaliku, bukankah nenek sudah mengubah wajahku?

__ADS_1


Kami masih berlari, sesekali berhenti dan bersembunyi saat ada beberapa pembesuk mau pun suster yang melintas. Lalu kembali berlari setelah memperkirakan situasi benar-benar aman.


Kembali langkah kami terhenti di dekat toilet wanita. Adrian meraih sesuatu dari loker sepatu di samping pintu masuk toilet. Sebuah kresek hitam ia berikan padaku.


"Cepat ganti pakaian Eneng sama yang ini!" Ternyata Adrian menyurhku mengganti baju pasien dengan pakaian lain. Ya, hal seperti ini memang perlu diperhatikan jika ingin kabur tanpa tertangkap.


Bergegas aku menggantinya di dalam toilet. Tak butuh waktu lama, setelan pembesuk kini sudah melekat di tubuhku. Tak luput sebuah topi dan kaca mata juga tersedia dalam plastik itu. Rupanya Adrian sudah mempersiapkan semua perencanaan ini dengan matang.


Kembali aku keluar menjenteng kresek dengan isi pakaian yang sebelumnya aku kenakan. Adrian meraihnya dan langsung memasukkan ke dalam bak sampah. "Ayo, Neng!" Tangan ini lagi-lagi ditariknya. Kuikuti langkahnya yang berlari sangat cepat. Napasku bahkan sampai tersengal. Tak kuat. Ingin beristirahat sejenak untuk mengatur napas.


"Bang, Bisa setop sebentar gak? Eneng gak kuat!" ungkapku parau, melepas tanganku pada genggamannya, beralih dengan meletakkan di atas persendian untuk menopang tubuh.


"Ayo, Neng! Waktu kita hanya sedikit. Para polisi akan mengepung area ini kalau mengetahui bahwa Eneng sudah kabur dari ruang itu!"


"Memangnya tadi itu ruang apa, Bang?"


"Ruang isolalasi pasien khusus!" jawabnya singkat.


Deg.


Tuh, benar kan dugaanku? Ternyata mereka memang merawatku diruang isolasi. Ternyata mereka juga menganggapku kriminal meski kenyataannya mereka menemukanku sebagai korban yang sesungguhnya.


Kembali ia meraih lenganku yang masih menindih persendian ini.


"Ayo!" ajaknya. "Tempat parkiran sudah dekat. Tinggal sedikit lagi kita sampai. Jadi jangan membuang waktu!"


Aku mengangguk. Kami kembali berlari kecil. Melewati lorong-lorong sempit di belakang gedung Rumah Sakit.


Puluhan pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Dari mulai mengapa Adrian begitu niat menolongku? Mungkinkah ia sudah mengetahui identitasku? Bagaimana ia bisa tahu banyak hal mengenai Rumah Sakit ini? Semua pertanyaan itu berkumpul dalam benakku. Seakan ingin terlontar begitu saja. Kalau bukan mengingat keadaan sekarang yang sedang genting. Ingin sekali kuhujamkan ia dengan sejuta pertanyaan tadi.


Kami sudah keluar dan sampai di penghujung batas karidor yang dilewati.


Di seberang lapangan, kulihat mobil Adrian terparkir di bahu jalan. Kami berlari ke arah sana, dan langsung menghambur ke dalam mobil setibanya.


Adrian duduk di depan bersama seorang pria yang sedari tadi sudah menunggu di dalam mobil. Aku tak tahu persis siapa pria itu, karena ia masih menghadap ke depan tanpa menoleh, aku tak peduli, selama mereka masih berniat baik padaku, bagiku bukan masalah.


Kutundukkan wajah saat tubuh ini berakhir di kursi sofa belakang. Akhirnya dapat juga aku mengatur napas yang tadi sempat tersengal karena terus berlari. Hingga tak sengaja kudengar pria itu berbicara pada Adrian.


"Gimana? Loe yakin gak ada yang melihat kalian?"


Deg.

__ADS_1


Suara itu? Sepertinya aku mengenalnya. Kuangkat kepala ini. Dan betapa terkejutnya aku melihat pria yang bersanding bersama Adrian.


Maaf, bersambung dulu yaaa ....


__ADS_2