Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Bisikan itu Mengejutkanku


__ADS_3

Tepat pukul tiga sore, kulihat sebuah mobil minibus kembali memarkir di bahu jalan.


Pria pemilik kamar di apartement ini sudah kembali. Sementara aku masih saja termangu atas kejadian yang menimpaku beberapa jam lalu. Hingga  terlupa dengan perut yang sedari pagi belum terisi.


Bunyi keriuk pun tak terelakkan dari dalam sana. Mungkin para cacing itu sudah menutup lapak. Sudah terlalu lama mereka berdemo dalam perutku. Namun tak kunjung mendapat apa yang mereka mau.


Kudengar langkah Adrian sudah semakin dekat. Perlahan aku beringsut dari tempat aku berdiam. Berniat beranjak dari pojokan ini.


Kriieeet!


Suara derit pintu berbunyi saat Adrian membuka gagangnya.


"Neng?" panggilnya padaku.


Aku tak menyahut. Wajahku terus menunduk. Kulihat langkahnya setengah tergesa menghampiriku.


"Ada apa, Neng?"


"Astaga! Pria ini benar-benar peduli padaku! Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku benar-benar membunuhnya. Lalu, masihkah ada semangat untukku bertahan hidup jika dambaan hatiku mati di tangan binal ini?" Aku mulai bergumam dalam hati.


Sedang di satu sisi, lengan Adrian sudah berhasil meraih pipi tembemku.


"Neng?" tukasnya, mengangkat dagu ini, memaksa agar mendongak.


Perlahan kulihat rautnya yang cemas menatapku.


Sungguh pria idaman! Rasanya tak mungkin aku sanggup menghabisi nyawa orang yang sudah mengasihiku.


"Neng, kenapa? Kok nangis?" Ia lantas mengusap air mata yang terus membanjiri pipi ini. Sedang rasa perih menyambangi kelopak mataku karena mungkin terlalu lama mengeluarkan bulir bening.


Aku tak menjawab. Justru kini tangisku semakin menjadi-jadi. Aku terharu oleh sikap lembutnya padaku.

__ADS_1


"Loh .. kenapa? Kok nangis?" Rautnya semakin prihatin menatapku.


Seketika lengannya melingkari pundak ini. Mendekapku dalam pelukan. Hangat. Cinta dan kasih sayang dapat kurasakan. Hal yang sama saat dulu nenek mendekapku.


Tangisku tak kunjung mereda. Membuatnya memper'erat pelukan. Sesekali ditepuknya pundak ini agar dapat meredakan tangis ini.


"Bang, mau kah Abang maafin Eneng?"


Ia terkejut mendengar penuturanku. Kulihat alisnya yang tampak mengkerut saat menatap mata ini.


"Maksudnya?"


Aku diam tak menyahut. Lidahku kembali kelu.


"Eneng minta maaf untuk apa?"


Aku hanya menggeleng. Bingung. Bibirku bergetar tak sanggup mengatakan yang sebenarnya.


Kruuuk!


Kembali isi perutku berdemo. "Sial! Ni perut gak bisa dikontrol!" rutukku dalam hati.


"Neng, kayaknya .. perut Eneng udah demo tuh?" tukas Adrian, membuatku malu hingga nyaris pipi ini memerah. Aku tak sanggup menatap matanya.


"Emang dari tadi Eneng belum makan?" tanyanya. Aku hanya mengangguk.


Sebenarnya aku malu kalau harus mengakui kebenarannya. Tapi aku juga tak dapat menutupinya. Toh, kenyataannya, memang aku belum makan sejak pagi.


"Ya udah! Mau Abang bikinin makan? Atau makan ke warung aja?"


"Terserah aja!" sahutku pelan.

__ADS_1


"Kalau gitu, ke warung aja ya, lebih praktis. Kalo Abang masak takut rasanya gak enak! Ntar Eneng malah tambah sedih."


Ungkapan Adrian berhasil membuatku sedikit tergelitik hingga menimbulkan senyum di bibir mungil ini.


"Nah, gitu dong, senyum! Kan jadi lebih manis timbang Eneng mewek matanya jadi merah! Kayak hantu loh," ucapnya disertai tawa kecil.


"Emang kalo Eneng nangis, kayak hantu ya, Bang?"


"Ya enggak juga, sih!" Adrian menggaruk bagian leher belakang. "Ya udah berangkat sekarang yuk, keburu sore!"


"Hmm," anggukku tanda setuju.


Aku dan Adrian akhirnya turun menyusuri anak tangga.


Hening. Hanya langkah kami yang terdengar di sela terowongan apartement ini. Ya, mungkin karena para penghuni tengah sibuk dengan aktifitas mereka pada saat siang seperti ini.


Bergegas Adrian membuka pintu mobil, mempersilahkanku masuk terlebih dulu begitu kami sampai di depan mobil Adrian.


"Silahkan masuk, Eneng maniis!" ungkapnya. Dan kembali, ia berhasil membuat bibirku melebar dengan rona merah di pipi.


"Makasih, Bang!" sahutku.


"Sama-sama!" jawabnya.


Adrian kemudian masuk menyusulku. Segera ia menyalakan mesin mobil.


Namun, baru saja Adrian hendak menjalankan si roda empat. Mendadak kembali terdengar bisikan di telingaku.


"Bunuuuh diaaa!"


Seketika aku menjerit.

__ADS_1


__ADS_2