Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
pertemuan pertama yang tak diinginkan


__ADS_3

"Ahh" Kutarik napas dalam. Lalu kembali ku keluarkan dengan kasar. Kini aku sudah dapat berdiri dengan kedua betisku.


Sekarang yang kupikirkan hanyalah bagaimana caranya bisa kembali ke desa? "Apa iya aku harus berjalan kaki. Mana jarak jalan poros ini dengan desa cukup jauh. Ah sial!"


Dengan terpaksa kuputuskan berjalan kaki. Kuayun kaki sambil melantunkan lagu sinden untuk sekadar membuang rasa bosan, aku memang menyukai musik alunan sinden. Tak kuhiraukan hawa panas dan dingin dari makhluk halus penghuni hutan di wilayah ini.


Baru sekitar dua puluh meter aku berialan, kembali terlihat sebuah mobil mendekat. "Ahh, mungkin cuma mobil yang kebetulan melintas."


Semakin dekat mobil itu semakin pelan. Lalu tiba-tiba berhenti tepat di samping kendaraan bebek milik Juki.


"Apa yang mereka lakukan? Apa mungkin mereka ....?" Perasaanku mulai tak karuan. Kupercepat langkah agar menjauh mereka.


"Permisi?" Terdengar seseorang meneriakiku. Gawat! Semakin kupercepat langkah hingga tak kusadari, aku sudah berlari dengan sangat kencang.


"Hei-hei! Tunggu!" pekiknya dari arah belakang. "Sial! Sepertinya orang ini mengejarku! Apa yang dia inginkan? Oh Tidak, kali ini apa lagi?"


"Tunggu!" Mendadak sebuah tangan berhasil meraih pergelanganku, dan menarikku. Membuatku tersentak dan spontan tubuhku terputar menghadap ke arahnya.


Kupejamkan mata, takut jika ternyata ia begal dan membawa senjata tajam atau apapun yang dapat melukaiku.


"Lepaaas!" hardikku sambil menghempaskan genggaman tangannya. Ia pun terlonjak dan melepaskan genggaman.


"Mbak, Mbak! Jangan takut. Saya gak niat jahat kok!" tuturnya.


Kubuka mata perlahan. Seorang pria muda dengan napas setengah ngos-ngosan tengah berdiri di hadapan. Dengan wajah cemas ia menatapku lekat.


"Mbak gak apa-apa?" tanyanya. Aku tak menjawab. Masih bungkam dengan seribu bahasa.


"Mbak ngapain malam-malam sendirian di tempat begini?"


"A-ah anu ... aku!" Aku bingung, entah harus menjawab apa.


"Ya sudah. Nanti saja jawabnya. Mbak mau saya beri tumpangan?" tawarnya padaku.


"Ah-iya!" Aku spontan aku mengucapnya. Sebenarnya tak terlintas di otakku untuk menjawab iya. Hanya saja, kata-kata itu keluar sendiri dari mulut ini. "Aduuh, apaan sih!" gumamku. Kuketuk pelan kepala dengan sebelah tangan.


"Kenapa, Mbak?" tanyanya sedikit heran.


"Ah, gak apa-apa!"


"Oh-kirain kenapa. Mari, Mbak," ajaknya.

__ADS_1


"Hmm." Aku mengangguk. Ia pun mempersilahkanku berjalan di hadapannya.


Antara bingung dan khawatir tapi tetap kuikuti ajakannya, benarkah pria ini berniat tulus menolongku?


"Mas, kok mau nolongin saya? Mas gak takut?"


"Takut apa, Mbak? Justru saya kasihan sama Mbak sendirian di tengah malam begini. Mana gelap lagi." terangnya.


Ya Tuhan, belum pernah aku bertemu pria sebaik dia, baru kenal tapi langsung peduli tanpa memikirkan asal usul dan identitasku. Bisa saja kan aku makhluk astral. Ehh ngomong apaan sih aku ini?


Aku tersentuh dengan sikap tulusnya. Berulang kali kutatap wajahnya, membuatnya menggaruk bagian kepalanya belakang.


"Kenapa, Mbak. Kok natap saya terus, ada yang salah?" tanyanya disertai tawa kecut. Nyengir.


"Ah enggak papa, Mas."


"Hmm." Kembali senyum terpaksa ia lontarkan padaku. 'Sial kenapa pasang senyum terpaksa gitu sih!' Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.


Kulihat ketiga temannya menatap dengan tatapan lain padaku.


"Adrian! Lu ngapain sih pake ngajak-ngajak tuh cewek segala."


"Ishh." Ia menyenggol pria itu. "Justru itu!"


"Justru itu, apanya?"


"Lu gak ngerasa aneh apa? Tiba-tiba ada cewek sendirian di tengah malam begini."


"Aneh gimana?"


"Ya kalok ternyata dia dedemit, gimana?"


"Ah lu mah yang parno-an banget!"


Aku masih fokus menatap mereka, tak luput memasang wajah memelas. Jangan sampai pria itu tak jadi memberi tumpangan padaku. kan lumayan, timbang harus jalan kaki.


"Hussh, diam lu ah! Gak enak kan kalau didengar sama dia!" Kulihat mereka berempat saling senggol. Entah apa saja yang mereka bicarakan. Hanya sedikit percakapan yang terekam oleh pendengaranku. Tapi dari gerak geriknya, sepertinya mereka membicarakanku.


Salah seorang dari mereka mulai menaiki motor bebek milik Juki. "Woy, temenin gue dong! Masa iya gua sendirian ngendarain nih motor!" serunya pada kawanannya.


"Loh, Bang, itu motornya mau diapain?" tanyaku.

__ADS_1


"Mau ditanggung jawab-in, Neng," sahut pria yang mereka panggil dengan sebutan Adrian tadi, kembali memalingkan wajahnya dari pandanganku.


Namun, mendadak ia terdiam. Membuatku menggumam dalam hati 'Bodoh! Bodoh! Bodoh! Ngapain juga sih aku nanya hal itu ke mereka! Ahhh'


Si Adrian tadi kembali mengarahkankan pandangannya ke wajahku. Tampak dari mimiknya hendak mengintrogasi. "Neng? Eh, Mbak. Eh, Neng aja yah!"


"Mm." Aku mengangguk. "Terserah aja mau panggil apa, asal jangan Nek!" sahutku.


"Ehehhe, Nengnya bisa aja! Emmm ... Sebenarnya, Neng ngapain sih sendirian di sini di tengah malam begini?"


Deg!


'Tuh kan, bener! Dia mau ngintrogasi aku. Duh ... musti jawab apa nih?' batinku mulai berceloteh. Kini tampak jelas raut wajahku yang mulai cemas. 'Ahh ini semua gara-gara kecerobohanku. Kenapa juga tadi aku musti jawab iya waktu dia tawarkan tumpangan, jadi belibet gini kan? Aiihh!'


"Neng?"


"Ah-iya bang!" Aku tersentak kaget.


"Kok bengong?"


"Anuu- tadi itu ....!"


"Apa mungkin Eneng kenal sama pria yang berada di dekat motor tadi?" Spontan mataku menyalak menatapnya. "Jangan natap gitu dong, Neng, cuma nebak aja. Soalnya, tadi, kami gak sengaja nabrak pria itu!" ucapnya lirih.


Sial, ternyata mereka kelompok pria yang nabrak dan nyelamatin Juki tadi. Kini aku semakin grogi. Wah bisa gawat nih urusannya.


Aku mulai berpikir keras mencari alasan.


"E-Neng?"


Aku masih menunduk. Antara bingung dan takut ketahuan. Lalu ....


"Se-sebenarnya ...."


"Sebenarnya apa, Neng?"


"Sebenarnya, pria itu mau memperkosa aku!"


"Apaaa!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2