
"Apa! Serius, Mbak?"
"Iya," sahutku pelan. Ketiga kawanan itu mencoleknya, bertanya dengan bahasa isyarat.
"Wah, berarti kita barusan nyelamatin nyawa seorang kriminal dong!" ucap salah seorang kawan Adrian dengan mimik datar.
"Hussh! Jan ngomong sembarangan, napa?"
"Ishh, kan emang beneer!" ungkap kawannya lirih. sedikit berdesis.
Aku masih memasang wajah melas.
Kusungutkan wajah saat menatap keempat kawanan itu. Membuat mereka terdiam, seketika semua menjadi canggung, kaku, kikuk.
"Ehm!" Adrian berdehem. "Mbak pasti masih shok. Ini, minum dulu, Mbak." Pria itu menyodorkan sebotol air mineral yang sudah tinggal separuh kepadaku. "Maaf, minumannya sudah bekas. Tapi dijamin gak ada bakterinya kok! Ehehe." Lagi-lagi ia membuat senyuman palsu. Tapi kali ini, senyumannya terlihat begitu manis. Sebab kali ini yang ia lakukan hanyalah ketulusan. Tulus ingin membuatku merasa lebih baik.
Aku semakin tertegun oleh sikapnya. Kupasang wajah dengan senyum termanis di hadapannya. Membuatnya rona merah mengembang di kedua pipinya dengan senyum yang juga terpancar alami. Kali ini tak lagi terlihat palsu seperti tadi.
'Astaga! Apa yang kupikirkan?! Apa iya aku jatuh hati padanya. Oh-Tidak, tidak boleh. Sadar, Siti! Sadar!' gerutuku dalam hati.
Segera kugelengkan kepala.
Melihatku yang menggeleng secara tiba-tiba, membuat Adrian kembali menggaruk ujung kepala.
Ohh, Astaga! Wajah itu .... manis sekali! Sedetik aku menatapnya. Tak kuasa ingin menelan saliva yang tanpa kusadari hampir meleleh tanpa di antara kedua bibir mungilku. Membuatnya kembali canggung.
Kembali kupalingkan wajah lalu menunduk.
Kumainkan resleting di ujung yang tertutup rapat di ujung tas, sambil menggigit sisi kiri bibir bawah. Lalu kulirik handphone yang tak menyala di tangan. Tertangkap bayangan wajah Adrian yang juga terus menatapku. Apa mungkin ... dia juga merasakan hal yang sama sepertiku. Aduh kenapa aku jadi baper begini sih? Ingat, Ti. Ingat! Kamu itu siapa!
Kini ia mulai menyalakan mesin, sedetik kemudian, mobil yang kami kendarai berjalan dengan perlahan.
Kini, hanya ada kami bertiga. Aku, Adrian dan satu orang teman bawelnya. Sementara dua temannya lagi berada di belakang mobil. Membuntuti kami dengan motor bebek si Juki.
__ADS_1
Sepanjang jalan kami semua diam. Canggung, seperti itulah adanya. Lalu Adrian mengakhiri keheningan ini dengan kembali memulai percakapan padaku.
"Mbak. Eh, Eneng. Eh ... Mbak aja deh."
"Ya!" Kusahut pelan.
"Kalok saya perhatikan, sepertinya, Mbak gak terlihat asing. Apa sebelumnya kita pernah ketemu ya, Mbak?"
"Eh ....!" Aku tertegun. "Gitu ya, Mas!"
"Ho-oh," ucapnya.
Aku kembali diam. Masih memikirkan bagaimana nasibku kedepannya saat bertemu Juki nanti. Lalu kulihat Adrian mencuri pandang padaku lewat kaca mobil di hadapannya.
"Nyetir aja yang benar, oeyy! Gak usah lirik-lirik. Entar nabrak lagi!" celoteh temannya yang berada di sampingku. Sambik berdecak kesal. Membuatku tertawa geli.
"Lu, ah! Bikin malu gue aja!" ucap si Adrian yang tersenyum kikuk padaku. "Inget gak, Mbak?"
"Di mana yah?" tanyaku setelah menatapnya singkat.
"Oh-iya. Kenalin, Mbak. Nama saya Adrian." Ia menyodorkan tangan ke belakang. Matanya terus fokus ke depan.
"Siti," sahutku pelan sambil menjabat tangannya. Spontan teman bawelnya juga menyodorkan tangan padaku, ditepisnya tangan Adrian agar tersingkir.
"Kalau saya ... Gibran!" ucapnya sumeringah.
Kusingkap rambut yang menutup setengah wajah. Kutampakkan pesona yang sedari tadi tersimpan rapat di balik rambut panjang. tak luput kutebar senyum manis saat menyambut tangannya. "Siti," sahutku.
Kubiarkan ia berjabat denganku hingga beberapa saat. Namun, anehnya pria itu tak kunjung melepas jabatannya. Dengan senyuman yang tampak terpaksa, aku mencoba melepas genggaman eratnya.
"Oeey, jangan lama-lama!" Hardik Adrian pada Gibran. Tanganku akhirnya terlepas setelahnya. "Ganggu aja lu!" rutuk Gibran.
"Oh-iya. Aku sekarang ingat, Mbak." tutur Adrian. Mataku membelalak menatap pria itu. "Ingat apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Mbak yang waktu itu di gebukin para ibu-ibu kan?" ucapnya.
'Sial! Kenapa bagian itu yang dia ingat sih?' gerutuku dalam hati.
"Oh, Mas-nya yang ....?"
"Iya! Aku yang bantuin mungutin barang Mbaknya yang berserakan!"
'kampret! lagi-lagi, ingatannya membuatku malu!' rutukku dalam hati.
"Oh, iya. Mas yang bantuin aku waktu itu yah? Yang nawarin saya tumpangan itu yah?"
"Iyaa!" sahutnya.
Baru kuingat! Dia pria yang kusangka sales waktu itu. Gak nyangka, ternyata aku bisa bertemu dengannya lagi. Apa mungkin ini yang di sebut "jodoh gak akan kemana". Aku mulai berandai-andai. Ah mikir apa sih aku nih?
"Mbak, mau saya antar ke mana?"
Seketika aku bingung. 'Ke mana yah? Gak mungkin kalau aku minta dia antar ke rumah. Aku diam berpikir sejenak. Apa aku minta di antar ke warungku aja yah!'
"Mbak?"
"Ah-iya!"
"Kok ngelamun!"
"Antar ke Desa Ruhui blok D ya," pintaku. Aku memutuskan untuk di antar ke warung saja. Satu-satunya tempat teraman yang boleh diketahui banyak orang.
"Oke, siap, Mbak." jawabnya.
Kudengar jelas Adrian dan Gibran bercengkrama perihal Juki yang mereka tabrak tadi. Mereka membawanya ke Rumah Sakit. Namun hingga kini, si Juki masih dalam keadaan koma.
Gawat! Kalau nanti dia sadar, bisa saja dia menceritakan pada warga mengenai siapa diriku. Ini tak bisa kubiarkan!
__ADS_1
Bersambung ....