
Hari ini aku benar-benar lelah. Lelah karena seharian diburu oleh mak Ijah. Walau akhirnya kami berhasil melewati terjangan maut darinya. Namun tak kupungkiri, napas sengal dan dada sesak menjadi konsumsiku bersama Adrian di sore ini.
Kencan pertamaku akhirnya gagal, bahkan untuk mampir ke kantor Adrian pun kami tak sempat.
*****
Siang telah berlabuh, menyongsong matahari menuju peraduan saat mobil Adrian berhenti tepat di depan warung kopi milikku.
"Maaf ya, Neng. Abang gak bisa tepati janji hari ini!" terangnya padaku.
"Iyee, gakpapa, Bang. Abis mau gimana lagi?! Ini semua gara-gara Emak rempong yang tadi ngeburu kita!" seruku.
"Hehhee." Adrian terkekeh.
"Ya udah, Abang balik dulu geh. Ntar keburu senja!" ajakku padanya.
"Iyee, Eneng juga hati-hati ye. Buruan pulang gih. Denger-denger sih, kalo menjelang magrib, kuyang mulai seliweran!"
Glek! 'Sial! Aku merasa tersindir!'
"Ehehhe, tenang aja, Bang. Eneng bisa kok jaga diri!"
"Ya udah, hati-hati ya. Kalo ada apa-apa, telpon aja Abang!"
Ungkapannya membuat hati ini berbunga, bahkan memancarkan rona merah di pipi kinclongku.
"Oke, Bang. Siap!" tuturku lembut. Ia membalas dengan senyuman tulus. Sedetik kemudian menyalakan mesin si roda empat.
Kupandangi wajahnya yang sesekali menoleh ke arahku. Pelan ia memainkan setir, memutar mobil ke arah berlawanan. Melalui jalan yang tadi kami lewati.
"Abang duluan ya, Neng!" teriaknya dari beberapa meter sambil melambai padaku.
"Iye, Bang!" Kubalas lambaiannya. Lalu sedetik kemudian mobil itu lenyap dari pandangan.
Kususuri jalan menuju rumah kontrakkan milik bu RT.
'Mulai hari ini aku harus memiliki tempat tinggal yang layak!' gumamku dalam hati.
__ADS_1
Rumah kontrakan bu Minah memang sedikit berjauhan dari rumah warga.
Baru satu bulan yang lalu rumah itu ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya.
Dari penuturan warga, penghuni di rumah yang dulu pernah menempati itu bercerita, bahwa ia kerap diganggu makhluk halus penunggu kamar di dalam kontrakan.
Tapi bagiku, rumah itu benar-benar pas untuk kuhuni.
Aku ahkirnya memutuskan untuk berpindah ke tempat tinggal yang layak. Barangkali, suatu saat aku menemukan jodoh dan menikah lagi.
Walau semua bayangan itu hanyalah angan yang tak mungkin kugapai.
Berbicara tentang jodoh, seketika bayangan Adrian melintas di benakku.
'Ah! Mikir apa sih aku!' rutukku dalam hati.
Sepuluh menit sudah aku menyusuri jalan.
Di kejauhan sejarak sepuluh meter, tampak rumah beton dengan cat orange bertengger di samping jalan. Terpampang di tembok depan papan bertuliskan Ketua RT.
Pagarnya tertutup rapat. Namun, bell sudah terpasang dari luar rumah sehingga memudahkanku untuk memanggilnya dari luar.
Terdengar jelas suara bell yang ku tekan berbunyi di dalam rumah bu Minah. Namun, tak ada tanda-tanda seseorang keluar untuk menyambut tamu yang menekan tombol rumahnya.
Berapa kali netra ini memicing, berharap menangkap sosok yang mungkin mengintip di balik jendela kaca rumah besar itu. Namun tetap, tak satu pun menyambutku.
"Sialan! Gue dikacangin!" gumamku.
Berkali-kali aku mengulang menekan tombol bell. Hingga hampir setengah jam lamanya. Lalu tak lama kemudian, tampak dari kaca jendela, seorang wanita berusia seperempat abad berjalan menuju pintu depan.
Wanita muda yang tak lain adalah Juwita anak bu Minah itu lantas membuka pintu. Lalu keluar rumah dengan mengenakan mukenah yang masih melekat di tubuhnya.
Beberapa detik kemudian ia sudah berada di depan pagar.
"Eh, Siti! Ada apa lu kemari?!" tanyanya sedikit sinis tanpa basa-basi. Aku tahu persis, Juwita juga salah satu wanita yang iri dengan kecantikanku.
"Saya ada perlu sama bu Minah!" sahutku juga tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Bisa saya masuk dulu?!"
"Cih!" Ia berdecih. "Bertamu harus tau waktu dong! Masih magrib juga!" rutuknya tanpa memandang ke arahku. "Emang perlu apa?"
"Ini soal kontrakan bu Minah, yang kudengar sudah kosong sebulan lalu!"
"Terus kenapa?"
"Ya, gue minat ngontrak!"
"Ohh! Ya udah, masuk! Buruan!" tuturnya dengan wajah ditekuk.
Kulihat langkahnya yang tergesa masuk ke dalam rumah. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Apa mungkin, ia berpikir sama dengan apa yang dipikirkan Adrian tadi, tentang kuyang yang berseliweran di saat magrib menjelang? Ah entahlah!
"Duduk dulu ye, gue panggilin mak gue!" tukasnya.
"Hmm!" sahutku.
"Maaak! Ada Siti tuh di luar!" teriaknya dari dalam rumah.
"Iyee! Suruh tunggu dulu!" Kudengar suara bu Minah menyahutknya.
Selang beberapa menit wanita paruh baya itu sudah hadir di ruang tamu bersamaku.
"Ada apa, Ti?" tanyanya.
"Gini, Bu. Saya dengar, kontrakan ibu sudah kosong selama sebulan! Kalo belum ada yang nempati, saya berminat mengontrak di sana."
"Ya, memang belum ada sih yang ngontrak lagi, tapi gue ragu sama elo, Ti!"
"Ragu, maksudnya?" Aku mulai bingung. Mengapa ia ragu? Apa mungkin gosip mengenai cerita Juki sudah mulai menyebar?
"Ya, gue ragu, lu gak bisa bayar!"
'Sialan!' Aku membatin.
"Kan elu cuma usaha dagang warung kopi. Emangnya elu mampu bayar di kontrakan gue!"
__ADS_1
Etdah! Nampol banget ucapannya!