
Makin lama, suara langkah mereka semakin mendekat.
"Gawat! Sepertinya aku tak bisa berdiam dalam lemari ini! Mereka dengan mudah akan menemukanku!"
Kuintip ruang kamar dari sela lubang pintu lemari yang tak rapat. Tak ada siapa-siapa, hanya pemandangan yang tampak sepi dari penghuni. Tak ada tanda-tanda kehadiran sang pemilik.
Akhirnya, nekat aku membuka pintu lemari yang tadi kututup rapat. Bunyi deritnya pun terdengar tak bersahabat denganku, tega-tega daun pintu lemari ini mengusik kewaspadaanku. Huh dasar pintu!
Sedetik kemudian, aku sudah berada di ruang kamar ini.
Kuedarkan pandangan. Benar saja, tak satupun kujumpai manusia. Namun anehnya, sang penghuni masih menyalakan lampu kamar.
Lalu seketika, terdengar ramai suara manusia mengetuk pintu kamar tempat aku bersembunyi dengan lampu yang terus menyala.
"Oh, tidaaak! Aku masih ingin hidup!" Aku mulai meringis.
Beruntungnya, pintu kamar terkunci dari dalam. Sehingga aku masih memiliki kesempatan mencari cara untuk menghindar dari mereka.
Sekali lagi kuedarkan pandangan.
Seketika, mataku tertuju pada ruang kamar mandi. Bergegas aku melayang ke arah sana. Setibanya, aku langsung masuk.
Dan betapa terkejutnya aku mendapati seorang pria tengah berlumur sampo di atas kepala dengan posisi badan tanpa sehelai pun kain membungkusnya.
Pria itu bersiul sambil terus menggosok kepalanya yang penuh dengan busa.
Ingin rasanya aku menjerit! Tapi tak bisa!
Akhirnya kubiarkan ia yang membelakangiku meneruskan mandinya. Hingga tanpa sengaja ia menoleh.
Sontak matanya membelalak mendapatiku melayang di belakangnya. Kutajamkan taring dengan mata merah menyala. Berharap ia pingsan sebelum sempat berteriak histeris.
Dan berhasil. Kini pria itu benar-benar pingsan.
Kunyalakan keran dengan putaran maksimal, agar air yang keluar terdengar jelas dari luar kamar mandi. Tak luput untuk mengunci pintunya dari dalam.
Kulekatkan kuping ini pada dinding pintu. Berusaha mendengarkan langkah kaki para pemburu tadi.
__ADS_1
Tak ada suara, sepi.
'Ada apa ini? Apa mungkin ini jebakan??' batinku menggumam. Perasaanku semakin cemas. Semoga saja ini bukan akhir dari hidupku!
Sedetik kemudian terdengar suara seseorang mengetuk kamar mandi lalu bertanya.
"Maaf! Siapa di dalam?"
Deg!
Rasanya jantungku seakan terhenti.
Sesaat aku diam. Suara yang berbicara dari luar adalah suara lelaki. Aku pun mulai berpikir keras. Mencari cara untuk dapat membebaskan diri.
Seketika aku tersadar. 'Ah benar juga! Aku kan perempuan! Pura-pura saja aku marah karena berusaha diintip,' Otakku akhirnya mengeluarkan sebuah ide.
Dengan ragu aku memutuskan untuk mencoba.
"Permisi! Maaf, siapa di dalam?" Kembali pertanyaan yang sama ia lontarkan.
"A-apa?"
"Pake nanya lagi! Lu mau ngintip gue kan? Ngaku loe!"
"E-em-maaf, Neng. Gak ada maksud gitu, kok!"
"Terus? Ngapain lu ngetuk-ngetuk, gak dengar apa ada orang lagi mandi! Awas aja kalo sampai ketemu, gue tuntut loe!"
"Ampun, jangan, Neng! Maaf, mungkin saya salah masuk kamar!"
"Ya udah! Buruan pergi sana! Sebelum gue berubah pikiran! Kalo gak, gue teriak sekarang, biar warga pada datang dan meringkus elo yang lagi ngintipin gue mandi!"
"Ja-jangan, Neng. I-iya saya pergi!" tukas si lelaki. Setelah itu, tak ada lagi sahutan darinya.
'Semoga aja cara tadi berhasil!' sungutku dalam hati.
Sedetik kemudian, kudengar langkahnya yang perlahan pergi menjauh dan semakin jauh.
__ADS_1
Aku menghela napas. Lega. Akhirnya berhasil juga selamat dari jeratan maut. Keringat dingin ini bahkan telah mengering di atas jidat.
Sesaat aku terdiam, mengambil napas panjang melalui indera pencium lalu menghelanya pelan.
Kulirik pria yang masih tergeletak pingsan dengan kepala menghadap barat. Tubuhnya basah karena terus tersiram air dari shower yang kunyalakan.
"Terima kasih! Berkat dirimu, aku akhirnya selamat!" gumamku padanya yang tak mungkin mendengar apalagi menyahutku.
Kembali kupasang sebelah telinga pada daun pintu.
Tak terdengar lagi suara bising di luar sana.
Tampaknya para warga sudah tak lagi berkerumun. Namun, aku tak mau gegabah. Kuputuskan untuk menunggu sedikit lebih lama, sampai pencarian mereka benar-benar berakhir.
Kembali aku menyandarkan kepala pada dinding. Kini, lamunan mulai menggerayungi pikiran.
Bermacam-macam bayangan tentang kehidupan dunia menyambangi benakku.
Tapi tiba-tiba ....
Pria yang sedari tadi diam karena tak sadarkan diri, kini mulai menggerakkan kepalanya. Pun dengan tangannya yang juga mulai bergerak.
'Wah gawat! Sepertinya pria ini sudah mulai sadar!' batinku bergumam. Perasaanku mulai cemas.
Ia perlahan duduk, salah satu lengannya memijat-mijat bagian kepala.
"Duuuh, kok gue bisa tidur di toilet yaa?" Kudengar ia berceloteh. "Mimpi apa gue tadi!" lanjutnya.
Tapi entah mengapa, suara pria ini tak terdengar asing di telingaku. Mungkinkah pria ini ...?
Pria itu kemudian bangkit. Dan langsung berbalik badan. Segera aku melayang ke langit-langit. Syukurnya ia tak sempat melihat.
'Astaga!!' Aku kaget bukan kepalang begitu melihat wajahnya yang datar tanpa ekspresi tegang seperti saat pertama melihatku dalam bentuk dedemit.
Bagaimana tidak kaget, sosok pria yang pingsan ini ternyata Adrian. Kuharap ia tak melihatku yang menggantung di langit-langit kamar mandi ini!
'Ohh siaaal!' batinku mengeluh. Aku hanya bisa pasrah dan menutup mata.
__ADS_1