Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan

Rahasia Si Janda Secantik Gadis Perawan
Terkuak Misteri Persekutuan Ini


__ADS_3

Kami melaju memecah jalan, membelah kesunyian malam. Tak ada pegendara lain selain motor si babang ojek di jalan ini.


Ia menancap gas dengan kecepatan nyaris 80 perkilo meter. Kerudung yang menjadi penutup kepala ini terkibas oleh kencangnya angin.


Dingin semakin menyelimuti malam. Kugenggam tas di hadapan. Menjadi pembatas jarak duduk antara aku dengan si pengendara.


Cukup lama motor ini melaju dengan kecepatan tinggi, hingga lambat laun laju motor tukang ojek ini mulai melamban. Mungkin ia merasa jarak antara kami dan warga yang mengejar sudah cukup jauh. Sehingga tak memungkinkan bagi mereka berhasil menangkapku.


Untuk sesaat kami hening. Sehening malam yang mencekam. Tak kupeduli puluhan tawa kuntilanak yang meledekku. Bahkan bayangan mereka terus muncul di setiap pinggiran jalan.


Si babang ojek sepertinya tak melantunkan ayat-ayat seperti sebelumnya. Terbukti, aku tak merasakan hawa panas seperti sebelumnya membuat dada sesak.


"Bang? Abang kok belum balik ke kota! Terus kok tiba-tiba nolong Eneng?" Pria itu diam tak menyahut. Aku tertunduk.


Selang beberapa saat ia menghentikan kendaraannya di pinggir jalan. Menatapku, lalu mulai berbicara.


"Sebenarnya, dari awal saya sudah tahu siapa Eneng ini!"


Deg!


Mendengarnya, jantung langsung berdebar. Sedang mulutku terkunci. Tak ada yang bisa kuelak. Pasrah.


Baiklah! Kubiarkan ia mengungkapkan semua yang ia ketahui tentangku.


Tapi cukup malam ini. Hanya malam ini. Jangan ada pertemuan kedua di kemudian hari. Karena tak bisa kupungkiri, malam ini ia telah menyelamatkanku.


"Apa yang membuat Eneng bersekutu dengan setan?"


Deg!


Lagi-lagi, ia bertanya sesuatu yang sulit untuk kujawab. Pertanyaan yang membuat bulu romaku berdirian.


"Ceritanya panjang, Bang!" Hanya tiga kata itu yang mampu kuucap dari bibir ini.


"Ada berapa banyak lagi target yang harus Eneng lenyapkan?" Pertanyaan itu kubalas dengan gelengan.


"Neng! Berhentilah bersekutu dengan makhluk itu!"


"Ya! Aku tahu semua ini tak benar, Bang. Sebelum Abang menyarankanku untuk berhenti, sebenarnya aku memang sudah berniat mengakhiri semua ini!" Suaraku sedikit mendesau.


"Jadi begitu?"


Aku mengangguk.


"Tapi, kenapa Eneng memilih pulang malam? Eneng kan tahu sendiri akibatnya jika melanggar aturan bepergian tengah malam."


Deg! Kenapa? Kenapa begitu banyak hal yang dia ketahui tentangku?


"Itu karena .. sebelum keberangkatanku ke desa, makhluk itu sempat menyambangiku!"


"Oh, jadi begitu!"


"Heem," sahutku singkat.


"Bang?"

__ADS_1


"Yaa!"


"Bagaimana Abang ini bisa tahu semua tentangku?" Pertanyaanku membuat bibirnya melebar. Ia tersenyum.


"Pertanyaan itu akan aku jawab nanti!"


Aku bergeming. Hanya netraku yang berkali-kali berkedip.


"Neng!" Lengannya menyentuh pundakku. Netra itu menatapku lekat.


"Maukah Eneng jika saya membantu keluar dari jeratan persekutuan Eneng?"


Deg!


Sontak mataku membelalak menatapnya. "Be-benarkah, Abang mau membantu saya?" Ia mengangguk.


Whuuuss! Kraaak!


Aku dan babang ojek ini terkejut. Menoleh bersamaan.


Pohon-pohon di pinggir jalan itu bergoyang hebat. Angin badai mengitari pohon di sekeliling kami.


Apa yang terjadi? Kurasa ini ulah nenek.


Kerudungku bahkan tersingkap. Memperlihatkan dengan jelas lingkaran merah di leher ini.


Kibasan itu semakin kuat, nyaris membuatku tertarik masuk ke dalam badai.


"Aaaaa!" Aku hanya bisa menjerit.


Aku takut. Tak dapat berbuat apa-apa. Meringkuk di samping pria itu. Badai yang menerpa kami semakin kuat saja. Kupegang erat lengan pria di sampingku ini, berlindung di balik tubuhnya.


Sepertinya pria ini sama kuatnya. Tak terlihat goyah sedikitpun meski yang terjadi malam ini adalah kekuatan sihir yang terhebat dari sebelumnya yang pernah kulihat.


"Aaaaaaa!" Lengkingan itu berhasil memecah gendang pendengaran kami.


Hampir saja aku melepas genggaman di lengan pria ini. Untuk sekadar menutup telinga dari bisingnya teriakan makhluk astral itu. Tapi jika hal itu terjadi, mungkin aku sudah terhisap oleh pusaran badai yang terus mengitar di atas kami.


"Sitiiii! Beraninya kau berkhianaaat!"


Teriakan itu begitu melengking. Nyaris membuat bulu kuduku merinding. Tak pernah aku merasa setakut ini sebelumnya.


Sekelebat bayangan hitam mulai tampak jelas di sekeliling kami. Bayangan hitam dengan dua mata merah menyala terlihat begitu penuh amarah padaku.


Cepat bayangan itu menyambarku, dan spontan di tepis oleh pria di sampingku. Membuatnya semakin murka.


Aku tersungkur. Tapi pria ini langsung menarik lenganku agar bangkit dan tetap terjaga.


"Kaauuu! Pengkhianaat! Beraninya kau melakukan hal ini padaku, Sitii? Kau bersekutu dengan keluarga Burhanin!!" Ia menghardikku.


Mataku menyalak. Keluarga Burhanin? Aku tak mengerti apa maksudnya.


"A-apa maksud Nenek? Keluarga Burhanin?"


"Apa kau tahu siapa pria di sampingmu itu? Dia adalah keturunan Burhanin. Dan kau! Beraninya kau mengungkap identitasmu di hadapannya! Apa kau benar-benar berniat mengkhianatiku?"

__ADS_1


Aku menatap lekat pria di sampingku. Apa yang terjadi denganku? Aku masih tak percaya jika pria ini adalah keturunan Burhanin. "Siapa kamu sebenarnya?" nadaku terdengar pelan bertanya pada pria di sampingku.


"Tenanglah, Neng. Aku tak ada niat menyakitimu. Justru sebaliknya, aku ingin menolongmu!"


Aku menatapnya dengan tatapan sendu. Kali ini, wajahku menyiratkan bahwa aku benar-benar butuh pertolongannya. Kuharap ia berkata jujur.


"Sitii! Jangan mau termakan oleh ucapannya, dia hanya ingin menjebakmu. Kembalilah pada Nenek!" Kali ini, makhluk itu menunjukkan sisi lembutnya. Bahkan, penampakannya pun nyaris berubah. Ya, dia benar-benar sosok nenek yang kukenal dulu.


"Nenek?" Kakiku maju selangkah, mengikuti arah tangannya yang melambai padaku.


"Siti! Jangan!" Pria ini sontak menahanku. Membuat langkahku terhenti. Seketika aku tersadar. Rasanya aku baru saja terhipnotis. Kulihat wajah si nenek yang melambai. Kali ini wajahnya kembali seram dengan senyum yang ia paksakan.


"Jangan bertindak bodoh, Siti!" tukas pria itu.


"Ahh, iya!" Aku mengangguk.


"Sitii! Ingatlah, apa akibatnya jika kau berani berkhianat padaku. Kuharap kau tak melupakan itu!" Makhluk itu semakin murka.


Apa yang harus kulakukan? Tetap mengikuti nenek? Atau mengutarakan keinginanku yang sebenarnya? Aku bingung.


Tapi sepertinya aku harus jujur.


"Maaf, Nek! Tapi aku lelah menjalani semua ini. Aku ingin terlepas dari persekutuan denganmu?


"Apa? Tidak bisa! Kau sekarang sudah seutuhnya milikku!"


"Apa maksud Nenek?"


"Apa kurang jelas! Kau adalah milikku! Ayahmu sendiri yang menyerahkanmu padaku!"


Deg!


Apa maksudnya?


"Bohong! Ayahku menjualku pada juragan tanah, bukan padamu!"


"Hahaha! jadi kau tak percaya?!"


"Ya! Kau berbohong!"


"Untuk apa aku berbohong! Ayahmu telah lebih dulu mengantarmu padaku sebelum akhirnya kau dinikahi juragan bau tanah itu!"


"Bohong!"


"Hahaha! Siti, Siti! Sungguh tragis nasibmu. Biar kuceritakan sesuatu padamu. Ayahmu mendatangiku karena ingin terlepas dari jeratan hutang yang ia ciptakan. Aku menjanjikan akan mengabulkan keinginannya, dan sebagai balasan aku meminta dia menyerahkanmu padaku!"


"Apa maksud Nenek?"


"Kau pikir kenapa si tua bangka itu tertarik padamu?"


Aku mengernyit. Menyimak apa yang akan diutarakan nenek kali ini.


"Aku yang membuat wajahmu terlihat cantik di setiap mata pria. Kalau tidak, mana mungkin si tua bangka itu mau menjadikanmu istrinya yang kesepuluh."


Seketika tubuhku lemas. Aku shok. Tak percaya dengan semua yang kudengar.

__ADS_1


__ADS_2