
Seketika aku menjerit.
"Kenapa, Neng?" tanya Adrian yang terkejut saat mendapatiku yang mendadak menjerit.
"A-n-u, Bang ...."
"Kenapa?" Tatapannya menyiratkan kerisauan.
"Berangkat sekarang gih!" pintaku. Adrian mengerutkan kening, tapi tetap menuruti. Segera diinjaknya pedal gas, melaju di atas kecepatan empat puluh perkilo meter.
Sepanjang jalan kami membisu. Hening.
Sinar mentari yang sudah mulai condong sesekali masuk melewati celah pohon rindang di pinggir jalan yang kami lewati.
Karena apartement Adrian masih terbilang di pinggiran kota, maka masih banyak jalan sepi yang nyaris tak ada rumah di sisi kiri dan kanan jalan.
Hanya pohon-pohon besar yang rindang menutupi teriknya matahari yang seharusnya menembus langsung melalui kaca depan mobil ini.
Sesekali Adrian melirik ke arahku. Seakan ribuan pertanyaan hendak terlontar dari bibir merahnya.
Sadar karena terus diperhatikan, aku pun mencoba memulai percakapan.
"Kita mau makan apa hari ini, Bang?"
"Makan lalapan aja ya, di depan sana masih sekitar satu kilo lagi kita sampai!" sahutnya tanpa ada tambahan kata.
Kami kembali canggung untuk beberapa saat.
"Neng?" Kembali Adrian memulai percakapan.
"Hmm," sahutku menatapnya.
"Sebenarnya, dari tadi Eneng kenapa sih? Abang perhatikan tingkah Eneng agak aneh. Coba cerita sedikit sama Abang, kali aja Abang bisa bantu?"
Aku diam saat Adrian mulai menanyai hal-hal rahasia ini. Jawaban apa yang kiranya pantas untuk Adrian dengar.
"Neng?"
"Ah! Iya, Bang?"
__ADS_1
"Ngelamun lagi?"
"A-nu se-sebenarnyaa ...."
"Yaa?" Wajah Adrian mulai menunjukkan ekspresi ingin tahu.
"Awaaaass, Baaaang!!" Seketika Aku menjerit. Mendadak hadir sosok wanita misterius di tengah jalan. Spontan Adrian membanting setir hingga menabrak pembatas jalan. Salah sedikit saja mobil yang kami tumpangi bisa menyungsup ke jurang.
Beruntung aku dan Adrian baik-baik saja. Hanya saja kulihat Adrian sedikit shok.
"Bang .. Abang gakpapa??"
Kulihat napasnya masih tersengal. Ia bahkan tak menatapku saat berbicara. Matanya melotot seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Sedetik kemudian Ia menoleh. Netranya mengedar, mencari sosok wanita yang tadi berdiri di tengah jalan menghalangi kami.
"Bang??" Kucoba menepuk pundaknya agar ia menatapku. Ia terkejut dan menatapku bagai menatap hantu.
"Ini Eneng, Bang!" tukasku.
"Neng ...."
"Iyaa!" Napasnya masih tersengal saat menyebut namaku.
Aku mengangguk pelan.
Kulihat berat ia menelan saliva.
"Neng?"
"Iya, Bang?"
"Abang ngerasa ada yang gak beres?"
"Maksud Abang?"
"Siapa Eneng sebenarnya? Semua hal misterius terjadi semenjak Abang kenal sama Eneng!"
Seketika aku terdiam.
__ADS_1
"Neng, tolong jujur sama Abang. Cerita sama Abang. Abang pengen bantu Eneng keluar dari semua kesusahan!"
Mendadak dadaku sesak. Sakit, begitu mendengar ungkapan yang menunjukkan betapa Adrian peduli padaku. Sedang saat ini, Adrian adalah incaran nenek, dan nenek ingin pria malang ini mati di tanganku. Bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya?
"Neng, pliis! Jujur sama Abang!" ungkapnya, diraihnya pucuk jemari ini. Tangan hangatnya lantas menggenggam erat. Membuat butiran kristal menumpuk di pelupuk mataku. Ya, aku tak kuasa menahan tangis karena harus menggengam erat rahasia ini.
Bagaimana mungkin pria ini bisa membantu mengatasi masalahku yang cukup rumit. Jujur saja, sebenarnya aku ingin keluar dari hidupku yang penuh beban ini. Ingin kembali ke kehidupan normal layaknya manusia biasa yang tak harus bergelut dengan setan berwujud dedemit.
Adrian kemudian menghapus air mata yang jatuh mengenai pipi ini.
"Neng, pliis. Jangan nangia begini, Abang gak senang lihat Eneng sedih!"
Aku mengangguk, berusaha kuhentikan air mata yang menitik ini.
"Sekarang, coba Eneng cerita sama Abang? Sebenarnya apa yang terjadi sama Eneng?"
Aku menggeleng.
"Kenapa?"
"Eneng bakal cerita, tapi Eneng rasa sekarang bukan saat yang tepat!"
"Kalau begitu, kapan waktu yang tepat itu??"
"Entah! Ada yang harus Eneng urus dulu, yang pasti bukan sekarang!"
"Jadi ....?"
"Apa Abang benar-benar berniat membantu Eneng kelura dari masalah Eneng?"
"Ya, Neng. Abang serius!"
"Baik! Hanya ada satu cara jika Abang benar-benar berniat membantu Eneng keluar dari masalah ini!"
"Cara? Seperti apa?"
"Abang harus bisa membawa Eneng pergi sejauh-jauhnya dari desa ini. Dengan satu syarat, kita hanya bisa berangkat dengan aman tanpa gangguan jika terik matahari tepat di atas ubun-ubun."
Kembali Adrian menatapku dengan tatapan mata yang seakan menyimpan sejuta pertanyaan.
__ADS_1
"Oke, Abang janji, apapun akan Abang lakukan untuk membantu mengatasi masalah Eneng!"
Aku terharu. Sedetik kemudian kupeluk erat tubuh Adrian.