
Netraku menatap samar. Remang-remang kulihat api menyambar pada dinding gubuk ini. Api yang sudah menjalar hingga ke atap daun tempat di mana aku terkurung.
"Siram lagi! Biarkan apinya semakin menjadi, biar dia cepat mati!" Beberapa ibu-ibu berseru pada warga lainnya. Agar mereka semakin menggebu, membakar gubuk ini menggunakan bensin.
Dengan cepat api melahap gubuk ini. Asap semakin mengepul. Membuatku hampir tak dapat bernapas.
Whuuus.
Sekelebat bayangan hitam kembali muncul memenuhi ruang panas dan berasap ini.
"Apa yang terjadi padamu hari ini adalah karena ulahmu sendiri." Suara itu menghardikku.
Aku yang tergeletak lemah hanya bisa mendongak.
"Apa maumu?"
"Aku? Hahahaha!" Tawanya menggelegar, nyaris memecah gendang pendengaranku.
"Aku ingin menyaksikan saat-saat terakhirmu karena berkali-kali telah mengkhianatiku!" Nenek mendekat. Dari tangannya mendadak mengeluarkan satu buah benda berupa cermin. Cermin yang memantulkan dengan jelas wajah ini.
Aku terkejut.
Deg.
Apa? Kenapa? Kenapa wajahku berubah? Kenapa kini wajahku menjadi sosok muda nenek?
__ADS_1
"Hahaha! Sekarang kau pasti bingung. Tapi tak mengapa, karena sebentar lagi kau pun akan pergi dari dunia ini, menuju tempat yang lebih pantas untukmu! Selama hidup, puluhan kali kau melakukan pembunuhan! Nikmatilah perjalananmu menuju neraka!"
Whuuuus.
Kini bayangan hitam itu lenyap. Bersamaan dengan lengkingan nenek yang menertawaiku.
Aku tergeletak lemas. Seluruh ruangan sudah dipenuhi asap. Nyaris tak menyisakan oksigen.
Mungkin ini adalah saat-saat terakhirku. Aku pasrah. Kubiarkan api itu menjalar mendekat ke arah tubuhku.
Kupejamkan mata, berharap kematian ini akan membuatku menjadi tenang.
Namun, mendadak semburan air memenuhi ruangan ini, cipratannya bahkan terasa di kulitku. Suara bising dari alarm sirine pemadam memenuhi ruang pendengaranku.
Aku masih tergeletak. Meski masih dapat kudengar tim pemadam saling berteriak, bekerja sama memadamkan api yang terlanjur berkobar.
"Hai! Lihat, ternyata ada seorang wanita di sini!" seru salah seorang pria yang mengenakan helm kuning dan baju oranye.
Segera salah seorang pria yang berpakaian sama berlari ke arahku membawa alat bantu pernapasan di tangannya dan langsung meletakkan pada hidung dan mulutku.
Akhirnya dapat kurasakan oksigen masuk ke dalam kerongkonganku. Salah satu pria langsung menggendongku di atas punggungnya. Berlari secepat mungkin untuk menghindari kobaran api.
Riuh para warga menyorakiku. Hanya puluhan pemadam yang berusaha menghentikan aksi mereka yang nyaris ingin melempariku dengan batu dan pasir.
"Kenapa diselamatkan makhluk hantu itu?!"
__ADS_1
"Makhluk terkutuk! Harusnya dibiarkan mati aja!"
"Lihat tuh, tanda lingkaran merah aja masih ada di lehernya!"
Puluhan wanita dengan nada ketus menghardik ke arahku.
Setengah berlari pria ini menuju ambulance. Lalu meletakkanku di atas tandu yang tersedia.
"Ya, Allah! Perempuan ini masih hidup. Cepat buka ikatan rantai di tangan sama kakinya!"
Satu buah selang infus langsung dipasang di tanganku begitu rantai berhasil dilepas.
Nertaku mengerjap.
"Neng, sebenarnya apa yang terjadi?" Satu orang perawat wanita bertanya dengan raut sendu.
Samar kulihat wajahnya. Namun, aku masih tak mampu menjawab pertanyaan darinya.
Setelah alarm sirine dari pemadam mobil berhenti berbunyi, kini alarm sirine dari mobil polisi mulai memadati area ini.
Kukirik ke luar kaca ambulance. Tampak sosok babang ojek bersama Adrian hadir membawa pasukan kepolisian ke desa ini.
Bersambung ....
Maaf author lama baru update. Author juga sibuk update novel lainnya☺️🙏
__ADS_1