
Seketika si babang ojek menghentikan laju motornya. Lalu menoleh menatapku.
"Ada apa, Neng?" tanyanya.
Suara gema yang tadi membuatku panas itu menghilang, berganti dengan suara si babang yang menyapaku.
Aku terdiam. Bingung harus menjawab apa. Hanya mataku yang terus berkedip dengan mulut sedikit terbuka.
"Anu, Bang! Tadi Eneng lihat hantu di atas sana!" kilahku.
"Ohh, kalo gitu sepanjang jalan ini Eneng jangan lepas dari doa." Ia menyarankanku untuk berdoa. Aku mengangguk.
"Ya udah, kalo gitu, ikuti saya yaa! A'udzuubillahi minas syaithonir rojiim ....." Ia mulai melantunkan kalimat-kalimat itu lagi. Kembali dadaku sesak.
"Stop! Stop! Bang!"
Seketika si babang ojek menghentikan lantunannya.
"Kenapa lagi, Neng!"
"Kayaknya, mending Abang bacanya dalam hati aja deh!"
Kulihat rautnya berubah. Dahinya mengkerut, menatapku dengan tatapan aneh.
"Ya udah, saya lanjutkan perjalannya ya. Tanggung nih, bentar lagi kita nyampe!" tukasnya datar. Aku balas dengan mengangguk.
Ia kembali menstater kendaraan yang kami tumpangi. Kali ini tak lagi kudengar lantunan-lantunan yang tadi sempat membuat dadaku sesak.
Suara gerusuk yang sebelumnya sempat mengusik di sela rerumputan pinggir jalan kini tak kunjung terdengar. Pun dengan gelahak tawa dari para penghuni hutan ini, juga tak terdengar.
Lampu motor si babang ojek menjadi satu-satunya menerang di kegelapan.
Jalanan terlihat gelap. Hanya sekitar lima belas meter di depan kami yang tampak terang karena terkena bias dari cahaya lampu motor, sisanya hitam pekat.
"Eneng, rumahnya sebelah mana?" Suara si babang memecah keheningan di antara kami.
Rumah? Astaga! Aku bahkan belum sempat pindah ke kontrakan milik Bu Minah. Apa iya aku harus memberi alamat rumah itu saja! Toh kalo bukan ke sana, aku tak punya pilihan. Ah, sepertinya memang aku harus menunjuk ke sana saja.
__ADS_1
"Neng?"
"Ahh, iya, Bang!"
"Rumahnya di blok mana?"
"Lurus aja, Bang. Sampai kelihatan rumah dengan cat berwarna orange!" sahutku.
"Oke, Neng!"
Pelan si babang membawa laju motornya agar rumah yang kumaksud tak terlewat.
Beruntung kemarin aku sudah mendapat sedikit asupan saat mengicar mangsa di gubuk simbah sepuh. Kalau tidak, mungkin saja si babang ini sudah ludes jadi mangsaku malam ini!
Selang beberapa saat, rumah yang kumaksud pada si babang tadi sudah tampak dari jarak lima puluh meter.
Rumah beton bertingkat dua milik Bu Minah itu memang paling mudah dijadikan patokan pemberhentian.
"Rumahnya yang itu, Neng?" tunjuknya.
"Iya, Bang!"
Si tukang ojek ini berhenti tepat di depan rumah Bu Minah.
"Sudah sampai, Neng!"
"Hmm!"
Aku turun. Tak banyak bicara, hanya menyerahkan tiga lembar uang kertas berwarna merah sebagai imbalan double yang tadi aku janjikan.
"Makasih ya, Neng! Saya balik dulu!"
"Iya, hati-hati, Bang!" tukasnya.
"Sama-sama, Neng! Oh iya, saya boleh tanya satu hal gak?"
"Boleh! Tanya apa?"
__ADS_1
"Itu lehernya, kenapa ada warna merah melingkar!"
Glek!
Gawat! Apa mungkin tukang ojek ini mengetahui identitasku?
"I-ini ...."
"Cepat insaf ya, Neng!" ungkapnya. Membuat mataku nyaris terbelalak.
Insaf? Apa maksudnya?
"Maksudnya, Bang?" tanyaku memastikan bahwa mungkin saja dugaanku salah. Mungkin saja hanya firasatku yang kebetulan mengarah ke identirasku.
"Saya cuma menduga, kalau Eneng ini sedang frustasi!"
"Terus??"
"Yaa .. mungkin aja Eneng mencoba gantung diri!"
Ohh, ternyata dia mengira, lingkaran merah ini adalah hasil percobaan bunuh diri. Itu artinya, dia tak mencurigai identitasku.
Aku diam tak menjawab.
"Bener gak, Neng?" tanyanya memastikan.
Sialan! Kepo banget sih orang ini!
"Bukan kok, Bang!"
"Jadi apa, dong? Apa mungkin Eneng kuyang?? Makhluk yang sering diceritakan warga itu!"
Deg!
"Apaa??"
Apa yang dia katakan. Kulihat wajahnya menatapku tanpa rasa takut.
__ADS_1
Siapa dia? Baru kali ini aku bertemu pria yang mungkin sejak awal mengantar sudah mengetahui identitasku, tapi tak ada sedikit pun rasa takut.