
Sarang Goblin
Olav melompat masuk ke dalam lubang dan semua perempuan sudah menggunakan pakaian termasuk salah satu wanita yang sedang berusaha mengeluarkan goblin dari ************ nya.
"Ini mudah." Ucap Olav memberikan potion pada wanita tersebut.
"Terima kasih." Ucap nya.
"Tidak perlu, kau harus segera meminum nya karena." Olav mengekuarkan pistol nya.
"Tuan muda?" Terkejut Erica.
Dor!
Kepala goblin yang muncul di ************ nya langsung tembus oleh peluru.
"Keluar kau!" Olav tanpa memperdulikan si ibu langsung menarik kepala bayi goblin keluar.
"Aaakh!" Wanita tersebut berteriak keras karena Olav secara paksa menarik nya.
"Nn aku suka teriakan itu." Mengangguk Olav melap tangan nya menggunakan pakaian wanita yang ia buat berteriak.
"Apa tuan muda masih berusia sebelas tahun? Tidak berperasaan." Bertanya Erica memegangi ******** nya karena seakan merasakan bagaimana sakit yang di alami wanita di depan nya itu.
"Apa ini yang terkahir?" Bertanya Olav saat melihat yang lain nya sudah tidak memiliki perut buncit.
"Iya tuan muda, ini yang terakhir." Ucap Erica.
"Kalau begitu beri mereka makan lalu saat mereka sudah bisa berjalan kita akan kembali ke kota." Ucap Olav menghampiri perempuan yang ia tolong tadi kini terduduk dengan menutup seluruh tubuh nya menggunakan jubah yang Olav berikan.
"Hey-" baru saja Olav ingin menyapa nya dan bertingkah layak nya pahlawan namun Erica mengacaukan nya.
"Tuan muda." Panggil Erica.
"Ada apa Erica?" Olav berbalik kemudian bertanya.
"Saya hanya memiliki ini." Ucap Erica memperlihatkan sepotong roti beserta botol air yang dari suara nya hanya tersisa setengah.
"Seharus nya kau membawa makanan lebih untuk kondisi darurat seperti ini, berapa kali aku memberi tahumu hal itu." Ucap Olav mengeluarkan beberapa roti kering dan botol air dari Invertory nya.
"Maaf tuan, saya tidak menduga hal ini akan terjadi." Ucap Erica.
"Mulai sekarang kau harus lebih Ready Perfectly." Ucap Olav kembali memperhatikan wanita yang tadi ia selamatkan.
"Baik tuan muda." Jawab Erica.
"Hay bagaimana keadaan mu?" Bertanya Olav memberikan roti dan sebotol minuman.
__ADS_1
"Terima kasih." Cepat tangan perempuan tersebut mengambil roti dan botol air Olav sebelum kembali menutup diri nya.
"Apa masih ada yang sakit?" Bertanya Olav.
"Twerwima kawsih." Ucap nya berterima kasih lagi dalam keadaan mulut terisi penuh.
"Baik lah aku ubah pertanyaan ku, siapa nama mu?" Bertanya Olav.
"Jangan mendekat!" Teriak nya tiba tiba.
'Apa dia masih trauma dengan serangan goblin?' Batin Olav. "Tenang saja sekarang sudah aman." Ucap Olav.
"Tidak, kau adalah manusia yang lebih buruk dari goblin." Ucap nya.
"Ha?" Olav tiba tiba mematung karena di anggap lebih rendah dari makhluk hijau menjijikkan mesum lagi.
"Kau membuka segel yang aku buat bahkan goblin saja tidak akan membuka nya." Ucap nya.
'Tidak tidak, goblin ingin membuka nya tapi tidak bisa.' Batin Olav.
"Dasar mesum." Ucap nya lagi.
'Apa kau tidak bisa melihat bahwa aku hanya bocah polos yang kebetulan menolong wanita cantik?' Batin Olav.
"Aku tidak akan bisa menikah." Ucap nya lagi.
"Kalau itu tenang saja aku akan menikahi mu." Ucap Olav bermaksud menghibur.
"A-ya.. Nn." Ucap Olav hanya bisa mengiyakan dari pada di panggil monster mesum. 'Lagian segel apa itu, menyeramkan banget sampai masuk ke itu nya, ini mirip item yang di jual di shope online di bumi, item perlindungan diri khusus wanita." Ucap Olav.
"Berarti sekarang sudah tidak ada masalah, kau harus bertanggung jawab baik baik karena telah melihat tubuh ku bocah." Ucap wanita tersebut membuka penutup kepala nya dan tiba tiba menjadi dingin.
Rambut merah yang seakan menyala seperti api, mata tajam yang seakan dapat melihat hingga menembus hati dengan sifat yang dingin sungguh sosok wanita yang terlihat kuat nan tangguh.
"Aku menyukai nya." Ucap Olav.
"Apwa ywang kwau lwihat?" Bertanya wanita tersebut saat mulut nya terdapat roti.
"Siapa nama mu?" Bertanya Olav.
"Hestica." Jawab nya.
"Mirip." Gumam Olav karena nama tersebut mirip dengan nama dewi api di salah satu kisah legenda di bumi.
"Apa?" Tanya Hestia.
"Usia?" Bertanya Olav.
__ADS_1
"Lima belas." Jawab Hestia.
'Jika aku yang dulu sudah pasti tidak akan tertarik dengan gadis SMA seperti nya tapi saat ini berbeda, aku tidak akan mau menikahi perempuan usia tiga puluh seperti usia ku sebelum meninggal.' Batin Olav memperhatikan wajah wanita di depan nya.
"Apa ada sesuatu di wajah ku?" Bertanya Hestia.
"Tidak ada hanya saja kau terlalu cantik." Ucap Olav memuji dengan sungguh sungguh.
"Aku tidak akan terpesona oleh pujian anak kecil seperti mu." Ucap Hestia sebelum meneguk habis air minum nya.
"Kau bisa berjalan?" Bertanya Olav.
"Kurasa." Ucap nya mulai berdiri.
"Bagaimana dengan mereka?" Bertanya Olav pada Erica.
"Sudah lumayan tapi.." Jawab Erica.
Ada lima orang perempuan yang Erica selamatkan namun mental mereka belum juga pulih dan mereka seakan kehilangan semangat untuk hidup.
"Mental mereka kah." Gumam Olav. "Untuk sekarang paksa mereka berjalan sampai kota saja berikut nya serahkan pada gereja maka selesia urusan kita." Ucap Olav yang sebenar nya sebelum nya berniat untuk meninggalkan mereka namun ia tidak ingin Erica mencontoh sifat lama nya.
"Kalian bisa berjalan?" Bertanya Erica.
Hanya di balas anggukan saja dengan suara super kecil, Erica kemudian mulai membantu satu persatu untuk menaiki lubang yang tinggi nya hampir mencapai dua meter tersebut.
"Kau bisa naik?" Bertanya Olav pada Hestia.
"Aku akan meminta wanita itu membantu ku." Ucap Hestia tentu tidak dapat naik sendiri karena meminta bantuan Erica.
"Aku sendiri bisa membantu mu." Ucap Olav langsung menggendong Hestia dan melompat keluar dari lubang.
"Hmm.. kaki mu ternyata sangat kuat." Puji Hestia turun dari gendongan Olav.
"Begitu lah." Olav memiliki kepercayaan diri pada tubuh nya yang sudah ia tempa selama satu tahun.
"Sudah tidak ada yang tersisa di bawa tuan." Ucap Erica setelah memasukkan senjata milik Captain Goblin ke penyimpanan nya.
"Kita pulang." Ucap Olav memasang pengedap suarapada pistol nya agar tidak membuat yang lain terkejut saat ia harus menembak monster atau sekedar babi liar.
Mereka kemudian mulai berjalan menuju kota meskipun sedikit merasa lemah dan membuat perjalanan mereka melambat namun para wanita tetap menahan nya karena Olav tidak ada niat untuk berhenti sama sekali.
Saat tiba di gerbang kota, Erica langsung memberitahu perajurit dan melaporkan apa yang terjadi.
"Kami akan mengurus mereka, terima kasih karena telah melaporkan hal ini." Ucap perajurit penjaga gerbang.
"Oke." Ucap Olav.
__ADS_1
Para wanita pun mulai di bawa naik ke kereta untuk di bawa ke gereja termasuk juga Hestia yang berjalan untuk naik ke kereta sebelum Olav menghentikan nya.
"Kau mau kemana?" Bertanya Olav menarik tangan Hestia.