
Toko Gilbert
"Hahaha! Mulai sekaran nama ku sebagai pembunuh terhebat akan kembali bangkit!" Teriak Olav tiba tiba.
Namun itu mengejutkan Gilbert dan Erica karena selama hampir satu bulan ini Olav sangat sulit untuk di ajak bicara karena fokus pada peroyek nya, terlebih ia langsung menghayal menjadi pembunuh terhebat hampir mirip dengan kesurupan setan.
"Ada apa tuan muda?" Bertanya Erica.
"Kau kenapa Olav, kau hampir mirip seperri orang yang kesurupan roh." Ucap Gilbert.
"Lihat! Lihat! Dan buka mata kalian!" Ucap Olav menaruh dua karya nya di atas meja.
Pertama adalah pistol jenis SG namun belum sempurna karena selain tidak memiliki peluru pistol ini juga tidak memiliki per pemicu, yang kedua adalah senapan tipe sniper yang per pemicu nya menggunakan kawat elastis untuk memicu peluru.
"Apa ini?" Bertanya Erica.
"Ini senjata mu? Ini lebih kirip tongkat pemukul." Ucap Gilbert.
"Ah iya aku perlu membuat peluru nya." Ucap Olav teringat dan kembali bekerja.
'Ah dia kembali fokus bekerja.' Batin Gilbert sedikit merasa terhibur akan tingkah bocah pekerja keras itu.
Olav mulai menggiling sesuatu, Olav tidak membuat bubuk mesiu karena selain repot Olav juga tidak terlalu paham jadi Olav berusaha mencari material lain untuk menggantikan nya dan akhir nya ia berhasil menemukan nya di pasar.
Batu peledak yang sering di gunakan warga untuk membuat api fungsi nya hampir mirip dengan bubuk mesiu namun wujud nya berbeda juga memiliki efek yang lebih rendah dari bubuk mesiu tapi Olav sudah punya cara untuk mengatasi hal tersebut.
Olav mulai menggiling batu peledak untuk menghaluskan nya demi mendapatkan bubuk yang lebih baik menggunakan besi bulat khusus yang ia buat, batu ini selain dapat memicu api dengan mudah wujud nya juga sangat mudah untuk hancur.
"Giling dengan hati hati atau kau akan meledak." Ucap Olav terus mengulangi perkataan nya dengan fokus tertinggi.
"Itu batu peledak! Kau ingin mati kah bocah!?" Ucap Gilbert baru menyadari bahwa batu yang Olav haluskan adalah batu peledak.
"Jangan mengganggu ku pak tua." Ucap Olav dalam kondisi fokus yang sangat tinggi.
"Itu memang mungkin tidak akan membunuh mu tapi itu bisa melukai mu loh, kalau mau menghaluskan nya setidak nya gunakan armor dulu." Ucap Gilbert.
"Benar juga, keselamatan adalah hal yang utama." Ucap Olav menghentikan pekerjaan nya laku berjalan untuk mengambil armor.
Setelah mengenakan nya ia kembali menghaluskan batu peledak hingga sebanyak seratus liter jika ingin di takar.
"Untung tidak terjadi apa apa." Ucap Olav yang wajah nya penuh keringat.
__ADS_1
Olav kemudian melepaskan armor nya dan mengambil beberapa peluruh kosong, dengan sangat hati hati Olav mengisi peluru dengan bubuk yang sudah ia haluskan secara perlahan sebelum menyusun peluruh dan menutup nya.
Ting! Ting!
"Satu peluru selesai." Ucap Olav kemudian mengambil peluruh lain lalu mengisi nya.
Setelah lima peluruh siap Olav kemudian mengumpulkan nya dan siap memberikan sentuhan terakhir.
"Saat nya sentuhan terakhir untuk membuat bubuk peledak ini setara dengan bubuk mesiu." Ucap Olav mengarahkan telapak mya pada para peluru nya.
"Enhance." Ucap Olav menggunakan skill yang baru saja ia dapatkan.
[Skill - Enhance
Memberikan 50% peningkatan pada senjata yang di buat.]
"Senapan ini juga, Enhance." Olav jugamen garahkan nya pada sniper nya.
"Aku tidak tau kau punya skill dewa seperti itu." Ucap Gilbert kagum.
"Puji lah aku." Ucap Olav memasang satu peluru dan mengantongi yang lain nya.
"Kemana tuan muda pergi?" Bertanya Erica.
Gilbert dan Erica mengikuti nya hingga tiba di halaman belakang.
"Arah mana yang bagus." Ucap Olav tidak boleh sembarang melepaskan peluru karena sedang berada di tengah kota.
"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan dengan tongkat itu bocah?" Bertanya Gilbert.
"Hm ketemu." Ucap Olav melihat cerobong asap toko Gilbert yang bagus untuk di jadikan sasaran.
Olav tanpa menjawab pertanyaan Gilbert ia langsung memasang kuda kuda bertahan untuk menahan counter attack dari sniper nya.
"Terpesona lah pak tua." Ucap Olav memasukkan jari nya pada pemicu sebelum menarik nya saat ia yakin sudah tepat pada sasaran.
Dor!
Bruk!
Sebuah suara ledakan yang sangat besar terjadi bersamaan dengan tubuh kecil Olav yang terlempar kebelakang.
__ADS_1
"Ukh! Bagaimana!?" Olav bertnya melihat hasil tembakan nya meskipun mulut nya sudah mengeluarkan darah.
"Tuan muda! Apa tuan muda baik baik saja!?" Bertanya Erica mengeluarkan sapu tangan nya dan melap mulut Olav yang mengekuarkan darah.
"Tendangan nya setara dengan sniper Tank Destroyer." Ucap Olav.
"Ini adalah senjata mekanik terbaik." Ucap Gilbert terpesona meskipun seluruh cerobong asap nya hancur namun senyuman nya tidak bisa berhenti.
"Uh hahaha, tulang rusuk ku patah." Ucap Olav berusaha berdiri di bantu oleh Erica.
"Benar benar kekuatan penghancur yang luar biasa tuan muda." Ucap Erica setelah melihat hasil nya.
"Tapi ini sudah tidak bisa di gunakan lagi, pemicu peluru nya rusak." Ucap Olav.
Dalam satu hentakan tadi langsung merusak kawat elastis yang berfungsi sebagai per.
"Ini adalah senjata yang lebih berbahaya dari senjata sihir, kau harus menyembunyikan cetak biru nya." Ucap Gilbert.
"Lagian sejak awal aku tidak punya cetak biru nya pak tua." Ucap Olav.
"Kau memikirkan nya sendiri? Amu tahu kau memang jenius Olav!" Ucap Gilbert merasa bangga pada murid nya.
'Tidak aku hanya mencopy nya.' Batin Olav.
"Ini masih perlu perbaikan, selanjut nya aku harus membuat per asli dan mengurangi jumlah bubuk peledak nya." Ucap Olav bersiap melanjutkan pekerjaan.
"Tulang rusuk ruan musa patah kami akan kembali." Ucap Erica langsung menghentikan Olav untuk bekerja dan langsung memapah nya pergi.
"Oke, untuk sementara aku juga harus memperbaiki cerobong asap ku." Ucap Gilbert.
"Oi tunggu, ini bukan apa apa, aku harus segera menyelesaikan nya." Ucap Olav di mana darah kembali mengalir dari mulut nya sekarang bahkan lewat hidung nya.
"Sudah lah, tuan muda harus tau kapan waktu nya beristirahat dan kapan waktu nya bekerja, tuan muda harus melihat batas tuan muda." Ucap Erica meskipun sedikit membenci Olav namun tentu ia tetap khawatir pada bocah yang terluka ini.
"..." Olav tidak lagi bersuara.
"Tuan muda?" Terkejut Erica saat langkah kaki Olav berhenti. "Nah kan pingsan, aku berada pada titik terburuk." Erica tanpa pikir panjang langsung menggendong Olav di punggung nya dan membawa nya ke manison, tentu Erica tetap menjaga bagian tulang rusuk Olav yang patah.
Setelah sampai di mansion, Erica langsung mengistirahatkan Olav di kamar nya sebelum memberikan pertolongan pertama untuk patah tulang, Erica mulai merawat Olav hingga Olav bangun.
...----------------...
__ADS_1
(TL note : jangan berharap bisa mendapatkan cara membuat bubuk mesiu di novel ini, kalau mau silahkan cari di situs web ilegal atau anime Dr. Stone.
Jika untuk pertanyaan "Kenapa author tau banyak soal dunia pandai besi?" Maka author akan jawab begini. "Dulu sebelum meninggal kakek Author adalah seorang pandai besi jadi author kadang liatin kakek author bekerja meskipun saat itu author masih bocah dan tidak terlalu paham apa yang di lakukan nya." Sekian.)